<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jose Mourinho Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/jose-mourinho/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Feb 2026 04:31:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Jose Mourinho Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Arsenal dan Kerikil Terakhir</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/02/28/arsenal-dan-kerikil-terakhir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2026 10:00:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[La Masia]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Meriam London]]></category>
		<category><![CDATA[mikel arteta]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=546447</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tinggal seurat/ rasanya seperti mendaki/ curam dalam puluhan musim/ selalu ada kerikil/ tajam mengganggu/ di tikungan terakhir&#8230;// (Sajak “Titik Rawan Sang Meriam”, 2026) BENARKAH Arsenal sudah melewati fase rawan lewat kemenangan 4-1 atas Tottenham Hotspur dalam Derby London, pekan lalu? Konfiden tentu boleh-boleh saja, bahkan harus; namun Sang Meriam London [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/02/28/arsenal-dan-kerikil-terakhir">Arsenal dan Kerikil Terakhir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-546452 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x40.webp 150w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tinggal seurat/ rasanya seperti mendaki/ curam dalam puluhan musim/ selalu ada kerikil/ tajam mengganggu/ di tikungan terakhir&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Titik Rawan Sang Meriam”, 2026)</strong></p>
<p><strong>BENARKAH</strong> Arsenal sudah melewati fase rawan lewat kemenangan 4-1 atas Tottenham Hotspur dalam <em>Derby</em> London, pekan lalu?</p>
<p>Konfiden tentu boleh-boleh saja, bahkan harus; namun Sang Meriam London tetap tak boleh abai dari pengalaman tiga musim terakhir: ketika optimisme meraih trofi berubah menjadi “kutukan” kegagalan yang belum juga terurai.</p>
<p>Kemenangan atas Spurs memang terasa memberi secercah harapan, setelah sebelumnya Mikhael Odegaard dkk hanya mampu mencatat hasil seri 1-1 melawan Brentford, dan 2-2 melawan Wolverhampton Wanderers. Mentalitas tim besutan Mikel Arteta itu dibuktikan dengan ketenangan yang mengantar untuk mengalahkan Spurs.</p>
<p>Hanya, laga terakhir yang melegakan itu tidak bisa disebut sebagai kerikil utama yang mengganggu. Ada sejumlah tantangan lain yang dihadapi oleh Mikel Arteta untuk benar-benar menuntaskan misinya.</p>
<p>Sejumlah pundit – misalnya Alan Shearer &#8212; menilai, seperti dalam tiga musim sebelum ini, Arsenal mulai memperlihatkan kerapuhan mendekati tahap akhir. Para analis rupanya melihat dua hasil imbang yang dinilai sebagai “kegugupan” menghadapi laga-laga terakhir. Maka, pada satu sisi, kemenangan atas The Lilywhite bisa menjadi jawaban.</p>
<p>Pada 2022-2023, dengan 84 poin Arsenal menempati posisi kedua, kalah bersaing dari Manchester City yang meraih 89 poin. Musim 2023-2024, Arsenal kalah tipis (91-89) dalam klasemen akhir dari Manchester City, lalu pada 2024-2025, dengan angka 74, Bukayo Saka dkk kalah bersaing dari Liverpool (84), setelah sempat tampil menjanjikan di separuh musim.</p>
<p>Kini, fase rawan itu pasti bakal dihadapi dalam partai-partai berikutnya. Agar konsisten dengan fokus akhir, kerikil mentalitas merupakan kendala yang menjadi prioritas untuk disingkirkan. Konsisten menjaga fokus, konsisten tidak terganggu cedera pemain, konsisten tidak kehilangan poin, dan konsisten untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan elementer dalam laga-laga terakhir.</p>
<p><strong>Ketat sampai Akhir</strong><br />
Fokus menatap gelar juara tampaknya kembali memantapkan Arsenal. Yakin dengan diri sendiri, tak tergantung hasil tim-tim lain. Pesaing utamanya, Manchester City, yang tertinggal lima poin, punya “tabungan” satu laga, dan ini akan memperketat suasana rivalitas hingga 10 pertandingan sisa.</p>
<p>Kondisi ini, tampaknya menjadikan laga-laga mendekati akhir musim bakal semakin ketat: betapa trofi liga diraih dengan tidak mudah. Dan, inilah yang akan memberi nilai lebih bagi skuad Arteta, andai mereka mampu menghadirkan sejarah dari penantian panjang sejak terakhir kali juara pada 2004. Di bawah Arsene Wenger, mereka tak terkalahkan sepanjang musim, atau yang dikienal sebagai “The Invincible”.</p>
<p>Di era Liga Primer, Arsenal punya catatan impresif tiga kali juara (1997-1998, 2001-2002, 2003-2004), dan 14 kali meraih trofi FA sebagai rekor di Inggris.</p>
<p>Realitas terkini, mereka sudah terlalu lama menunggu. Hingga selesainya era Arsene Wenger (1996-2018), belum satu trofi liga pun yang terbukukan, baik pada masa kepelatihan Unai Emery (2018-2019), maupun Freddie Ljungberg (2019) hingga Mikel Arteta sejak 2019.</p>
<p>Pada 2026 ini, mereka sudah kehilangan 11 poin dari delapan laga. Sebelum mengalahkan Tottenham Hotspur, dalam dua laga terakhir, dua kali bermain imbang.</p>
<p>Arsenal punya sisa 10 pertandingan, dan masih diunggulkan untuk menjadi juara. Laga yang bakal menjadi <em>big match</em> dan menentukan adalah ketika bertandang ke Etihad untuk menghadapi Manchester City, 18 April mendatang. Dalam pertemuan di Emirates, kedua tim bermain imbang 1-1.</p>
<p><strong>Pembuktian Arteta</strong><br />
Pembuktian kapasitas Mikel Arteta juga menjadi poin menarik tersendiri di balik jalan yang ditempuh The Gunners. Jika sukses meraih trofi, pelatih asal Spanyol itu akan menjajari nama-nama besar Pep Guardiola, Juergen Klopp, Arsene Wenger, atau Jose Mourinho.</p>
<p>Karakter bermain yang dia hadirkan telah memberi kesegaran lewat atraktivitas performa Arsenal dalam tiga musim terakhir. Gabriel Martinelli cs dia racik sebagai tim eksplosif yang bermain menyerang dan enak ditonton.</p>
<p>Dalam beberapa segi, Arteta tampak mengadopsi permainan ofensif ala mentornya, Pep Guardiola. Sebelum berlabuh di Emirates, dia memang pernah tiga tahun (2016-2019) mendampingi sang genius sebagai asisten di Manchester City.</p>
