GEMUK - Brigadir Rachmad Aji Saputra bersama sapinya yang gemuk. (foto: istimewa)

TEGAL (SUARABARU.ID) – Dua Anggota Polres Tegal Kota, Aipda Sudarmono alias Buyung yang kesehariannya bertugas di Polsek Sumurpanggang dan Brigadir Rachmad Aji Saputra di kesatuan IPP Polres Tegal Kota ternyata telah berhasil mengembangkan peternakan sapi.

Tugas di Polri sebagai kewajiban, namun dengan kiat membagi waktu dua anggota Polres tersebut bisa berjalan seiring beternak sapi dengan sukses. Meski kasus Penyakit, Mulut dan Kuku (PMK) tengah merebak namun, menjelang Idul Adha dua anggota Polres Tegal tersebut tetap kebanjiran orderan.

Seperti yang disampaikan Sudarmono alias Buyung menggeluti ternak sapi sudah berjalan 3 tahun. Buyung menjamin sapi yang mereka jual bebas dari penyakit, mulut dan kuku. Bahkan Buyung memberikan garansi hewan ternaknya terbebas dari berbagai jenis penyakit maupun wabah PMK yang tengah merebak.

“Kami pastikan hewan kurban di sini terpantau kesehatannya. Baik dari kebersihan kandang, pemberian pakan hingga perawatan rutin dengan dokter hewan,” kata Buyung Minggu (03/07/2022).

Buyung menyediakan sapi jenis simetal limosin dan lokal (PO), mulai harga Rp 20 juta hingga Rp 75 juta. Sapi tersebut, didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Wonogiri. Kini sapi Buyung sudah laku 32 ekor dan sisa 18 ekor.

“Pembelian sapi kurban bisa langsung mendatangi peternakan yang berada di Jalan Kaligung Perpil, Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, tepatnya sebelah timur Sungai Ketiwon,” ungkap Buyung.

SAPI – Anggota Polres Tegal Aipda Sudarmono alias Buyung memperlihatkan ternak sapinya. (foto: istimewa)

Sementara Brigadir Rachmad Aji Saputra ternak sapi ditekuni sejak Tahun 2019 di tanah kelahirannya Pati dengan awal ternak 10 ekor. Selanjutnya Tahun 2020 sebanyak 45 ekor, Tahun 2021 ada 75 ekor dan Tahun 2022 ini agak menurun akibat PMK hanya 41 ekor.

“Sementara kita ternak sapi di Pati. Sedangkan kandang ada di Desa Kebandingan, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal,” ungkap Rachmad yang beristri dr Shinta Anggun Brilliani.

Meski beda profesi dengan sang istri sebagai dokter di Pati, dengan beternak sapi Rahmad mengaku mendapat dukungan dari istri. Rachmad menyebutkan, sapi miliknya terkecil berat 3 kwintal dengan harga Rp 21 juta. Sedangkan yang agak besar berat 6 kwintal dipatok harga Rp 35 juta.

“Sampai hari ini sapi sudah terjual 61 ekor. Kita mau nambah mendatangkan dari Pati terkendala PKM. Ya Alhamdulillah kita syukuri saja,” pungkas Rachmad.

Sutrisno