blank
Ummu Asiyati saat mengajari bocah-bocah membatik. foto: Suarabaru.id

KUDUS (SUARABARU.ID) – Ditemui di galerinya yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Ummu Asiyati terlihat sibuk menuntun sejumlah anak sekolah untuk belajar membatik. Sekitar sepuluh bocah dari berbagai sekolah yang kebetulan belajar daring akibat pandemi, cukup antusias menggoreskan canting berisi lilin panas ke selembar kain putih.

Sesekali Ummu terlihat memegang tangan sang bocah saat goresan cantingnya dirasa kurang bagus. Meski dengan wajah tertutup rapat masker, namun terlihat jelas bagaimana keseriusan Ummu untuk menularkan ilmu membatiknya kepada para bocah-bocah tersebut.

“Iya, ini anak-anak sengaja saya undang ke sini untuk belajar membatik. Siapa tahu ada yang berbakat dan tertarik untuk meneruskan tradisi membatik ini,”ujar Ummu.

Menurut Ummu, para bocah tersebut akan belajar membatik mulai dari proses awal hingga proses akhir.  Tak hanya pemahaman secara teoritis, bocah-bocah tersebut juga diminta langsung mempraktikkan apa yang telah diajarkannya.

“Semua proses yang saya ajarkan, langsung dipraktikkan oleh mereka. Mulai dari membuat pola, mencanting, pewarnaan hingga finishing,”ujar Ummu.

Dikatakan Ummu, kursus singkat tersebut berlangsung selama empat hari. Meski dirasa belum cukup untuk melatih sepenuhnya anak-anak untuk mahir membatik, setidaknya melalui kursus singkat tersebut ketertarikan generasi muda terhadap tradisi membatik khususnya batik Kudus bisa kembali muncul.

“Ya, semoga ada generasi pembatik-pembatik dari Kudus yang muncul. Sebab, regenerasi pembatik ini merupakan satu tantangan yang cukup berat untuk melestarikan tradisi batik Kudus saat ini,”tandas Ummu.

Keprihatinan Ummu Asiyati, atas tenggelamnya generasi penerus membuatnya ingin melestarikan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap batik daerah serta mengembalikan batik Kudus seperti masa kejayaannya dulu.

blank
Minat generasi muda untuk belajar membatik masih cukup minim. foto:Suarabaru.id

Sanad Hampir Putus

Upaya mengajarkan keterampilan membatik kepada anak-anak sekolah ini ia lakukan semata-mata karena dirinya memiliki misi untuk menyelamatkan batik warisan budaya Kudus serta agar mereka mengenal batik sejak dini

Keresahan Ummu tersebut memang sangat beralasan karena kaum muda yang mau menjadi pembatik jumlahnya sangat minim. Lulusan sekolah saat ini lebih suka mencari pekerjaan sebagai karyawan atau paling jelek sebagai buruh pabrik.

“Jangankan yang baru lulus sekolah.  Karyawan saya yang sudah mahir membatik saja ada yang berhenti dan memilih sebagai buruh pabrik,”ujar Ummu.

Kondisi tersebut tentu sangat memprihatinkan untuk menjaga ketersambungan ‘sanad’  tradisi batik Kudus. Sebab, di era generasi Ummu saja, pembatik yang menguasai motif batik Kudus saja sudah sangat minim dan terbatas pada pembatik sepuh.

Bahkan disebutkan Ummu, dirinya mendapatkan motif batik khas Kudus klasik seperti motif ‘kapal kandas’  dari seorang pembatik sepuh yang sudah tidak memiliki penerus lagi. Dan ironisnya, kain batik motif kapal kandas tersebut adalah kain batik usang yang tidak jadi diambil oleh pemesannya.

“Saya dapat selembar kain batik motif ‘kapal kandas’ itu dari pembatik sepuh bernama Ibu Niswati dari Kedungpaso. Katanya, kain tersebut tidak jadi diambil pemesannya. Dari kain itulah saya mereproduksi motif kapal kandas yang konon merupakan motif khas batik Kudus tersebut,”ujarnya.

Ironisnya, Ibu Niswati yang memberikan kain batik motif kapal kandas kepada Ummu tersebut tidak memiliki generasi penerus pembatik. Anak-anaknya lebih suka menjadi karyawan dan PNS daripada meneruskan usaha ibunya sebagai pembatik khas Kudus.

Oleh karena itu, Ummu tak mau kondisi tersebut terjadi lagi. Ummu tak ingin ‘sanad’ atau ketersambungan ilmu membatik khas Kudus putus begitu saja. Dan hadirnya bocah-bocah yang belajar membatik di tempatnya tersebut sangat menggembirakan hatinya.

Tm-Ab