<p>Arteta juga dikenal sebagai pengagum Jose Mourinho. Dia pernah merasakan sentuhan Mou, yang waktu itu menjadi staf di Barcelona B pada 1999. Arteta masih menjadi pemain di Akademi La Masia. Dia mengenal Mou sejak usia 15 tahun, dan mengagumi kemampuan pria Portugal itu dalam membentuk budaya klub.</p>
<p>Pelatih kelahiran 26 Maret 1982 ini, sejak 2019 memoles Arsenal menjadi lebih impresif dengan menjaga keseimbangan lini pertahanan, gelandang, dan penyerang. Musim kini, keputusannya mendatangkan Viktor Gyokeres dari Sporting CP mulai membuahkan hasil. Penyerang asal Swedia itu, yang semula lambat beradaptasi, kini menjadi salah satu sumber gol, termasuk ketika pekan lalu mengalahkan Tottenham Hotspur.</p>
<p><strong>Popularitas</strong><br />
Populatitas Mikel Arteta, harus diakui juga terangkat oleh dinamika yang dihadapi Arsenal dalam tiga musim terakhir, dari tim yang dijagokan meraih gelar akhirnya malah gagal di saat-saat akhir.</p>
<p>Banyak yang mengkritik Arteta belum berhasil menanamkan mentalitas juara, namun realitas “konsistensi” Arsenal dalam persaingan juara pada sisi lain juga membuktikan bahwa dari kapasitas teknis Meriam London ini menjadi kekuatan elite Liga Primer. Yang belum melengkapi adalah kekuatan mental meraih trofi.</p>
<p>Jalan memang masih panjang bagi pelatih muda itu, namun sorotan yang pasti mengikuti adalah seperti apa hasil Arsenal musim ini: apakah bisa mematahkan “kutukan” selalu <em>runner up</em> selama tiga musim sebelumnya, atau bisa pecah telur sebagai pelatih yang sukses mempersembahkan trofi.</p>
<p>Apa kerikil terakhir yang harus dia singkirkan, Mikel Arteta pasti sudah memahami&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/02/28/arsenal-dan-kerikil-terakhir">Arsenal dan Kerikil Terakhir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hanya Rashford Sendiri yang Bisa Mendiagnosis “Penyakitnya”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/02/08/hanya-rashford-sendiri-yang-bisa-mendiagnosis-penyakitnya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2025 10:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Aston Villa]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[marcus rashford]]></category>
		<category><![CDATA[Ole Gunnar Solskjaer]]></category>
		<category><![CDATA[Ralf Rangnick]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=459855</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // siapa yang mengerti/ apa yang sebenarnya terjadi/ dalam dirinya?/ dia berada di simpang masa depan/ hanya dia sendiri yang tahu/ ada apa dan hendak ke mana&#8230;// (Sajak “Simpang Rashford”, Februari 2025) AKHIRNYA dia berlabuh di Villa Park bersama Aston Villa, klub yang meminjamnya hingga akhir musim. Ada apa dengan Marcus [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/02/08/hanya-rashford-sendiri-yang-bisa-mendiagnosis-penyakitnya">Hanya Rashford Sendiri yang Bisa Mendiagnosis “Penyakitnya”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-459867 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// siapa yang mengerti/ apa yang sebenarnya terjadi/ dalam dirinya?/ dia berada di simpang masa depan/ hanya dia sendiri yang tahu/ ada apa dan hendak ke mana&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Simpang Rashford”, Februari 2025)</strong></p>
<p><strong>AKHIRNYA</strong> dia berlabuh di Villa Park bersama Aston Villa, klub yang meminjamnya hingga akhir musim.</p>
<p>Ada apa dengan Marcus Rashford?</p>
<p>Pertanyaan ekstrem mungkin terucap diam-diam: masih inginkah dia menyelamatkan masa depannya? Masihkah dia punya <em>passion</em> kuat bersepak bola?</p>
<p>Kemelut Marcus Rashford di Manchester United berakhir dengan peminjaman ke sessama klub Liga Primer, Aston Villa. Pelatih Ruben Amorim tak mampu lagi memotivasinya untuk bangkit, dan andai kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin Inggris akan kehilangan anak muda yang pernah membuncahkan harapan besar bagi tim nasional “Tiga Singa”.</p>
<p>Legenda MU, Ole Gunnar Solskjaer yang pernah membesut MU pada 2019-2021 pernah mengatakan, Rashford &#8212; dengan sedikit kerja keras lagi &#8212; berada di level Cristiano Ronaldo, baik dalam kapasitas teknis maupun visi.</p>
<p>Kini justru sejumlah legenda Setan Merah “mendukung” keputusan Amorim untuk mengabaikannya dari <em>starting eleven</em>, bahkan dari daftar cadangan. Rashford sudah absen dalam 12 laga MU. Pelatih asal Portugal itu bahkan memberi jawaban menyakitkan, “Daripada memberi tempat kepada Rashford, mending saya memainkan Jorge Vital&#8230;.” Vital adalah pelatih kiper yang berusia 63 tahun.</p>
<p>Terhadap narasi Amorim itu, legenda MU Rio Ferdinand merespons, “Jika saya adalah pemain yang dimaksud oleh pelatih tentang hati, kebanggaan, dan ego saya, itu memalukan. Untuk seseorang yang mempertanyakan kehadiran saya dalam memberi 100 persen kepada tim, itu berarti cara mengusir Anda dengan jalan pintas”.</p>
<p>Ferdinand, seperti dikutip dari <em>Sport Bible</em> (<em>ccnindonesia.com</em>, 28/1/2025) mengatakan, setiap pemain punya periode penurunan performa hingga kepercayaan diri. Dia menyayangkan Amorim yang meragukan pemain ketika berada dalam situasi yang tak mendukung.</p>
<p>Dia berpendapat, seharusnya seorang pelatih mengajak pemain berdiskusi empat mata. Hal itu tersebut akan lebih berguna untuk pemain alih-alih disalahkan di depan media.</p>
<p>Terlepas dari reaksi Ferdinand, narasi Amorim itu boleh jadi adalah cara lain untuk memotivasi Rashford. Boleh jadi pula merupakan ungkapan kekesalan melihat progres sang striker dalam berbagai latihan.</p>
<p>Legenda yang lain, Gary Neville dan Paul Scholes mengecam Rashford, yang tidak juga bangkit dari situasinya. Pernyataan bahwa dia menginginkan tantangan baru di luar MU, menciptakan situasi complicated.</p>
<p>Rashford tersandera oleh sikapnya sendiri. Ruben Amorim menyiapkan opsi: melepas atau meminjamkan. Dengan pernyatannya, tersirat penyerang 27 tahun itu sudah tidak nyaman di lingkungan Old Traford, dan tidak bisa beraptasi dengan filosofi permainan Amorim.</p>
