<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kalamudeng Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/kalamudeng/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Oct 2025 22:43:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>kalamudeng Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tanpa Rikuh-(Rikuh)</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/02/tanpa-rikuh-rikuh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 00:21:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[rikuh]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa rikuh]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=504738</guid>

					<description><![CDATA[<p>RIKUH dalam batas tertentu semakna dengan risi;  namun dalam batas lebih luas, rikuh memiliki cakupan makna luas dan menarik. Sopan santun kehidupan sehari-hari telah mengajarkan banyak hal tentang rikuh dan risi ini. Menjemur pakaian, misalnya, sedapat mungkin di setiap rumah tangga telah diajarkan agar jika menjemur pakaian, apalagi ada pakaian dalamnya, letakkanlah di tempat “tersembunyi” [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/02/tanpa-rikuh-rikuh">Tanpa Rikuh-(Rikuh)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><b><i>RIKUH </i></b>dalam batas tertentu semakna dengan <em>risi;  </em>namun dalam batas lebih luas, <em>rikuh</em> memiliki cakupan makna luas dan menarik. Sopan santun kehidupan sehari-hari telah mengajarkan banyak hal tentang <em>rikuh dan risi</em> ini.</p>
<p>Menjemur pakaian, misalnya, sedapat mungkin di setiap rumah tangga telah diajarkan agar jika menjemur pakaian, apalagi ada pakaian dalamnya, letakkanlah di tempat “tersembunyi” dalam arti tidak gampang terlihat orang lain. Jika tidak mungkin karena sempitnya lahan, upayakan pakaian dalam ditutupi cucian lainnya.</p>
<p>Mengapa hal seperti itu harus dilakukan? Jawabannya, si pemilik jemuran selayaknya merasa <em>risi </em>kok pakaian yang dicuci itu dipamer-pamerkan. Bagi tetangga atau orang lain yang melihat, sangat mungkin bukan hanya merasa <em>risi</em> (atau sekurang-kurangnya berfikiran: “Orang ini kok tidak tahu malu”). Bahkan sangat boleh jadi ia merasa <em>rikuh</em> melihatnya. Justru orang lain yang merasa rikuh.</p>
<p><strong>Risi</strong></p>
<p><em>Risi  </em>memiliki tiga arti, yaitu (1<em>) krasa ora kepenak, (2) krasa ora seneng, lan (3) krasa keri.. </em>Terasa tidak nyaman, itulah makna  <em>krasa ora kepenak, </em>seperti contohnya menjemur pakaian di depan kamar tamu tadi. Rasa tidak nyaman terkait dengan mengganggu pemandangan, tetapi bisa juga terkait dengan rasa hati: “Mosok, jemur CD di depan pintu.”</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/10/26/tanpa-sapa-aruh">Tanpa Sapa-Aruh</a></span></strong></p>
<p>Adapun sudah sangat jelas maknanya, yakni membuat hati ini tidak senang. Bayangkan kalau ada teman yang bikin hati tidak senang karena setiap kali bertemu selalu nagih minta ditraktir <em>dhawet ayu</em>, lain kali minta ayam kremes, lain kali minta ke kafe.</p>
<p>Bikin hati ini tidak senang, <em>risi kok saben-saben mung soal mangannnnnnn wae. </em>Dan tentang <em>krasa keri, </em>bacalah <em>keri</em> seperti Anda mengatakan ngeri deh; dan bayangkan ada kerikil kecil ada di sepatu kita. Sekecil apa pun, benda itu membikin <em>keri, </em>yaitu di satu sisi geli, di sisi lain terasa tidak nyaman di kaki.</p>
<p><strong>Rikuh</strong></p>
<p><em>Rikuh </em>pasti semua orang tahu artinya, pun juga makna bahkan penerapannya dalam hidup sehari-hari. Rikuh itu terasa <em>kikuk, kidung, jiguh </em>bukan saja merasa tidak nyaman, tidak enak; namun juga orang bisa merasa serba salah. Bayangkan bertemu mertua sementara sedang berpakaian kurang lengkap. Lebih dramatis lagi kalau ketahuan mertua sementara si menantu ini sedang cengkerama asyik di kafe dengan orang lain. Rikuh juga bermakna <em>rada isin</em>, agak malu-malu seperti contoh “ketangkep basah” mertua  di kafe tadi.</p>
<p>Pertanyaan yang kontekstual saat ini, ialah: Masih adakah <em>rasa rikuh</em> seperti yang disebutkan lewat contoh-contoh di atas? Tegasnya, generasi <em>zaman now</em>, apakah tetap mengembangkan <em>rasa rikuh</em> dalam kehidupan sehari-harinya? Pertanyaan lebih menukik lagi: Apakah orang-orang tua saat ini juga memberikan teladan dalam mengembangkan rasa rikuh itu? Jangan-jangan orang-orang tua pun ogah memberi contoh, atau malah juga larut bersikap <em>tanpa rikuh-rikuh</em>?.</p>
<p>Dalam konteks <em>rasa isin</em>, yaitu masih memiliki dan/atau  terasa malu, apakah para senior selama ini masih bersedia menjadi pelopor? Ataukah sudah luntur?</p>
<p>Seorang tokoh suku Indian, seorang ahli mimpi, suatu hari didatangi seseorang yang bertanya tentang makna mimpinya. “Saya memiliki dua ekor anjing yang selalu berkelahi. Anjing yang satu sangat baik, cantik dan berbulu putih. Anjing ini selalu membantu tuan rumahnya. Sedang anjing satunya, berbulu hitam, dan nampak jahat, cenderung merusak apa saja.”</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/10/19/tanpa-tedheng-aling-aling">Tanpa Tedheng Aling-Aling</a></span></strong></p>
<p>Orang Indian itu lalu bertanya: “Dalam perkelahian, anjing mana banyak menangnya?” Seseorang yang bertanya itu menjawab: “Anjing pertama.”</p>
<p>Tokoh Indian ini tersenyum, lalu menjawab pasti  penuh meyakinkan: “Begitulah, siapa pun yang dituntun ke arah putih, yaitu kebaikan; pasti masih akan memiliki <em>rasa rikuh</em> jika mau berbuat yang hitam.”</p>
<p>Imbauan moralnya, mari tetap kembangkan rasa rikuh lebih-lebih untuk melawan “anjing berbulu hitam itu,” Upayakan rasa rikuh tetap ada dalam hidup ini, jangan dikalahkan oleh kecenderungan <em>tanpa rikuh-rikuh maneh</em>  apalagi sering ada yang berkata: Hari gini <em>rikuh-rikuh</em>?</p>
<p><strong><em>Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/02/tanpa-rikuh-rikuh">Tanpa Rikuh-(Rikuh)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ora Nglegewa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/20/ora-nglegewa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2025 00:58:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SCU]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=484630</guid>

					<description><![CDATA[<p>KATA ora itu  artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, denial; kosok balen, berlawanan.  Namun, ora juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai ora. Nah, kali ini kita berbincang tentang “ora nglegewa” Sakit hati yang bertahan lama, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/20/ora-nglegewa">Ora Nglegewa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>KATA</strong><em> ora </em>itu  artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, <em>denia</em>l; <em>kosok balen</em>, berlawanan.  Namun, <em>ora</em> juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai <em>ora. </em>Nah, kali ini kita berbincang tentang <em>“ora nglegewa”</em></p>
<p>Sakit hati yang bertahan lama, bisa bertahun-tahun lho, adalah sakit hati karena <em>diapus</em>i, ditilap oleh orang yang paling dicintai atau dipercaya. Sakit hatinya ada yang menjadi-jadi karena <em>carane ngapusi</em>, cara orang itu menipu, lewat berbagai taktik sampai-sampai orang <em>ora nglegewa. </em>Nah…… tentang <em>ora nglegewa</em> inilah topik bahasan dengan tokoh utamanya, sebutlah dengan nama panggilan: Pak Dhadap Waru.</p>
