blank
Ilustrasi/Kompasiana.com

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

blank
JC Tukiman Tarunasayoga

Catatan awal, awas LLBT ini jangan diplesetkan apalagi diplintir sebagai bagian dari fenomena kehidupan sebagian anak manusia yang berbendera pelangi itu. Bukan! LLBT ini  sekedar sebuah singkatan asal-asalan karena boleh saja Anda ubah menjadi BTLL, atau TLLB, bisa juga LBTL dan lainnya, sumangga kersa, terserah Anda.

Intinya, LLBT ini sekedar meringkas sikap yang substansiial dan bukti-bukti orang jujur, yaitu orang itu pasti bersikap dan berperilaku lempeng, lurus, burus, lan temen.

Baca Juga: Mencermati Orang dengan ‘Pekerjaan Utama’ Ngiwi-iwi, Ngewak-ewakake, dan Umuk-umukan

Pertanyaannya,  tentu apakah di zaman sekarang ini masih gampang ditemukan/ditemui  orang LLBT itu? Jawabannya, mari kita cari bersama, lha wong tanda dan buktinya jelas kok.

Lempeng, lurus, burus, lan temen sebenarnya kata-kata yang berpadanan arti dan maknanya; memang ada satu dua yang berarti menyangatkan atau menegaskan.

Lempeng contohnya, bacalah seperti Anda mengatakan makan lemper, mengandung makna lenceng (bacalah sama dengan lempeng) yaitu bagaikan seseorang berjalan, ia menempuhnya sesuai tujuan, “ngener ing …”

Lurus tanpa tergoda untuk belok kanan atau pun kiri, bahkan tergoda untuk menoleh pun tidak. Itulah tanda dan bukti orang jujur, yakni orang yang lempeng, ngener ing tujuan. Nah .. dalam kehidupan sehari-hari, masih ada kan (bahkan banyak) kita jumpai orang seperti itu, entah ia pejabat, entah pula orang kebanyakan.

Seperti itulah orang lurus, yaitu orang yang lenceng sarta alus, ibarat sebatang pohon yang tegak berdiri lurus dan halus tanpa ada benjolan sekecil pun. Orang lurus adalah dia/mereka sing/kang ora jahil, alus ora nakali kancane,tidak berbuat jelek atau curang terhadap sesamanya.

Dengan kata lain, orang seperti itu disebut burus.  Seperti contoh pohon tadi, kayunya bukan hanya halus, ananging uga tanpa soca. Dalam percakapan sehari-hari, soca itu artinya mata, dan untuk sebatang kayu, soca itu semacam noktah hitam-hitam berupa cacat yang ketika nanti kayu itu dihaluskan, kemungkinan soca semacam itu akan menjadikan kurang mulus.

Burus juga bermakna temen lan becik bebudene, orang itu disebut/dikenal baik sebagai  pribadi maupun ditunjukkan dalam sikapnya. Temen bermakna paling tegas dan jelas dalam kaitannya dengan jujur atau kejujuran, karena seseorang disebut temen apabila ia:

(a) ora dhemen colong jupuk, tidak suka mencuri atau mengambil barang orang lain, (b) nyata ora goroh, benar-benar terbukti ia tidak pernah bohong, dan (c) kanthi terusing ati, dengan sepenuh hati.

Masih Banyak Orang Jujur

Kembali ke pertanyaan awal, masih adakah (banyakkah?) orang-orang LLBT saat ini? Kita lihat saja makna a, b, dan c tentang temen di atas ini. Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita masih bisa melihat secara kasat mata betapa masih banyak orang (pejabat?) tergolong ora dhemen colong jupuk, nyata ora goroh, lan kanthi terusing ati sasolah bawane.

itulah bukti nyata bahwa masih banyak orang jujur di negeri ini. Masih ragu-ragukah dikau? Jangan! Masih banyak orang jujur, apalagi yang tidak jujur dewasa ini semakin dikuntit terus oleh KPK.

Baca Juga: Naga Dina, Apes, Lalu Nglemprak: Mimpi Buruk Apa Ya?

Langkah atau sikap terbaik yang perlu dilakukan warga masyarakat dan siapa pun, tentulah mari kita suburkan LLBT dengan cara meningkatkan kontrol sosial. Semakin giat, ketat, dan rapat barisan masyarakat yang melakukan kontrol sosial, LLBT pasti akan semakin subur dan mereka yang ingin tidak jujur semakin ciut nyalinya.

Mampukah masyarakat semakin giat, ketat dan rapat? Percayalah kita mampu, karena mendukung hal-hal baik pasti kita akan lebih berenergi, mengingat akan selalu ada “pertolongan yang lain” yang datangnya dari Sang Khalik sendiri. Niat baik selalu dalam berkat-Nya.

(Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang  dan UNS)