Rambu Jalan P. Tendean Purwodadi yang diprotes para seniman karena penggunaan tulisan aksara jawa tidak sesuai dengan pelafalannya. (Foto : Hana Eswe).

GROBOGAN– Sejumlah budayawan di Kabupaten Grobogan mengkritik penulisan aksara jawa yang menunjuk pada Jalan P Tendean, Purwodadi. Penunjuk jalan tersebut dipasang di ujung Jalan Piere Tendean dengan dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan aksara Jawa.

Pada tulisan aksara Jawa terdapat kesalahan penulisan yakni Patenadheana yang berbeda jauh artinya. Hal tersebut dibenarkan Tantri, penggiat budaya Jawa asal Grobogan. Menurut dia, papan penunjuk jalan tersebut sudah berdiri lama. Sejak awal, ia dan teman-temannya sesama seniman menyampaikan hal tersebut kepada yang bersangkutan.

“Ini sudah harus diganti. Saya sudah sampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu, tetapi pihak terkait tidak respon. Bahkan, kalau saya menilai terkesan lempar tanggung jawab,” ujar Tantri.

Hal yang sama diungkapkan Muhadi, pelaku wisata asal Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Menurut dia, hal tersebut sudah lama disampaikan, tetapi memang benar tidak ada tanggapan dari instansi yang berwenang.

“Sudah lama kita sampaikan kepada mereka yang berwenang, tetapi sampai sekarang memang belum ada tanggapan sama sekali,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto melalui Kasi Pengujian Kendaraan Bermotor Kho’irus Said saat dikonfirmasi mengatakan, plang penunjuk jalan ini pengadaannya bukan melalui Dishub. Pihaknya menjelaskan, penunjuk jalan ini merupakan sponsor dari PD BPR BKK.

“Belum ada rencana untuk penggantian karena papan nama jalan tersebut dulu memang pengadaannya bukan lewat Dishub, tetapi pengadaan dari BPR BKK Purwodadi sebagai sponsor,” ujarnya.

Penggiat seni dan budaya Jawa, Muhadi, berharap penunjuk jalan ini segera diganti agar masyarakat tidak lagi salah membacanya. (Foto : hana eswe).

Juga Dikomentari Masyarakat

Kesalahan penulisan aksara jawa pada penulisan nama jalan P Tendean ini diketahui sudah lama. Namun, mulai muncul lagi saat diunggah dalam sebuah akun media sosial. Beberapa masyarakat banyak berkomentar terkait hal tersebut.

Ryan, misalnya. Dalam komentarnya, ia mencuitkan kesalahan dari penulisan aksara jawa tersebut.

“Itu bacanya patenadheana. Yang benar, kurang pasangan ta untuk mematikan ‘n’ dan pangkon mateni ‘n’ paling belakang,” komentar Ryan.

suarabaru.id/Hana Eswe.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here