<p><em>Nglegewa</em> harus dicari akar katanya pada <em>legewa. </em>Namun, seperti biasa, ucapkan <em>legewa</em> ini seperti Anda mengatakan legenda, atau bendera; dan jangan keliru dengan <em>legawa. </em></p>
<p>Arti <em>legewa </em>ialah <em>duwe panyana marang liyan amarga meruhi pratingkahe; </em>menduga-duga orang/pihak lain lewat melihat tingkah lakunya. Maksudnya, misalnya seseorang tiba-tiba bertindak berbeda dari biasanya, nah ……… pihak yang melihat Naya bersiul-siul sepanjang pagi, menduga-duga kemungkinan Naya sedang jatuh cinta nih. Atau sekurang-kurangnya sedang penuh suka cita.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/13/ora-mitayani">Ora Mitayani</a></strong></span></p>
<p>Dari tingkah laku seseorang, apalagi dari perubahan tingkah lakunya, dapatlah ditengarai: Ada apa ini? Lalu diduga-duga, wahhhhh Suta <em>klecam-klecem</em> sepanjang hari full senyum. Dapat warisan kelihatannya.  Itulah legewa, itulah <em>panyana</em>, dugaan-dugaan.</p>
<p>Nah……..<em>ora nglegewa </em>menjadi jelas artinya, <em>ora nyana ora ngira, </em>tidak pernah punya dugaan apa pun, tidak pernah punya bahkan firasat apa pun; ehhhhhhh…….<em>jebul mak cempulik </em>Pak Dhadap Waru <em>ngapusi</em>, misalnya. Padahal selama ini Pak Dhadhap Waru ini dipersepsikan oleh tetangga sebagai  orang baik, tulus, <em>apa anane. Lha kok jebul ngapusi melek-melekan, </em>menipu terang-terangan. Tak seorang pun <em>nglegewa </em>tentang triknya menipu. “<em>Jan, ora nglegewa tenan, aku</em>!!” komentar Suta dan Naya penuh rasa heran tidak percaya</p>
<p><strong><em>Isih doyan sega</em></strong></p>
<p><em>Apus-apuse Pak Dhadhap Waru </em> yang tidak diduga seperti itu, <em>ora nglegewa</em>, menandakan betapa <em>sapa wae sing isih doyan sega, </em>siapa pun asal masih membutuhkan nasi dan lauk pauknya, apa pun pangkat dan kedudukannya, ternyata tetap ada naluri menipu atau melakukan pelanggaran. <em>Isih manungsa, arane</em>, masih bernama manusia.</p>
<p>Cerita kuna pengusaha kaya raya berikut ini dapat menjadi contoh bagus tentang <em>ora nglegewa</em> yang sangat bagus. Pengusaha kaya raya sudah tua, mengumpulkan tiga anak laki-lakinya, katanya: “Saya tidak akan membagi warisan keadamu. Harta bernda kekayaanku, akan dimiliki oleh siapa paling cerdas menjawab tantanganku. Saya beri kalian uang masing-masing satu juta rupiah. Pergilah, dan belilah barang apa pun yang bisa memenuhi ruangan ini penuh-penuh, dialah yang akan memiliki harta kekayaan papa.”</p>
<p>Mereka cepat-cepat keluar. Sulung segera membeli banyak sekali pohon dengan semua cabang rantingnya, dibawa pulang, dan dimasukkan ke ruangan itu. Tetapi ternyata baru separoh ruangan terisi. Anak kedua membawa pulang beberapa truk bermuatan  jerami, rumput dan segala macam. Setelah diisikan ruangan itu, masih sepertiga dari ruangan itu kosong, tidak terisi apa pun.</p>
<p>Anak ketiga,  ketika keluar dari rumah,  tidak pergi jauh-jauh, hanya ke tempat doa yang tidak jauh dari rumah ayahnya.-Di sana ia melihat sebuah lilin yang masih menyala. Ia terinspirasi, <em>ora nglegewa, </em>pada lilin itu. Lalu ia segera ke warung yang tidak jauh dari tempat itu. Ia beli beberapa lilin kecil, lalu dibawa pulang.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2025/07/06/ora-kainan">Ora Kainan</a></strong></span></p>