<p>Klub-klub peminat seperti Tottenham Hotspur, Arsenal, Borussia Dortmund, dan Barcelona, terkendala oleh harga; sedangkan AC Milan yang semula tertarik meminjam, belakangan menyatakan mundur.</p>
<p>Rashford juga memasang syarat berat: klub itu punya prospek juara, dan dia bisa kembali ke tim nasional yang kini diarsiteki Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu akan mengumumkan skuadnya Maret mendatang.</p>
<p>Setelah memastikan peminjaman ke Aston Villa, Rashford menyatakan, keputusan itu bukan hal yang sulit. Dia menjadi pemain kedua setelah Antony yang juga dipinjamkan ke Real Betis.</p>
<p>Peminjaman ke Aston Villa hingga akhir musim, boleh dibilang sebagai jalan keluar dari “kemelut psikologis” yang mengerumuni. “Saya ingin berterima kasih kepada Manchester United dan Aston Villa karena telah mewujudkan kesepakatan pinjaman ini,” tulisnya di akun media sosial Instagram.</p>
<p>“Saya beruntung karena beberapa klub mendekati, tetapi Aston Villa merupakan keputusan yang mudah. Saya sangat mengagumi cara Aston Villa bermain musim ini, dan ambisi manajernya”.</p>
<p>Di bawah Ruben Amorim, Rashford hanya dimainkan enam kali dari total 19 laga MU, dengan mencetak tiga gol. Terakhir dalam laga melawan Viktoria Plzen di Liga Europa yang berakhir 2-1, Desember lalu.</p>
<p>Sebelum keputusan peminjaman ke Aston Villa, secara realistis Rashford hanya memiliki dua opsi, yakni dipinjamkan ke Juventus hingga akhir musim, atau pindah ke Barcelona, yang sejak 2018 sebenarnya sudah tertarik. Namun kendala keuangan membuat operasi transfer Rashford menjadi sulit, karena Barca butuh menjual pemain untuk mematuhi ketatnya peraturan keuangan La Liga.</p>
<p>Rashford tidak menunjukkan ketertarikan terhadap minat Tottenham Hotspur, West Ham, dan Borussia Dortmund. Masalah utama yang menyulitkan kepindahan itu adalah gajinya. Gaji tinggi lebih dari 300 ribu pound per pekan, menjadi kendala bagi klub peminat. Beberapa klub bahkan enggan membayar 50 persen dari gaji per minggu. Dia berada dalam kompleksitas keadaan.</p>
<p><strong>Diorbitkan Louis van Gaal</strong><br />
Pada 2016 Marcus Rashford diorbitkan oleh Louis van Gaal, diberi kepercayaan untuk bermain di tim utama. Bocah akademi yang waktu itu masih 17 tahun, menjawab dengan performa memesona. MU pun menyambutnya sebagai <em>wonderkid</em> baru.</p>
<p>Debutnya melawan Midtjylland di Liga Europa, 25 Februari 2016 ditandai dengan kehebohan. Sebagai pemain pengganti karena Anthony Martial cedera, dia mencetak dua gol. Dia terpilih sebagai <em>man of the match</em>, membukukan rekor sebagai pencetak gol termuda MU di kompetisi Eropa, melewati George Best, sang legenda.</p>
<p>Tiga hari kemudian, Rashford melanjutkan keajaiban dalam pertandingan melawan Arsenal. Dengan gol pertamanya di Liga Primer, dia terpilih lagi sebagai pemain terbaik. Baru setelah suksesi pelatih di MU, “penyakit” Rashfortd muncul. Pada era Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, dan Ralf Rangnick, penampilannya berubah labil, dan baru memulih di masa Erik Ten Hag, namun dia tetap menjadi langganan timnas di bawah Gareth Southgate.</p>
<p>Sepanjang 239 kali mengenakan jersey MU, Rashford membukukan 76 gol. Sejak 2016, dia telah 53 kali bermain untuk tim nasional Inggris dengan 16 gol.</p>
<p><strong>Puncak Kematangan</strong><br />
Dengan usia 27, Rashford seharusnya berada di puncak kematangan, namun sinarnya meredup di bawah bayang-bayang <em>wonderkid</em> baru MU, Amad Diallo. Bahwa Amorim tak pernah memasukkannya dalam <em>starting eleven</em>, pasti dengan pertimbangan bahwa sang penyerang sedang “tidak baik-baik saja”.</p>
<p>Jadi, ada apa dengan Rashford, dan mengapa labilitas permainannya seolah-olah menguapkan harapan yang pernah begitu membubung sebagai bintang masa depan Inggris?</p>
<p>Musim ini, penyerang yang pada awalnya dikenal dengan determinasi tinggi, kecepatan, dan seni mencetak gol ala “Turn Cruyff” itu seperti kehilangan semua keistimewaannya.</p>
<p>Apakah dengan usia yang relatif masih muda itu Rashford akan kembali? Akankah dia menemukan klub dan pelatih dengan pendekatan yang tepat untuk mengembalikan talentanya?</p>
<p>Tentu sangat disayangkan, apabila pada akhirnya dia kehilangan kesempatan untuk bersaing dengan para <em>wonderkid</em> baru Inggris: dari Declan Rice, Phil Foden, Ollie Watkins, Cole Palmer, atau Kobbie Mainoo.</p>
<p>Masa depan Rashford berada di tangan dia sendiri. Dialah yang bisa mendiagnosis sendiri apa sebenarnya “penyakit” yang dirasakan. Beberapa kali dia pernah berada dalam situasi seperti ini, dan membutuhkan picu kebangkitan menjadi ”Rashford seperti semula”.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/02/08/hanya-rashford-sendiri-yang-bisa-mendiagnosis-penyakitnya">Hanya Rashford Sendiri yang Bisa Mendiagnosis “Penyakitnya”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sang Penyair di Teater Impian</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/11/09/sang-penyair-di-teater-impian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2024 10:00:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[David Moyes]]></category>
		<category><![CDATA[Erik Ten Hag]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Louis van Gaal]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Carrick]]></category>
		<category><![CDATA[Ole Gunnar Solskjaer]]></category>
		<category><![CDATA[Ralf Rangnick]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan Giggs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=445480</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // kata-katanya tertata/ seperti baris-baris puisi/ yang menyihir semua/ inikah mantra yang ditunggu/ untuk meniupkan semangat/ mengembalikan aura?// (Sajak &#8220;Sang Penyair&#8221;, 2024) SANG Penyair. Begitulah Cristiano Ronaldo menyebut Ruben Filipe Marquez Amorim, yang pekan lalu resmi diumumkan sebagai suksesor Erik Ten Hag di Old Trafford, dan Senin lusa akan memulai pekerjaannya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/09/sang-penyair-di-teater-impian">Sang Penyair di Teater Impian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-445483 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x40.webp 150w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// kata-katanya tertata/ seperti baris-baris puisi/ yang menyihir semua/ inikah mantra yang ditunggu/ untuk meniupkan semangat/ mengembalikan aura?//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Sang Penyair&#8221;, 2024)</strong></p>
<p><strong>SANG</strong> Penyair. Begitulah Cristiano Ronaldo menyebut Ruben Filipe Marquez Amorim, yang pekan lalu resmi diumumkan sebagai suksesor Erik Ten Hag di Old Trafford, dan Senin lusa akan memulai pekerjaannya.</p>
<p>Pelatih Sporting CP Lisbon yang berusia 39 tahun &#8212; hanya beberapa pekan lebih tua dari Ronaldo &#8212; itu, menjadi deret kesekian manajer yang membesut Manchester United setelah Alex Ferguson pensiun pada 2013.</p>
<p>Dari David Moyes, Ryan Giggs (interim), Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick (interim), Ralf Rangnick, hingga Erik Ten Hag.</p>
<p>Dan, belum satu pun di antara nama-nama itu yang mampu mengembalikan stabilitas performa Setan Merah ke wilayah elite Liga Primer, dan apalagi Eropa.</p>
<p>Van Gaal memberi Piala Liga, Mourinho mempersembahkan gelar juara Liga Europa dan sempat berada di urutan kedua klasemen liga, sedangkan Ten Hag mempersembahkan Piala FA dan Piala Liga (Piala Carabao), namun itu belum cukup memosisikan Pasukan Theater of Dream ke habitat elite di era Sir Alex.</p>
<p>PemilIhan Amorim bisa dibilang mengejutkan, setelah manajemen MU menimbang sejumlah nama yang beredar. Antara lain yang semula menguat adalah Zinedine Zidane, Graham Potter, Ruud van Nistelrooy, dan Xavi Hernandez.</p>
<p>Dari CV-nya, Amorim berhasil membawa Sporting CP sebagai klub yang bangkit dan tampil cukup stabil di Liga Portugal. Dia dua kali memberi trofi juara yang sudah 20 tahun dirindukan.</p>
<p>Amorim memberi akhir mengesankan bagi Sporting, yang mengalahkan Manchester City 4-1 di Liga Champions. Namun dia segera mengingatkan agar tidak mengaitkan hasil itu dengan gambaran permainan MU nanti. Dia akan memulai kiprah kompetisi dengan membawa Setan Merah ke laga tandang melawan Ipswich Town, 24 November mendatang.</p>
<p>Pilihan manajemen MU mendarangkan Amorim juga seperti ikhtiar, untuk merekatkan kembali &#8220;harmoni&#8221; antara MU dengan klub Portugal tersebut. Sebelumnya, Alex Ferguson sukses membawa salah satu produk Sporting, Cristiano Ronaldo ke Old Trafford pada 2003, yang belakangan menjadi legenda klub.</p>
<p><strong>Pribadi Supel</strong><br />
Mengapa Ruben Amorim disebut sebagai Sang Penyair?</p>
<p>Pakar sepak bola Portugal, Marcus Alves menilai, Amorim adalah pribadi yang supel dan mudah berbaur dengan pemain-pemain lain.</p>
<p>Alves mencatat, Ronaldo memberi predikat itu, karena kata-kata motivasi Amorim &#8212; yang 14 kali memperkuat tim nasional Portugal &#8212; bisa membakar semangat rekan-rekannya.</p>
<p>Dan, sosok seperti itulah yang akan menjadi pemimpin kesekian dalam &#8220;spekulasi&#8221; keputusan manajemen MU, yang sejak 2013 belum menemukan figur tepat untuk menggantikan Sir Alex.</p>
<p>&#8220;Saya bersedia ke MU untuk menghindari zona nyaman,&#8221; kata Amorim yang diikat The Red Devils sampai 2027, mulai 11 November 2024, dengan opsi perpanjangan setahun. Dia akan dikontrak dengan gaji Rp 170 miliar.</p>
<p>Amorim tak bisa menunggu hingga musim berakhir, karena MU membutuhkan nakhoda baru di pertengahan periode ini. Boleh dikatakan, MU &#8220;membajak&#8221; manajer Sporting tersebut, dan keputusan Amorim itu adalah salah satu yang disesali fans mereka.</p>
<p><strong>Sudah Terlalu Lama</strong><br />
Tentu fleksibilitas dan kemampuan Amorim dalam memotivasi akan menjadi modal tersendiri di tengah berbagai elemen kebutuhan MU untuk bangkit dalam stabilitas permainan. Fans MU sudah bersabar terlalu lama, justru ketika tetangga mereka, Manchester City kini menjadi kekuatan utama Liga Primer dan salah satu klub besar Eropa dengan sosok pelatih genius Pep Guardiola.</p>
<p>Mikael Arteta di Arsenal, Arne Slot di Liverpool, Hansi Flick di Barcelona, atau Enzo Maresca bersama Chelsea adalah sebagian contoh transisi suksesi yang memberi harapan dan langsung &#8220;klik&#8221; dengan performa klub.</p>
<p>Lalu apakah Ruben Amorim akan menjadi figur yang tepat untuk menghela kebangkitan MU dari kondisi sekarang?</p>
<p>Pembaruan manajemen klub dengan kepemilikan saham yang baru, Sir Jim Ratchcliffe sudah berlangsung. Pembelian pemain sesuai yang diminta Erik Ten Hag juga sudah dilakukan. Apakah nanti pada jendela transfer bulan Januari 2025, Ruben Amorim juga diberi ruang untuk merekrut sejumlah pemain sesuai kebutuhan taktiknya?</p>
<p><strong>Bukan Revolusi</strong><br />
&#8220;Bedah jantung&#8221; yang dikehendaki Ralf Rangnick beberapa waktu lalu, bagaimanapun adalah formula yang sebenarnya belum jelas: seperti apa konsepnya?</p>
<p>Gambaran tentang sebuah revolusi tampaknya tidak akan berlangsung di era Amorim. Kemungkinan dia membutuhkan sejumlah amunisi baru, bisa diprediksi; namun untuk berlangsungnya perubahan ekstrem tidak akan dia lakukan. Dia bakal melakukan penyegaran dari sisi pendekatan motivasi di ruang ganti, skema taktik dalam formasi yang dia yakini, dan filosofi.</p>
<p>Mungkin gerak perubahan Amorim di MU berbeda dari langkah Juergen Klopp ketika pada 2016 berlabuh di Liverpool dan dia bawa filosofi gegenpressing, atau Pep Guardiola yang mendoktrinkan possession football ala Barcelona dan sekarang menjadi &#8220;wajah&#8221; Manchester City.</p>
<p>Yang jelas, ketika tak sedikit fans Sporting CP marah karena pelatih idolanya berpindah klub di tengah musim, maka pada sisi sebaliknya suporter MU akan membuka babak baru harapan.</p>
