blank
Ilustrasi. Foto: Ist

Keterbukaan itu pada sisi lain juga ada dampak positifnya. Rumah saya didatangi para “jawara” dan mengajak barter teknik dan keilmuan yang bersifat metafisik.

Saya merasa berada di pihak yang beruntung. Ibarat saya yang semula hanya punya tiga pengetahuan, begitu ada pembaca yang datang, ilmu saya bertambah.

Baca juga Cara Mudah Menangkal Santet

Ketika rubrik saya kemudian menjadi buku, saya yang awalnya hanya dikenal publik Jawa Tengah dan Yogyakarta, jalinan silaturahmi pun bertambah. Saya sering kedatangan tamu dari luar Jawa, bahkan luar negeri.

Mereka yang datang itu pada umumnya sosok yang memiliki skill beladiri, metafisik dan terapi. Hanya sebagian kecil yang dari kalangan awam. Kami saling berbagi seputar teknik beladiri dan metafisis.

Dibanding mereka yang datang, saya berada pada posisi yang lebih beruntung. Karena duduk manis di rumah, guru atau narasumber datang sendiri. Tuhan menggerakkan alam, ketika kita mampu me-manage silaturahmi dengan baik dan terbuka.

Ketika para terapis dan jawara itu sering mengajak barter, saya yang semula hanya punya tiga pengetahuan, ketika datang satu tamu, minimal satu ilmu saya dapatkan. Lain waktu ada yang datang lagi, ilmu saya pun bertambah.

Bawa Rezeki  

Menurut “unen-unen” Jawa, tamu itu membawa rezeki. Dan bentuk rezeki itu tidak selalu dalam bentuk uang. Karena mereka yang datang itu kebanyakan pelaku metafisika yang jam terbangnya lebih tinggi dibanding yang didatangi.

Di antara mereka adalah sesepuh dari berbagai disiplin ilmu. Para tamu selain senang diajak saling berbagi ilmu, ada juga yang senang  berbagi kisah-kisah unik dan lucu. Dan itu kemudian mengilhami isi buku-buku yang saya tulis.

Menurut para sesepuh, ada empat cara  menjemput rezeki. Pertama, dengan meminta-minta, namun itu menempatkan manusia dalam kehinaan.

Cara kedua dengan menunggu rezeki, yaitu para pedagang. Mereka menyediakan barang untuk kebutuhan orang lain agar dibeli. Selain dalam bentuk barang, bisa juga dalam bentuk jasa. Mereka menunggu dagangannya dibeli atau jasanya diperlukan orang lain.

Ada yang mencari rezeki dengan “jual tenaga” yaitu para tukang, petani, karyawan kantor. Mereka menguras tenaga, waktu dan pikiran, entah itu dalam pada usaha sendiri atau bergabung dengan  orang lain.

Ada juga yang “bekerja” tanpa meminta atau menunggu dan memeras tenaga, namun langsung mengambil jatah dari Tuhan, yaitu mereka yang sudah tidak lagi memburu rezeki karena sudah “manunggal” dalam kebersamaan dengan-Nya.

Mereka adalah manusia yang sudah berkhidmah kepada Tuhan, sehingga dianugerahi tugas di bidang kemanusiaan. Jika dikaitan kelas spiritual yang didapat melalui proses mengolah diri yang menyebabkan seseorang naik kelas.

Misalnya, Ayahnya dulu “abdi dalem” bagian mengurus lampu penerangan, anaknya menjadi pejabat di PLN. Atau, simbahnya dukun suwuk (dukun yang biasa mengobati orang), anaknya jadi dokter, cucunya dokter spesialis.

Konsep “nipak labet” sering terjadi secara alamiah, dan ini termasuk cara terbaik karena sejak usia dini anak  sudah terlibat dengan usaha orang tuanya, dan itu membuat mereka akrab dengan dunia yang digeluti orang tuanya.

Ayah saya dulu Sekretaris Desa merangkap PJs. Kepala Desa. Sejak MI/SD – SLTP saya sudah lancar mengetik karena sering membantu pekerjaan ayah. Lingkungan dan kebiasaan adalah takdir kapindho atau kedua.

Masruri, penulis buku, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati