Ilustrasi covid-19

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

JC Tukiman Tarunasayoga

Covid-19 semakin merebak tak terbendung dan tak dapat diprediksi, bahkan kalau berbicara tentang orang meninggal karena Covid-19, sebuah harian nasional pada Sabtu, 24 Juli kemarin, menyebutkan bahwa saat ini setiap menit (baca setiap menit) telah terjadi satu orang meninggal.

Sekali lagi, setiap satu menit, satu orang meninggal karena Covid-19. Menyedihkan sekali, dan tambah sedihnya lagi, saat ini banyak orang merasa “wis ora bisa obah maneh” sudah tidak mampu berbuat banyak lagi untuk menolong dan sebagainya.

Seolah-olah telah sampai waktunya (namun berharap segera berakhir), “biarlah orang mati menguburkan orang meninggal.”

Di tengah kondisi “kadya gabah den interi” seperti gabah sedang ditampi ini, ada postingan menggelitik: SEMUA AKAN MUMET PADA WAKTUNYA.

Ya betul, semakin banyak orang pusing, bingung, dan terus bertanya meski juga tidak kendor upayanya untuk melawan Covid-19.

Siapa saja mumet, pusing karena memang Covid-19 menjadi sangat liar dan unpredictable, tidak dapat diperkirakan, sulit diperhitungkan, sangat liar untuk diakali, dan sebagainya, dan seterusnya. Kabeh mumet!!

Meski pun situasinya seolah-olah menuju ke jalan buntu, atau sekurang-kurangnya ke arah yang tidak pasti , marilah jangan terlalu khawatir amat.

Saya melihat ada satu celah yang bersama-sama dapat kita kembangkan justru di tengah kondisi seperti ini, yakni tepung sungut.

Bagaikan lebah atau insek yang lain, kita manusia ini duwe sungut, memiliki radar yang justru harus dioptimalkan di saat seperti ini, yakni lewat alat digital kita masing-masing.

Bolehlah dikata, saat ini setiap orang memiliki handphone sebagai “sungutnya” dan terbukti kita dalam waktu tidak terlalu lama telah bisa akrab dengan siapa pun dan di mana pun, meski kita belum/tidak mengenal sebelumnya.

Baca Juga: Gusti, Ulun Caos Pisungsung

Itulah yang disebut tepung sungut, yakni orang sudah saling sangat akrab mengenal, kontak, membahas banyak hal, bahkan bisnis; padahal senyatanya antar mereka itu belum pernah bertemu muka dalam dunia nyata.

Tegasnya, tepung sungut adalah model persahabatan sosial di dunia maya yang terbukti sangat cepat dan ampuh untuk kepentingan apa pun.

Di tengah segala macam pembatasan mobilitas saat ini, tepung sungut menjadi sarana mobilitas maya sangat membantu siapa saja.

Jadi, janganlah terlalu mumet, jangan pula putus harapan; manfaatkan saja HP Anda (sesederhana apa pun) untuk mengembangkan tepung sungut dalam rangka untuk saling membantu informasi, saling menolong hal-hal kecil sekali pun, dan sebagainya. Pegangan etis tepung sungut hanyalah satu, yakni praktekkan dan kembangkan saling percaya (trust).

Di dalam rumusan saling percaya itu terkandung banyak tuntutan dan tuntunan etika, seperti aja ngapusi, aja goroh, jangan mengambil kesempitan untuk menipu, apalagi lalu memanfaatkan persahabatan maya itu untuk mengeruk keuntungan diri. Jangan!! Harus sangat disadari bahwa “Saya sangat membutuhkan persahabatan maya ini.” Sukses ya!!!

(JC Tukiman TarunasayogaPengamat Kemasyarakatan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here