KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID) –Kordinator Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Abdul Qohhar, mengatakan, reaktor nuklir bisa untuk berbagai kepentingan. Dia mengatakan hal itu pada sosialisasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), di Balkondes Wanurejo, Borobudur, hari ini Sabtu (6 Agustus 2022).

Disebutkan, beberapa buah dan sayur sebenarnya mengeluarkan energi nuklir. Tanpa kita sadari setiap hari kita berhubungan dengan nuklir. Batu yang kita injak juga mengeluarkan tenaga nuklir. “Semoga tidak ada anggapan nuklir sesutu yang menakutkan,” katanya.

Ada satu jenis yang bukan dari alam yang dibuat manusia. Termasuk sesutu yang bisa dinyalakan dengan nuklir.

Zat radioaktif bisa untuk kepentingan tubuh kita. Kedokteran yang memanfaatkan nuklir antara lain rontgen. Juga untuk bidang industri salah satunya pabrik kertas. Untuk membuat agar ketebalannya sama.

Untuk mengukur kekenyalan rokok juga menggunakan reaktor nuklir. Satu bungkus mereknya sama ukurannya sama. Itu nuklir yang digunakan.

Perminyakan juga memanfaatkan.
Pengawetan pangan juga menggunakannya. Misalnya makanan normalnya hanya tahan beberapa hari. Selama 3-4 hari di kulkas bisa tahan. Tanpa kulkas maksimal dua hari.

“Percayakah rendang daging yang satu setengah tahun masih bisa dimakan. Saya salah satu orang yang pernah merasakan rendang usia satu setengah tahun. Ternyata saya tetap sehat,” jelasnya.

Juga untuk pengembangan bibit unggul. Di Kabupaten Batang dikembangkan 33 jenis padi unggul.
Ada yang tahan hama, dan tahan kurang air. Di Klaten ada untuk pengembangan padi Raja Lele.

Reaktor nuklir sekarang sudah ada di Indonesia hanya untuk penelitian. Di Bandung ada sejak tahun 1965, di Yogyakarta dibangun tahun 1979 dan paling muda tahun 1986. “Ketiganya masih selamat,” tandasnya.

Batan tugasnya mempromosikan, sedangkan Bapeten
melakukan pengawasan pemanfaatan nuklir. Yakni membuat peraturan. Bagaimana petugasnya, ruangan, peralatan. Lalu tentang perizinan. Jangan sampai di salah satu tempat pihaknya tidak tahu.

Tugas lainnya melakukan inspeksi. Harus memastikan kebenarannya, izinnya, dan alatnya.
Diharapkan bisa dimanfaatkan, aman selamat, tidak membahayakan.

Kehadirannya diharap bisa merubah pemikiran bahwa nuklir itu negatif.
Harus tahu bagaimana dimanfatkan. Dia minta bantuan untuk sama-sama melakukan pengawasan.

Caranya yang mudah adalah masuk ke klinik radiologi dan bertanya punya izin Bapeten apa tidak. Kalau belum punya izin pindah ke klinik lain. “Kalau belum punya izin bisa kena risiko yang merugikan,” tandasnya.

Eko Priyono