<p>Ketika malam tiba, si bungsu cerdik <em>ora nglegewa</em> itu meminta ayahnya ke ruangan itu dalam keadaan gelap.  Ia nyalakan satu lilin, ruangan itu berubah menjadi agak terang. Ia nyalakan lilin lainnya, ruangan semakin terang. Lima lilin kecil dinyalakan semua, dan ia bertanya kepada ayahnya: “Papa, masihkah ada yang tidak diterangi oleh sinar lilin-lilin kecil itu?” Ayahnya menggeleng, meneteskan air mata, karena <em>ora nglegewa</em> juga anaknya secerdas itu.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Dosen pascasarjana dalam matakuliah Pengembangan Masyarakat (UNS, Surakarta), dan Filsafat Ilmu (SCU, Semarang)</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/20/ora-nglegewa">Ora Nglegewa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Aug 2023 01:30:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[17 agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<category><![CDATA[Unika Soegjapranata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=359438</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga SAMPAI dengan usia kemerdekaan ke 78 tahun ini, Republik Indonesia sangat memenuhi syarat untuk menapaki alur mardika à mardikani à mardikengrat. Maksudnya, sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Republik Indonesia terus menegaskan eksistensinya sebagai negara berdaulat, dan sampai dengan usia 78 tahun ini. Republik Indonesia terhitung negara kang nguwasani jagad dalam beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat">Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;"><img loading="lazy" class=" wp-image-357641 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg" alt="" width="169" height="231" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 169px) 100vw, 169px" />JC Tukiman Tarunasayoga</span></strong></p>
<p><strong>SAMPAI </strong>dengan usia kemerdekaan ke 78 tahun ini, Republik Indonesia sangat memenuhi syarat untuk menapaki alur mardika à mardikani à mardikengrat.</p>
<p>Maksudnya, sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Republik Indonesia terus menegaskan eksistensinya sebagai negara berdaulat, dan sampai dengan usia 78 tahun ini.</p>
<p>Republik Indonesia terhitung negara <em>kang nguwasani jagad</em> dalam beberapa hal tertentu. Penjelasannya terurai sebagai berikut.</p>
<p><strong>Mardika</strong></p>
<p>Ada dua makna <em>mardika</em>, merdeka itu, yakni pertama <em>ora direh utawa ora dikuwasani pihak liya</em>: Tidak diperintah, maksudnya tidak dalam kekuasaan pihak lain. Kondisi dan status merdeka berikut kemerdekaannya semacam itu sangat penting bagi siapa pun, apalagi bagi sebuah negara.</p>
<p>Karena tidak ada pihak mana pun memerintah atau menguasai kita, maka kita terbebas dari pengaruh pihak mana pun atau siapa pun. Ungkapan yang sering terdengar yakni kita benar-benar mandiri, menentukan nasib dan hari depan sendiri.</p>
<p>Makna keduanya, <em>mardika</em> itu artinya <em>luwar saka</em>; seperti contohnya kemarin-kemarin seseorang berada dalam penjara sebagai hukuman atas tindak pidananya. Nah …… menjelang peringatan 17 Agustus, ia termasuk orang yang mendapatkan remisi karena berkelakuan baik.</p>
<p>Itu artinya <em>luwar saka kunjaran</em>, telah keluar dari penjara. Tujuh puluh delapan tahun lalu, bangsa kita juga <em>luwar saka penjajah</em>, keluar dari penjajahan, tidak lagi berada di bawah kekuasaan penjajah. <em>Luwar</em> dapat juga berarti terlepas dari kekangan atau pun tali.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/07/31/eling-ancasmu">Eling Ancasmu</a></span></strong></p>
<p>Kemerdekaan Indonesia tujuh puluh delapan tahun lalu sangat-sangat kuat nuansanya baik dalam makna pertama mardika: <em>Ora direh utawa ora dikuwasani pihak liya</em>; maupun makna kedua: <em>luwar saka</em>. Intinya, bangsa Indonesia sejak hari proklamasi 17 Agustus 1945 itu, merdeka dari penjajahan.</p>
<p>Terdengung lagu Hari Merdeka: “Tujuh belas Agustus tahun empat lima; itulah hari hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa; itulah …………..dst”</p>
<p><strong>Mardikani</strong></p>
<p>Ekspresi seperti itulah yang disebut dengan <em>mardika kang mardikani</em>, yakni kemerdekaan itu harus diungkapkan dengan segala ekspresi kebahagiaan, semangat bergelora, penuh antusiasme, dan sebagainya. <em>Mardikani</em>, kata itu maksudnya <em>njarwani, nerangake</em>; yakni menegaskan sikap, seperti sikap bahagia, semangat, Bersatu, dll.</p>
<p>Semua itu harus terekspresikan dengan sangat jelas sehingga tergambarkan lewat adanya perubahan-perubahan signifikan.</p>
<p>Contoh konkret <em>mardika kang mardikani </em>ada pada Kurikulum Merdeka di kancah dunia pendidikan kita. Kurikulum ini berintikan <em>mardika kang mardikani</em>, karena memang harus terekspresikan dengan sangat signifikan pada diri kepala sekolah, guru dan siswa. Kosakata <em>mardika kang mardikani</em> dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah <em>means and ends</em>, adalah “awal dan akhir”, “Alfa dan Omega,” adalah sarana dan serta-merta tujuan seluruh pergulatan pembelajaran.</p>
<p>Maka ekspresinya harus sangat signifikan, dan terakumulasi dalam perubahan perilaku individual maupun kolektif seluruh insan pendidikan.</p>
<p><strong>Mardikengrat </strong></p>
<p>Untuk maksud atau tujuan apa <em>mardika kang</em> <em>mardikani </em>itu? Dalam konteks negara kita NKRI, tujuan <em>mardikengrat</em> terumuskan dalam kosakata bebas dan aktif. Yakni, NKRI sebagai negara berdaulat harus (dan terus berusaha) tampil sebagai negara (a) <em>kang nguwasani jagad, dalah</em> (b) <em>kang wicaksana lan kuwasa</em>.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/08/06/sugih-singgih">Sugih-Singgih</a></strong></span></p>
<p>Inilah makna <em>mardikengrat</em> itu, dan harus dimengerti secara tepat-benar sebagai berikut:  Arti dari <em>nguwasani jagad</em> bukannya NKRI akan menjadi penjajah dari negara lain, melainkan (ini sudah terjadi) negara kita harus berusaha semakin maju sehingga berpengaruh nyata bagi negara-negara lain. Di sinilah bebas dan aktif itu bermakna.</p>
<p>Adapun makna <em>kang wicaksana lan kuwasa</em> sudah barang tentu sangat jelas entah dalam konteks internal di dalam NKRI, maupun secara eskternal terhadap negara-negara lain. Secara internal, pemimpin nasional memang harus <em>mardikengrat, wicaksana</em>, yaitu bijaksana dan melaksanakan kepemimpinannya penuh wibawa, seraya tegak-kuat hak-hak prerogatifnya.</p>
<p>Demikian pun di dunia luar sana, pemimpin nasional NKRI harus sangat berwibawa, berpengaruh, dan signifikan kebijaksanaannya.</p>
<p>Dirgahayu Republik Indonesia; menapaki tahun-tahun berikutnya, mari terus kita kembangkan NKRI penuh semangat <em>mardika kang mardikani amrih mardikengrat!!</em></p>
<p><em> </em><strong><em>JC Tukiman Tarunasayga, Ketua Dewan Penyantun Soedijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-0-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/14/mardika-kang-mardikani-amrih-mardikengrat">Mardika kang Mardikani amrih Mardikengrat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tangeh </title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/06/26/tangeh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jun 2023 18:51:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[JC Tukiman Tarunsa]]></category>