<p>MU akan memulai era penyegaran, tentu dengan spekulasi baru. Siapa tahu, siapa tahu; dan menguatkan chemistry antara para penggawa Teater Impian dengan daya imajinasi Sang Penyair dari Lisbon&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>,<em> wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/09/sang-penyair-di-teater-impian">Sang Penyair di Teater Impian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dunia Pelatih, Batas Tipis Trofi dan Ancaman Pemecatan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/10/26/dunia-pelatih-batas-tipis-trofi-dan-ancaman-pemecatan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Oct 2024 10:00:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Arsene Wenger]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Juergen Klopp]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Roberto Mancini]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=443146</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // mereka bagai berjalan/ di titian serambut dibelah tujuh/ itukah dunianya?/ berada di antara trofi dan ancaman suksesi/ senyaman apakah bergerak/ di dunia yang penuh spekulasi itu?// (Sajak “Dunia Pelatih”, 2024) BARU saja, Asosiasi Sepak Bola Arab Saudi (KFA) mengumumkan pemecatan pelatih nasional Roberto Mancini. Ya, akhirnya&#8230; Seharusnya, pelatih asal Italia [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/10/26/dunia-pelatih-batas-tipis-trofi-dan-ancaman-pemecatan">Dunia Pelatih, Batas Tipis Trofi dan Ancaman Pemecatan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-443151 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/10/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/10/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/10/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/10/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// mereka bagai berjalan/ di titian serambut dibelah tujuh/ itukah dunianya?/ berada di antara trofi dan ancaman suksesi/ senyaman apakah bergerak/ di dunia yang penuh spekulasi itu?//</em><br />
<strong>(Sajak “Dunia Pelatih”, 2024)</strong></p>
<p><strong>BARU</strong> saja, Asosiasi Sepak Bola Arab Saudi (KFA) mengumumkan pemecatan pelatih nasional Roberto Mancini. Ya, akhirnya&#8230;</p>
<p>Seharusnya, pelatih asal Italia itu bertugas sampai 2027, namun hasil kurang meyakinkan dalam kualifikasi Piala Dunia Grup C Zona Asia mempercepat keputusan KFA.</p>
<p>Mancini, yang pernah sukses bersama Manchester City, Internazionale Milan, dan memberi trofi Euro 2020 kepada Italia, mencatat tujuh kemenangan, lima kali seri, dan enam kekalahan selama menangani The Green Falcon. KFA pun memutuskan untuk memecat Mancini lebih cepat.</p>
<p>Saat menukangi timnas Arab Saudi, dia menjadi pelatih termahal dunia dalam sejarah dengan gaji Rp 413 miliar per musim. Artinya, KFA harus mengompensasi hak Mancini sebelum masa kontraknya selesai.</p>
<p>Baca Juga :<a href="http://Masih Adakah Peluang bagi Jay Idzes dkk Lolos ke 2026?"><span style="font-size: 10pt;">Masih Adakah Peluang bagi Jay Idzes dkk Lolos ke 2026?</span></a></p>
<p>Sementara itu, di Liga Primer, Erik Ten Hag makin dekat dengan pemecatan dari Manchester United. Hasil seri 1-1 melawan Fenerbahce di Liga Europa, dua hari lalu memperkuat kemungkinan itu. Tinggal menunggu hari-hari manajemen MU menetapkan, bahwa tidak ada jalan yang lebih tepat untuk membuat penyegaran selain dengan memberhentikan pelatih asal Belanda itu.</p>
<p>Ten Hag benar-benar sudah di ujung tanduk. Hingga sejauh ini, performa The Red Devils belum kunjung berkembang. “Bedah jantung” yang pernah disampaikan pelatih sebelumnya, Ralf Rangnick, sudah diterjemahkan manajemen MU dengan merombak skuad, namun labilitas permainan Manchester Merah masih menjadi persoalan yang belum mendapat kunci jawaban sejak dari 2013, ketika Alex Ferguson memutuskan pensiun. Berganti-ganti manajer belum mendatangkan perbaikan bagi Setan Merah.</p>
<p><strong>Batas Tipis</strong><br />
Persoalan Mancini dan hari-hari yang dihadapi Erik Ten Hag adalah gambaran yang menegaskan, pelatih berada dalam posisi spekulasi, batas tipis antara “aman” dan “tidak aman”, antara cocok dan tidak cocok, atau antara sukses meraih trofi atau gagal menunjukkan daya saing.</p>
<p>Apakah ”dunia pelatih” seperti ini adalah bentuk lain dari risiko profesionalitas? Atau ini hanya konsekuensi dari spekulasi-spekulasi ketika dia menerima pinangan untuk menangani klub tertentu? Menemukan atau tidak menemukan <em>chemistry</em> dalam menerapkan filosofi dan taktik permainan?</p>
<p>Buktinya, kita mengenal Arne Slot, yang tampak segera cocok begitu dipercaya untuk meneruskan tugas Juergen Klopp di Liverpool. Mikael Arteta juga terlihat pas melanjutkan kiprah Unai Emery bersama Arsenal sejak 2019.</p>
<p>Kecocokan pelatih yang langsung ber-<em>chemistry</em> dengan klub juga dirasakan oleh Hansi Flick, pengganti Xavi Hernandez di Barcelona.</p>
<p>Blaugrana kembali menjelma menjadi kekuatan di La Liga. Barca sungguh meyakinkan. Raphinha dkk baru sekali kalah dari 10 laga di liga. Penampilan di Liga Champions ketika melibas Bayern Muenchen 4-1 empat hari lalu, menunjukkan mereka sebagai raksasa Eropa.</p>
<p>Menjelang El Clasico melawan Real Madrid, hasil meyakinkan ketika mengalahkan Bayern menjadi modal penting. Konsistensi taktik Hansi Flick akan diuji oleh kematangan Carlo Ancelotti.</p>
<p>Sementara itu, Alex Ferguson, ketika mulai meracik MU dari 1986, baru pada 1990 meraih gelar, lalu meraih sukses dan bertahan hingga 2013. Juga Jose Mourinho, yang membersamai Chelsea dalam rekatan kimiawi dari 2003.</p>
<p>Yang agak berbeda adalah Pep Guardiola. Selepas meninggalkan Barcelona pada 2012 dengan membukukan 14 trofi, dia menangani Bayern Muenchen dengan raihan tiga gelar Bundesliga, dua Piala Jerman, satu Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub. Lalu bersama Manchester City hingga sekarang Pep meraih 17 piala.</p>
<p>Dia tercatat sebagai manajer yang paling lama bertahan di klub Premier League saat ini. Pelatih asal Spanyol itu datang ke Manchester Biru pada 2016, ketika di Liga Primer masih ada “datuk-datuk” Arsene Wenger (Arsenal), Jose Mourinho (Manchester United), dan Juergen Klopp (Liverpool).</p>
