blank
foto: dok/Suarabaru.id

CIKARANG (SUARABARU.ID)– Sebanyak 2.000 buruh dan pekerja di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menjalani tes usap massal yang dipusatkan di SMK Mitra Industri MM2100, Jalan Kalimantan Nomor 2 Desa Danau Indah, Kecamatan Cikarang Barat.

“Ini bagian dari 12.000 buruh dan pekerja tahap pertama yang menjalani swab test di pekan ini, dan hari pertama pelaksanaannya,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bekasi Alamsyah di Cikarang, Kamis.

Alamsyah mengatakan 2.000 buruh tersebut seluruhnya adalah pekerja di Kawasan Industri MM2100 menyusul tingginya angka penyebaran kasus COVID-19 di lingkungan kawasan industri itu di antaranya klaster LG, Epson, dan Unilever.

Kegiatan tes usap massal ini, kata dia, diselenggarakan Satgas COVID-19 nasional pemerintah pusat bersama Satgas Provinsi Jabar dan Pemerintah Kabupaten Bekasi dengan tujuan memutus rantai penyebaran virus corona khususnya di klaster industri.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Masrikoh mengatakan tes usap massal ini terbagi atas dua sesi pelaksanaan.

Sesi pertama dimulai pukul 09.00-11.00 WIB dan sesi berikutnya pukul 14.00-17.00 WIB dengan masing-masing 1.000 pekerja tiap sesinya.

“Nanti hasilnya akan kita kirim ke Laboratorium UI di Salemba dan akan keluar dalam empat hari ke depan. Kalau kita hanya kontribusi petugas saja, ada 20 personel kita di lokasi,” katanya.

Ia mengatakan 2.000 pekerja ini merupakan bagian dari total 70 perusahaan yang mengajukan diri untuk melakukan tes usap kepada karyawannya secara acak.

“Rata-rata satu perusahaan mengirimkan 100 pekerja, ada yang 150 juga. Sistemnya random dengan kriteria kontak erat dengan pasien COVID-19. Selanjutnya kita akan marathon, minggu ini cuma hari ini, minggu depan bisa di lokasi lain seperti Jababeka, Ejip, dan kantong-kantong zona merah lain,” katanya.

Dia menyebut tes usap massal ini diprediksi bakal mendongkrak angka kasus positif COVID-19 di Kabupaten Bekasi. Meski demikian, peningkatan kasus ini akan dijadikan landasan gugus tugas dalam menangani klaster industri.

“Jadi jangan kaget kalau nanti angkanya melonjak tinggi tapi potensi kenaikan kasus ini sudah kita antisipasi dengan penambahan jumlah ruang karantina dan tracing menyeluruh. Hasil dari sini juga akan menjadi pemetaan penanganan klaster industri ini,” katanya.

Ia mengaku klaster industri masih menjadi penyumbang terbesar kasus positif COVID-19. Lebih dari 60 persen kasus berasal dari kalangan pekerja pabrik berdasarkan laporan masuk. Seperti dilansir dari Siberindo.co

“Masih di 60 persen ke atas dan terus meningkat, laporan penyumbang tiap harinya rata-rata dari kawasan industri. Untuk itu penanganan serius wajib dilakukan,” demikian Masrikoh.

 

Claudia SB