		<category><![CDATA[lama]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi naik kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[tangeh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=347581</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga BICARA tentang pemilu, dalam arti coblosannya, sebenarnya  terhitung masih “lama,” lha wong isih suk 14 Februari 2024. Masih delapan bulan lebih lho. Itu jika dipandang dari kepentingan masyarakat pada umumnya. Untuk melukiskan betapa masih jauh atau lamanya, ada beberapa ungkapan, misalnya isih ngaluk-aluk adohe, isih tangeh. Bacalah tangeh sebagaimana Anda mengucapkan Sangeh [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/26/tangeh">Tangeh </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;">JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class="alignleft wp-image-338950 size-thumbnail" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-106x150.jpg" alt="" width="106" height="150" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-106x150.jpg 106w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-282x400.jpg 282w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA.jpg 398w" sizes="(max-width: 106px) 100vw, 106px" /></span></strong></p>
<p><strong>BICARA </strong>tentang pemilu, dalam arti coblosannya, sebenarnya  terhitung masih “lama,” <em>lha wong isih suk</em> 14 Februari 2024. Masih delapan bulan lebih <em>lho.</em> Itu jika dipandang dari kepentingan masyarakat pada umumnya. Untuk melukiskan betapa masih jauh atau lamanya, ada beberapa ungkapan, misalnya isih <em>ngaluk-aluk adohe, isih tangeh.</em></p>
<p>Bacalah <em>tangeh</em> sebagaimana Anda mengucapkan <em>Sangeh</em> atau minum <em>teh</em>, atau pun pegunungan <em>Menoreh</em>. Boleh juga dikaitkan dengan  makan sayur <em>lodeh</em>. Kalau dirangkai menjadi kalimat, nuansanya romantis juga: “Di lereng pegunungan Menoreh, Pak Suta dan bu Siti sedang menikmati sayur lodeh dan secangkir teh, seraya ingat anak cucunya yang sedang wisata di Sangeh, Bali.”</p>
<p>Ada dua makna <em>tangeh</em>, yang pertama telah disebutkan, yaitu <em>isih adoh, isih suwe</em>; masih lama atau masih jauh. Contohnya tentang hari coblosan tadi. Dan makna kedua <em>tangeh</em> ialah <em>mokal</em>, yakni mustahil terjadi.</p>
<p>Dalam percakapan sehari-hari apa yang sulit bahkan mustahil terjadi itu diungkapkan dengan <em>tangeh lamun. </em>Misalnya: “<em>Tangeh lamun kowe bisa dadi anggota DPR</em>” seolah-olah mencegat nasib baik seseorang dengan mengatakan,  “mustahil engkau dapat menjadi anggota DPR”.</p>
<p><strong>Benarkah?</strong></p>
<p>Benarkah pemilu masih lama? Tadi telah disebutkan, dari sisi masyarakat umum yang lebih terfokus pada coblosannya; memang dapat dikatakan masih cukup lama, <em>isih tangeh, isih suwe</em> (sering dilukiskan <em>suwiiiiii</em> – lama sekali).</p>
<p>Masih amat banyak kesempatan bagi masyarakat untuk memelajari visi misi parpol yang tentu saja diterjemahkan ke dalam visi misi caleg-calegnya. Juga masih cukup waktu dan tersedia kesempatan luas untuk mengetahui dan menggali track-record para caleg, termasuk tentu saja menggali berbagai sumber informasi terkait dengan parpol yang menawarkan berbagai program.</p>
<p>Bagi masyarakat, masih sangat cukup waktu untuk menggalang kekuatan massa misalnya mau mendukung caleg tertentu atau parpolnya, mau ikut terjun secara aktif ke mana pun dalam rangka berperan optimal demi mendukung kepentingan masyarakat.</p>
<p><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/06/18/enthakara">Enthakara</a></strong></p>
<p>Dalam hal ini ada saran yang rasanya pantas dipikirkan, yaitu pertama-tama sebaiknya masyarakat diberi pendidikan politik lewat menyermati parpol. Betul-betul visi misi parpol dicermati; dan setelah merasa puas dengan pilihan parpolnya, baru cermatilah caleg-calegnya.</p>
<p>Kelak pada saatnya, warga masyarakat pasti ada saja yang bertanya: “Kula kedah milih sinten?” ,  kami harus memilih siapa; dan jawaban untuk pertanyaan itu telah tersedia.</p>
<p>Tegasnya, karena bagi masyarakat waktunya masih panjang, <em>isih tangeh</em>, mari kita galakkan pendidikan politik kebangsaan seraya mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan umum; dan jauhkan politik identitas karena hanya akan mementingkan kepentingan sendiri.</p>
