Almarhum Budiman, staf RSUD RA Kartini yang semalam meninggal dunia karena Covid-19.

JEPARA(SUARABARU.ID) – Jepara kembali berduka. Seorang staf RSUD RA Kartini bernama Budiman dengan pangkat terakhir II d  kembali ditenggut oleh covid-19 dalam usia 47 tahun. Sebelumnya ia sempat dirawat di ruang isolasi RA Kartini selama 3 hari dan semalam  dirujuk ke RS Wongsonegoro Semarang. Namun akhirnya Senin malam (209/6-2020) maut menjemputnya sekitar jam 23.45 Wib.

Persiapan pelepasan jenazah Budiman oleh manajemen RSUDRA Kartini dan rekan sekerja di halaman rumah sakit RA Kartini.

Pria yang tinggal di RT 1/ RW 2 Desa Mulyoharjo, Jepara  ini telah mengabdi di RSUD RA Kartini selama 25 tahun  dan dikarunia 2 orang anak buah kasih dan pernikahannya dengan Ari Widianingsih.  Almarhum  bertugas dibagian keuangan dan merupakan  salah satu dari 53 orang tenaga RSUD RA Kartini  yang dinyatakan telah positif terkonfirmasi terpapar covid-19.

Dari jumlah tersebut 18 nakes sembuh, 33 masih sakit dan jalani karantina serta 2 orang meninggal dunia. Rencana pemakakan jenazah almarhum Budiman akan dilakukan Selasa pagi ini  jam 09.00 di pemakaman umum Mbah Ali Muhammad Desa Mulyoharjo. Sebelumnya almarhum akan dilepas oleh manajemen dan teman sejawatnya di halaman RSUD RA Kartini.

Almarhum Budiman, staf RSUD RA Kartini yang telah mengabdi 25 tahun lebih

Dengan demikian RSUD RA Kartini telah kehilangan 2  staf terbaiknya. Pertama adalah perawat senior Siti Fatimah yang meninggal pada   Rabu (24/6-2020).    Ia seorang tenaga kesehatan senior  RSUD RA Kartini, Siti Fatimah (56 th)  yang  telah mengabdi selama  28 tahun 3 bulan di rumah sakit tersebut  meninggal dunia.

Sementara jumlah tenaga kesehatan yang terpapar semakin banyak dan meluas. Jika sebelumnya hanya RSUD yang terjangkit, kini sejumlah Puskesmas di Jepara juga telah mulai terpapar covid-19.  seperti Puskesmas Mlonggo, Puskesmas Kedung 1 dan Puskesmas Batealit. Faslititas kesehatan telah menjadi klaster baru penularan.

“Banyak kalangan menilai meningkatnya angka covid-19 ini disebabkan tidak adanya ketegasan dari Gugus Tugas dan Pemerintah Kabupaten Jepara dalam membendung penyebaran Covid-19, walaupuan disediakan anggaran APBD 2 sebesar 203 milyar. Ini belum yang dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan sumbangan dari periusahaan-perusahaan yang ada di Jepara,” ujar Zakaria Ansyori, pemerhati masalah sosial yang konsen mencermati penanganan Covid-19 di Jepara.

Hadepe – Ulil Abshor

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here