Bagikan
 Guru SD mengevakuasi buku-buku dari perpustakaan yang terendam banjir. Foto: Kusfitria Martyasih

DEMAK- Sedikitnya 6 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Sayung terendam air akibat bobolnya sabuk tanggul sungai di Dukuh Ngepreh Sayung Demak , Rabu (10/4/2019).

Ning Suwarti, Kepala SDN Sayung 1 mengungkapkan keprihatinannya terhadap banjir yang melanda tempat tugasnya.

“Banjir ini memang sudah langganan, hampir tiap tahun. Tapi pagi ini memang parah, di beberapa tempat sampai setinggi perut. Padahal anak anak sedang Ujian Sekolah. Ada 45 peserta dibagi menjadi 3 ruangan.  Ini hari terakhir,” ucapnya.

SDN Sayung 1 tergenang banjir, sementara para siswa kelas 6 sedang megikuti ujian. Foto: kusfitria Martyasih.

Setiap kali banjir menggenang di sekolahnya, air tidak segera surut. Biasanya berbulan bulan barulah air mengering. Ning Suwarti khawatir nasib aset negara yang ada di sekolahnya akan rusak akibat terlalu lama berada dalam air.

“Kalau banjir mendadak datang biasanya kami belum sempat evakuasi aset sehingga kadang menjadi rusak. Kadang buku buku hampir 500 eksemplar terpaksa dihapuskan karena tidakterselamatkan,” ungkap Ning.

Kondisi serupa juga dialami oleh SDN Sayung 4. Air menggenang di lingkungan sekolah tersebut secara bervariasi minimal 20 sentimeter.”Semua lokal terendam, sehingga 46 peserta ujian menyelesaikan tugasnya dalam kelas yang penuh air. Tetapi alhamdulillah anak anak tetap semangat tidak ada yang absen,” kata Setyarif Nusantara, Kepala SDN Sayung 4.

Selain kesehatan anak anak terdampak banjir, Setyarif juga menghawatirkan aset SD Sayung 4 yang terendam air. “Kalau terlalu lama terendam, nanti cepat lapuk, terutama mebelair yang terbuat dari kayu dan bahan tidak permanen lain,” ucapnya.

Adapun 6 SD yang terendam banjir di antaranya SDN Sayung 1, SDN Sayung 4, SDN Dombo, SDN Prampelan,SDN Loireng dan SDN Karangasem 1.

Menanggapi perihal banjir yang melanda SD di wilayahnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Demak, Anjar Gunadi, melalui Kasi SD, Asrochah menyatakan pihaknya segera terjun ke lapangan untuk melakukan pemantauan.

suarabaru.id/ Kusfitria Marstyasih

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here