<p><strong>Mendesak</strong></p>
<p>Dari sisi partai politik dan kader-kader calonnya, 14 Februari 2024 itu sudah di depan mata dalam arti semakin dekat dan mendekat terus.  Bagi mereka ada sejumlah hal mendesak karena itu sering kurang sabar menjalani proses yang seharusnya.</p>
<p>Di antara hal-hal yang mendesak itu tentulah berkaitan dengan bagaimana berkesempatan bertemu dengan konstituen sesering mungkin untuk meyakinkan mereka agar nanti memilihnya. Padahal konstituen dirasa ada di mana-mana.</p>
<p>Parpol dan calon-calonnya pasti merasa mendesak juga dari sisi karena berpacu melawan “lawan” parpol dan calon-calon lain; dan dalam berpacu ini, wajar jika ada saja yang merasa sangat tergesa-gesa untuk segera berbuat, misalnya ingin segera kampanye secara terbuka. Padahal waktu untuk kampanye terbuka <em>jan-jane isih tangeh</em> juga.</p>
<p><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/06/11/urik">Urik</a></strong></p>
<p>Jadi intinya, dipandang dari sudut waktu dalam arti dari saat ini sampai dengan 14 Februari 2024, siapa pun memiliki waktu yang sama, yaitu masih sekitar tujuh atau delapan bulan. Bahwa parpol dan para calegnya <em>kemrungsung</em>, sangatlah bisa difahami; sementara bagi masyarakat sangat-sangat isih tangeh dan harus dimanfaatkan untuk melihat cermat-cermat banyak aspek terkait parpol dan calon-calonnya.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/26/tangeh">Tangeh </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Urik</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/06/11/urik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jun 2023 14:39:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[SCU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=343773</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga KETIKA di suatu Senin di bulan Januari lalu &#8211;serial tulisan saya ini diposting tiap hari Senin&#8211;  saya menulis tentang suthik. Seorang teman di Bekasi Jabar menanggapi: Bukankah suthik itu semacam alat atau barang kecil untuk mengorek-ngorek sesuatu? Pertanyaan itu belum sempat saya jawab, dan sekarang inilah jawabannya: “Bukan! Apa yang bapak katakan  [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/11/urik">Urik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;">JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class="alignright wp-image-338950 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-106x150.jpg" alt="" width="157" height="222" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-106x150.jpg 106w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-282x400.jpg 282w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA.jpg 398w" sizes="(max-width: 157px) 100vw, 157px" /></span></strong></p>
<p><strong>KETIKA </strong>di suatu Senin di bulan Januari lalu &#8211;serial tulisan saya ini diposting tiap hari Senin&#8211;  saya menulis tentang <em>suthik</em>.</p>
<p>Seorang teman di Bekasi Jabar menanggapi: Bukankah <em>suthik</em> itu semacam alat atau barang kecil untuk mengorek-ngorek sesuatu? Pertanyaan itu belum sempat saya jawab, dan sekarang inilah jawabannya: “Bukan! Apa yang bapak katakan  itu lebih tepatnya <em>urik,</em> bukannya <em>suthik</em>.”</p>
<p>Memang. Salah satu arti <em>urik </em>ialah <em>piranti kanggo ngureki, </em>alat sederhana untuk mengorek-korek sesuatu; dan kalau ada suatu barang sedang <em>diureki, </em>itu artinya barang itu mungkin akan dan sedang dilobangi atau d<em>ikrowok</em>. \</p>
<p>Untuk maksud apa barang itu <em>diureki,</em> dikasih lobang?  Entahlah, namun yang jelas seseorang sedang melakukan sesuatu dengan menggunakan alat yang namanya <em>urik.</em></p>
