blank
Dr. M Rikza Chamami tengah memberikan tausiah dalam kegiatan halalbihalal PWI Jateng. Foto: Ning Suparningsih

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah menggelar halalbihalal yang berlangsung di Gedung PWI Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022).

Kegiatan yang bertema ‘Halalbihalal dalam Tinjauan Pembangunan Karakter Berbangsa dan Bernegara’ diikuti
oleh para wartawan senior, Ibu-ibu Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jateng yang diketuai Umi Amir Machmud, para pengurus PWI Jateng dan anggota.

Pada kegiatan halalbihalal yang bekerja sama dengan PT. Semen Gresik ini diisi tausiah oleh Dr. M Rikza Chamami, M.Si, dan pembacaan doa oleh Kyai H. Darodji.

Ketua PWI Jawa Tengah, Amir Machmud NS menyampaikan, kegiatan halalbihalal ini sebagai ajang konsolidasi hati.

“Halalbihalal ini bisa kita jadikan sebagai ajang berkumpulnya para senior, bercengkerama dan saling sharing,” ungkap Amir.

“Saya selaku pribadi dan bagian dari elemen pengurus orang media mengucapkan terimakasih atas dukungan dari rekan-rekan kepada PWI Jawa Tengah. Apabila selama ini ada interaksi yang kurang berkenan mohon dimaafkan,” tuturnya.

Sementara dalam tausiyahnya, Dr. M Rikza Chamami menyampaikan, halalbihalal wartawan itu bagaikan 5W+1H. Apabila dosa-dosa kita diprint, akan kelihatan semua. Untuk itu kita harus melakukan aktifitas kita sesuai aturan.

Menurutnya, jika kita berbuat kesalahan dengan Gusti Allah, kita harus cepat-cepat mengucap Astaghfirullah. Karena itu urusan kita dengan Allah.

“Ini bedanya Parpol dengan Alquran. Kalau Parpol mempunyai semboyan ‘ojo kesusu’, tapi jika Alquran ‘bergegaslah’, untuk urusan dengan Allah harus cepat.
Urusan sama Allah harus cepat, dan jika punya salah harus taubat,” tandasnya.

Contoh urusan kita dengan Allah adalah ketika kita mengerjakan, sholat, puasa, bayar zakat dan lainnya.

Begitupun untuk urusan antara manusia dengan manusia, harus kita selesaikan segera. Dan halalbihalal ini termasuk urusan dengan manusia, dimana ada 3 point penting, yakni maaf-maafan lahir batin, makan-makan, dan pulang jadi baik.

“Di rumah saja ada dosa antara suami dan istri. Dan solusinya harus saling meminta maaf lahir dan batin,” ucapnya.

Kita hidup di Indonesia, kadang ingin belajar agama, namun masih setengah-setengah. “Hari ini masih banyak orang- orang yang mengaku sebagai ustadz. Dia juga berdakwah. Akan tetapi sumbernya hanya mengambil dari youtube,” kata Chamami.

“Ini bahaya. Ngaji agama kok tidak ada gurunya, berarti gurunya setan,” tukasnya.

“Lebih baik jadi mantan preman daripada menjadi mantan ustadz,” tandasnya.

Ning Suparningsih