<p>Di The Citizens, Pep boleh dibilang tidak pernah dirongrong ancaman pemecatan. Ya, karena City betul-betul stabil di level utama, ketika tim-tim rival seperti Arsenal, MU, Chelsea, Liverpool, dan Tottenham Hotspur berkutat dengan problem stabilisasi permainan.</p>
<p>Dalam wawancaranya dengan <em>Sky Sports</em> sebagaimana dikutip <em>detik.com</em> (24/10-2024), manajer 53 tahun itu menguraikan, “Ketika Anda sudah sembilan tahun (di pekerjaan ini), Anda jadi yang terlama. Di dalam sepak bola, jika Anda tidak juara, atau Juergen pensiun, ketika Anda tidak menang, maka Anda mengganti manajernya. Inilah dunia kami”.</p>
<p>“Jawaban sederhananya, saya masih di sini karena kami juara. Kalau tidak, saya tidak akan di sini &#8212; bahkan rasa hormat dan kepercayaan yang kami miliki satu sama lain tidak ada pada hierarki dengan saya, dan saya dengan hierarki &#8212; saya tidak akan berada di sini. Anda memang harus juara di dalam bisnis ini. Ini adalah satu-satunya pekerjaan ketika orang-orang sangat menuntut untuk mendepak Anda. Di dalam profesi kami, Anda harus menerimanya,” ungkap Pep.</p>
<p><strong>Syarat Kesiapan</strong><br />
“Kesadaran posisi” itu, bagaimanapun adalah bukti bahwa salah satu syarat pelatih adalah kesiapan untuk berjalan dengan segala kemungkinan: antara terus dipercaya, atau menerima kenyataan diberhentikan.</p>
<p>Roberto Mancini boleh jadi sukses di luar tugasnya sekarang, namun <em>chemistry</em>-nya dengan The Green Falcon boleh jadi tidak dalam kondisi “pas”, dan dia gagal membawa tim ke performa terbaik untuk lolos ke Piala Dunia 2026.</p>
<p>Sedangkan Erik Ten Hag, seperti deretan pelatih pasca-Alex Ferguson, belum berhasil membentuk MU dalam kekuatan yang mampu bersaing di level elite Liga Primer musim ini.</p>
<p>Kecocokan, <em>timing,</em> juga formula yang tepat acapkali menjadi penentu kesuksesan seorang pelatih. Kita pasti dibuat berpikir dengan penuh spekulasi, siapa pun nanti pengganti Mancini, Ten Hag, atau yang lainnya.</p>
<p>Tak semata-mata suar karena nama besar&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tenga</em>h ==</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/10/26/dunia-pelatih-batas-tipis-trofi-dan-ancaman-pemecatan">Dunia Pelatih, Batas Tipis Trofi dan Ancaman Pemecatan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 10:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Sacchi]]></category>
		<category><![CDATA[Bob Paisley]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=418524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;// (Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024) DI mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola? Saya takkan ragu menjadikannya leader di tengah kampiun-kampiun yang memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-418540 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024)</strong></p>
<p><strong>DI</strong> mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola?</p>
<p>Saya takkan ragu menjadikannya <em>leader</em> di tengah kampiun-kampiun yang memiliki “maqam” istimewa.</p>
<p>Dengan Bob Paisley, Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Jose Mourinho dia lewat dan jauh memimpin. Dengan Alex Ferguson, lalu legenda-legenda Italia Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, dia juga jauh di depan.</p>
<p>Italiano kelahiran 1959 itu adalah “pahlawan dalam diam”, yang tak banyak berbla-bla-bla, dan lebih asyik bersama pipa cangklongnya. Dia tak seriuh para taktikus yang memiliki kekhasan karakter dalam mengekspresikan ungkapan hati.</p>
<p>Antara yang seekspresionis kejeniusan Pep, yang terkesan arogan ala Mourinho, yang tak henti berpikir gaya Zidane, yang berwajah “profesor” seperti Vicente del Bosque, yang gelisah mencari solusi ala Ferguson, atau yang bergejolak ala Capello.</p>
<p>Carlo jauh lebih tenang dengan mengesankan wajah <em>cool</em> mendalami setiap referensi pertandingan dengan sikap yang matang. Begitulah ekspresi gelandang elegan AC Milan era 1980-an itu.</p>
<p>Lima gelar Liga Champios untuk dua klub berbeda, yakni Real Madrid (2014, 2022, dan 2024), dan AC Milan (2003, 2007), serta trofi-trofi liga bersama Milan, Madrid, Chelsea, Paris St Germain, dan Bayern Muenchen adalah bukti bahwa racikan Carlo bukan skema biasa. Semua dia hasilkan dari pendekatan eksepsional.</p>
<p>Belum lagi sederet gelar bersama FC Parma dan Milan yang dia bendaharakan dalam perjalanan karier yang penuh liku dan eksperimen.</p>
<p><strong>Dinamisme Calcio</strong><br />
Gelimang trofi Carlo Ancelotti layak menobatkannya sebagai pelatih besar yang pernah ada dalam sejarah sepak bola. Lima kali meraih trofi dengan dua klub berbeda adalah rekor yang belum didekati oleh pelatih mana pun.</p>
<p>Dia juga dikenal sebagai peracik taktik yang sukses mengelola pemain asal Brazil, yang menyebabkan federasi sepak bola negeri itu sempat tergoda dengan ide untuk merekrutnya sebagai arsitek Selecao, pelatih tim nasional pertama dari luar negara yang bertradisi besar sepak bola itu.</p>
<p>Sederhana saja pendekatannya. Dan, itu bisa disimak dari basis pemikiran yang dia tuang dalam kertas kerja untuk studi kepelatihannya di Coverciano, “<em>Il Futuro del Calcio Piu Dinamicita</em>” atau “Masa Depan Sepak Bola: Lebih Banyak Kedinamisannya”.</p>
<p>Dari sejak 1993, Carlo Ancelotti telah bergulat di banyak klub. Dari Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Real Madrid, Bayern Muenchen, Napoli, Everton, dan kembali ke Madrid hingga sekarang.</p>
<p>Mula-mula dia meyakini skema 4-4-2 dengan menolak <em>playmaker</em> ofensif. Maka ia kurang membutuhkan <em>fantasista</em> bertipe Roberto Bggio. Namun sejak mengakomodasi Zidane di Juventus pada 1999, dia mulai mencoba-coba formasi dengan mengutamakan dinamisasi lini tengah.</p>
<p>Apalagi setelah di AC Milan. Dia menjawab kritik sang pemilik, Silvio Berlusconi yang tidak suka timnya berskema defensif. Carlo menemukan formasi “pohon natal” dengan Filippo Inzaghi sebagai tombak penyelinap. Dari lini tengah kreatif ala Rivaldo &#8211; Rui Costa ke duet Clarence Seedorf &#8211; Kaka, ditopang metronom yang jempolan mengatur permainan, Andrea Pirlo.</p>
<p><strong>Pencoba dan Penemu</strong><br />