<p><strong>Diuriki</strong></p>
<p>Awas, bacalah baik-baik dan cermati bedanya antara <em>diureki lan diuriki. </em>Apa yang telah ditulis di atas ialah <em>diureki</em> <em>nganggo urik</em>, sedang yang akan dijelaskan berikut ialah <em>diuriki. </em>Apa itu <em>diuriki?</em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/06/04/kapan-towang-euy">Kapan Towang, Euy?</a></strong></span></p>
<p>Sebutlah segala polah dan hiruk pikuk manusia di atas muka bumi ini sebagai sebuah permainan (kalau seorang penyanyi menyebutnya sebagai panggung sandiwara).</p>
<p>Termasuk tentu saja aktivitas manusia dalam pemilihan umum (pemilu), sebutlah itu sebagai bagian dari sebuah permainan (juga). Dan namanya permainan,  siapa pun pasti ada saja yang (akan) tergoda untuk main-main dan mempermainkan.</p>
<p>Caranya bagaimana? Ada seribu satu cara untuk main-main atau pun mempermainkan, namun intinya adalah <em>ngakali srana nyimpang saka pranatan. Nguriki,</em> itu berlaku <em>urik</em>; dan siapa yang berlaku <em>urik</em> ialah dia atau mereka yang tadi disebutkan <em>ngakali srana nyimpang saka pranatan</em>, berlaku tidak jujur dengan cara menyimpang dari aturan yang telah ada.</p>
<p>Itulah <em>urik, yakni ora bares</em>, tidak jujur, main curang; dan yang dipakai sebagai medianya tentu saja permainan itu sendiri berikut segala aturan permainannya.</p>
<p>Kalau <em>urik</em> diterapkan di laga sepak bola, ya berarti cara <em>nguriki-</em>nya tentu saja segala permainan dan aturan permainan di sepak bola.</p>
<p>Dalam sepakbola itu ada banyak peran dijalankan: ada pelatih, ada manajer, ada pemain, ada wasit, dan ada lainnya lagi. Siapa dapat <em>urik </em>di sana? Pemain bisa, wasit bisa, pelatih bisa. Caranya? Bermacam-macam cara, tetapi semua cara itu ditentukan oleh apa tujuan <em>urik</em>-nya.</p>
<p>Mau menang atau mau kalah.  Memang ada permainan dengan tujuan mau kalah?  Dunia ini, panggung sandiwara …………….</p>
<p><strong>Urik-urikan  </strong></p>
<p>Kalau <em>urik</em> bermakna tidak jujur lewat menyimpang dari aturan; maka tindakannya disebut <em>urik-urikan</em>, maksudnya akal-akalan. Siapa pun sangat berpeluang untuk akal-akalan seperti ini; lagi-lagi yang kepingin (ngebet??)  menang sangat mungkin menjalankan <em>urik-urikan</em>, pun yang (sengaja) mau kalah, -apalagi yang jelas akan kalah- , sangat mungkin juga bertindak/bermain akal-akalan. Komplitlah makna <em>urik lan urik-urikan </em> itu.</p>
<p>Sedemikian suram seperti itukah makna sebuah permainan karena “niscaya” disertai <em>urik lan urik-urikan</em>? Tentu saja tidak. Mereka yang berlaku <em>urik atau urik-urikan, </em>dari segi jumlah pasti amatlah sedikit; dan jangan lupa mereka pasti akan “main cantik” agar tidak nampak sedang bertindak <em>urik utawa urik-urikan</em>.</p>
<p>Dalam macam-ragam tindakan <em>urik utawa urik-urikan</em> oleh segelintir orang itu, masyarakat diharapkan tidak sekedar berlaku sebagai penonton dan bersorak belaka. Masyarakat memang bukan wasit permainan, namun tetap dapat memberikan masukan, koreksi, bahkan protes manakala menengarai ada tindakan <em>urik utawa urik-urikan. </em> Inilah yang disebut kontrol sosial dan porsi masyarakat terutama ada di sini ini.</p>
<p>Dalam konteks pemilu, kontrol sosial masyarakat dapat diaktualisasi antara lain lewat mengritisi para “tokoh/pemain” agar mereka tidak menempuh cara-cara <em>urik lan urik-urikan. </em></p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University                                                                                                   </em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/11/urik">Urik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>