Tak pelak, Carlo Ancelotti adalah pencoba dan penemu skematika, yang dimulai dari kiprahnya di Parma, Juventus, dan AC Milan.</p>
<p>Lalu apa yang dia lakukan di Real Madrid?</p>
<p>Dia mewarisi tradisi semangat kebesaran klub yang memudahkannya menyuntikkan motivasi. Dia juga sukses menstabillisasi permainan Los Blancos yang boleh dibilang musim ini tak terongrong oleh Barcelona.</p>
<p>“Kompetisi ini memberikan kebahagiaan buat saya sebagai pelatih dan pemain. Saya beruntung bisa bekerja sama di klub terbaik dunia setiap hari,” ungkap Don Carlo seperti dikutip dari situs UEFA.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2024 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[DFB Pokal]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Europa]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xabier “Xabi” Alonso Olano]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=409043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia simpan letup kecerdasan/ dari terjemah keanggunan/ tentang dominasi/ tentang intensitas/ tentang kendali/ lalu dia pancarkan cahaya/ tentang kemenangan/ tentang harapan trofi-trofi// (Sajak “Keanggunan Xabi”, 2024) NARASI apakah yang tepat untuk menggambarkan Xabier “Xabi” Alonso Olano, arsitek yang sebegitu cepat melambungkan Bayer Leverkusen ke khazanah “suasana menakutkan” di Bundesliga saat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan">Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-409061 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia simpan letup kecerdasan/ dari terjemah keanggunan/ tentang dominasi/ tentang intensitas/ tentang kendali/ lalu dia pancarkan cahaya/ tentang kemenangan/ tentang harapan trofi-trofi//</em><br />
<strong>(Sajak “Keanggunan Xabi”, 2024)</strong></p>
<p><strong>NARASI</strong> apakah yang tepat untuk menggambarkan Xabier “Xabi” Alonso Olano, arsitek yang sebegitu cepat melambungkan Bayer Leverkusen ke khazanah “suasana menakutkan” di Bundesliga saat ini?</p>
<p>Kecerdasan dalam keanggunan.</p>
<p>Kira-kira seperti itulah kristal apresiasi yang tepat untuk pria kelahiran 25 November 1981 itu, yang pernah meniti karier bermain di Real Sociedad, Eibar, Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Muenchen.</p>
<p>Dengan pendekatan filosofis yang memusat pada penguasaan bola lewat fokus dominasi lini tengah dan permainan dinamis, Xabi menjalankan strategi kepelatihan dengan doktrin dominasi, intensitas, dan kendali sejak <em>kick off</em>. Dia mentransformasikan mentalitas pemenang, yang dalam dua musim ini menjadi karakter kuat performa Die Werkself.</p>
<p>Xabi, yang seangkatan dengan pelatih Barcelona Xavi Hernandez, dan <em>coach</em> Arsenal Mikael Arteta, sedang menjadi pusat perbincangan. Hingga pekan kemarin, Leverkusen memimpin klasemen Bundesliga, unggul jauh atas “raja Jerman” Bayern Muenchen; dan yang dahsyat: hingga pekan ke-21 tak terkalahkan dalam 40 laga di semua ajang.</p>
<p>Rekor 40 kali tak terkalahkan Leverkusen di bawah Xabi, bertambah menjadi 41 kali tanpa kalah, setelah pada Jumat 12 April 2024 dini hari WIB, menang 2-0 atas West Ham United di Liga Europa.</p>
<p>Pada musim sebelumnya, 2022-2003, Leverkusen menghuni peringkat keenam. Kini mentalitas pemenang terasa benar melecut Patrik Schick cs untuk mengadang ambisi Muenchen dan Harry Kane, kapten Inggris yang tengah berusaha mewujudkan impian meraih trofi pertama dalam kariernya.</p>
<p><strong>Kecerdasan</strong><br />
Puja-puji akan kecerdasan Xabi Alonso bisa disimak dari kesimpulan Sid Lowe, penulis sepak bola <em>The Guardian</em> dalam sebuah <em>podcast</em>. “Dia penganut metode Pep Guardiola, Jose Mourinho, dan Carlo Ancelotti. Dia telah mengambil sedikit dari semuanya, dan dia jelas sangat cerdas&#8230;”</p>
<p>Xabi pernah diasuh oleh Mourinho dan Don Carlo di Madrid, juga merasakan sentuhan genius Pep di Bayern Muenchen. Pelatih legendaris Madrid, John Toshack mengagumi kecerdasan Xabi. Menurut dia, cara berpikir Xabi lebih cepat dari siapa pun. Jangkauan umpannya pun sempurna.</p>
<p>Naluri kepelatihannya mulai tampak sejak masih bermain. Ketika menjadi bagian dari skuad Pep Guardiola di Allianz Arena, dia intens mengamati filosofi sang genius yang juga berasal dari Spanyol itu. Pep, katanya, selalu memiliki rasa ingin tahu untuk memahami permainan tersebut.</p>
<p>Dan, bukankah doktrin dominasi, intensitas, dan kontrol adalah seni taktikal yang diusung Pep baik ketika mengarsiteki Barcelona, Bayern, maupun Manchester City sekarang? Filosofi itu melahirkan performa dengan wajah khas di masing-masing liga.</p>
<p><strong>Apa Rahasianya?</strong><br />
Yang kini menjadi perhatian, bagaimana dia &#8212; yang baru pada 2022-2023 menjalani debut kepelatihan &#8212; bisa secepat itu meroket dan memberi pakem permainan ke level Leverkusen sebagai penantang kuat juara?</p>
<p>Ketika manajemen Bay Arena merekrutnya sebagai suksesor Gerardo Seoane, klub sedang dalam kondisi prihatin: sampai pekan kedelapan musim 2022-2023 menempati posisi ke-16. Kemenangan 4-0 atas Schalke mewarnai kesumringahan debut Xabi, namun kemudian dia sempat diragukan karena kalah dalam enam laga. Perlahan-lahan, dia mencoba mengembalikan konfidensi tim, dan akhirnya menempati peringkat enam dengan 50 poin.</p>
<p>Musim kedua Xabi ditandai buncah harapan dan rekor istimewa, yakni tak terkalahkan dalam 40 laga di tiga ajang hingga pekan ke-21. Bahkan bukan tidak mungkin, Leverkusen bakal mendulang <em>treble</em> jika mampu memenangi titel Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Europa.</p>
<p>Berbagai analisis mencoba menyimpulkan rahasia sukses pelatih muda itu.</p>
<p>Pertama, dia memahami potensi pemain, sehingga bisa menerapkan pendekatan yang tepat untuk mengeksplorasi performa mereka. Yang paling menonjol, bagaimana dia mengangkat kembali kepercayaan diri Florian Wirtz yang sempat absen lama lantaran dirundung cedera.</p>
<p>Wirtz, yang disebut-sebut sebagai “Lionel Messi Leverkusen”, dinilai mampu menerjemahkan strategi Xabi dengan peran sebagai<em> false 9</em>. Dia sukses mengisi kekosongan akibat cedera Patrik Schick.</p>
<p>Dalam sebuah wawancara dengan <em>Daily Mail,</em> Xabi secara khusus memberi penilaian terhadap Wirtz. Menurutnya, ada pemain bagus di lapangan, ada pula pemain yang terlihat bagus bisa melakukan hal-hal bagus, tetapi belum tentu efisien. Wirtz efisien, karena tahu bagaimana dan kapan memberi umpan-umpan sederhana. “Ini tidak selalu tentang membuat langkah yang paling cemerlang, namun yang terbaik dan paling cerdas,” ungkapnya.</p>
<p>Xabi juga mampu memaksimalkan peran Amine Adli, dan Jeremi Frimpong dalam formasi menyerang yang cepat. Frimpong menonjol sebagai sayap kanan yang efektif menyisir pertahanan lawan.</p>
<p>Kedua, dia efektif dalam mengelola bursa transfer. Leverkusen menjual Moussa Diaby, Bakker, dan Kerem Demirbay. Rekrutannya, Victor Okoh Bonifare, Alejandri Grimaldo, Granit Xhaka, Jonas Hoffmann, dan Nathan Tella mampu melebur dalam peran dan taktik yang dia doktrinkan.</p>
<p>Ketiga, Xabi mampu menyusun taktik yang kini menjadi standar Leverkusen. Dilatarbelakangi reputasi sebagai gelandang pengatur serangan yang juga piawai berperan sebagai labirin pertahanan, Xabi menekankan mencetak gol bukan hanya menjadi tanggung jawab penyerang. Semua harus bisa mencetak gol.</p>
<p>Lebih dari itu, “kepengikutan” pemain oleh kekuatan karisma yang melekat pada performa personal, menjadi daya penyatu. Dia mencontohkan perihal komitmen dan moralitas, misalnya tak merespons godaan Bayern Muenchen, Barcelona, dan Liverpool untuk menjadi arsitek suksesor.</p>
<p>Sebagai seorang profesional, wajar apabila suatu saat nanti dia memutuskan untuk mengembangkan capaian karier, namun setidak-tidaknya hingga saat ini, hati dan rasa tercurah hanya untuk Bayer Leverkusen.</p>
<p>Visi tentang rekor capaian Der Werkself untuk memenangi trofi Bundesliga kali pertama, atau titel DFB Pokal kali kedua (setelah 1992-1993), dan juara Liga Europa, menjadi urat tanggung jawab yang sepadan dengan reputasi keanggunan tampilan saat memilari lini tengah Liverpool, Muenchen, dan dalam 114 kali memperkuat tim nasional Spanyol.</p>
<p>Xabi memperkaya khazanah genius muda yang kini malang melintang memimpin klub-klub besar dengan penuh gaya&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan">Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Juergen Klopp dalam Bayangan Sebongkah Rindu&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/02/03/juergen-klopp-dalam-bayangan-sebongkah-rindu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Feb 2024 10:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Juergen Klopp]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Mohamed Salah]]></category>
		<category><![CDATA[Roberto de Zerbi]]></category>
		<category><![CDATA[Roberto Firmino]]></category>
		<category><![CDATA[Sadio Mane]]></category>
		<category><![CDATA[Steven Gerrard]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Unay Emery]]></category>
		<category><![CDATA[Xabi Alonso]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=397014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // percayalah ada titik lelah/ ada titik jenuh/ ada titik yang melawan/ jiwa mengajak berjeda/ menjauh dari hiruk-pikuk/ lalu bayangkanlah/ akan ada sebongkah rindu&#8230;// (Sajak &#8220;Juergen Klopp&#8221;, Februari 2024) KIRA-KIRA dua musim silam, sejumlah pundit riuh menspekulasikan &#8220;nasib&#8221; Juergen Klopp. Akankah dia segera mengakhiri karier di Anfield Road, atau manajemen Liverpool [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/03/juergen-klopp-dalam-bayangan-sebongkah-rindu">Juergen Klopp dalam Bayangan Sebongkah Rindu&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-397018 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// percayalah ada titik lelah/ ada titik jenuh/ ada titik yang melawan/ jiwa mengajak berjeda/ menjauh dari hiruk-pikuk/ lalu bayangkanlah/ akan ada sebongkah rindu&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Juergen Klopp&#8221;, Februari 2024)</strong></p>
<p><strong>KIRA-KIRA</strong> dua musim silam, sejumlah pundit riuh menspekulasikan &#8220;nasib&#8221; Juergen Klopp. Akankah dia segera mengakhiri karier di Anfield Road, atau manajemen Liverpool bersabar untuk tetap mempertahankannya?</p>
<p>Liverpool, yang dia bangunkan dari tidur panjang dengan meraih trofi Liga Primer pada periode 2019-2020 dan Liga Champions, mulai keteteran bersaing dengan Manchester City. Pun sering kalah dari tim-tim di luar lima besar.</p>
<p>&#8220;Gegenpressing&#8221;, filosofi dan &#8220;ideologi sepak bola metal&#8221; ala Klopp rupanya mulai terbaca oleh para rival. Ketika Trio Firmansah (Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah) bubar karena Mane dan Firmino memilih pindah klub, The Reds pun bagai kehilangan sebagian kesaktiannya.</p>
<p>Dia racik substitusi dengan kehadiran Diogo Jota, Darwin Nunez, dan Wataru Endo, namun tak mudah menggantikan kedahsyatan Trio Firmansah yang menghayati betul jiwa sepak bola <em>pressing</em> Klopp.</p>
<p>Spekulasi nasib Klopp perlahan-lahan meredup seiring dengan performa Liverpool yang membaik, dan tetap menjadi kekuatan utama Liga Primer.</p>
<p>Belakangan kalangan sepak bola Inggris malah dibikin terkejut oleh pernyataan Klopp. Dua pekan lalu dia menegaskan bakal meninggalkan Virgil van Dijk cs di akhir musim nanti.</p>
<p>Sudah delapan musim pria Jerman itu mendampingi Si Merah dengan mengukir bergelimang prestasi. Dia telah mengembalikan Liverpool ke habitat elite seperti pada dasawarsa 1970-an. Dihadirkannya rivalitas sengit dengan dua genius muda: Pep Guardiola dan Mikael Arteta.</p>
<p><strong>Berjeda</strong><br />
Intensitas kerja keras, dari berpikir tentang konsep taktik, pembaruan-pembaruan, manajemen, hingga eksekusi dari tepi lapangan selama lebih dari 20 tahun sejak menukangi Mainz dan Borussia Dortmund di Bundesliga, diakui telah membuatnya lelah dan jenuh.</p>
<p>Klopp membutuhkan cuti sabatikal. Meninggalkan Anfield menjadi sebentuk pilihan jeda dari kehirukpikukan sepak bola, seperti yang juga pernah dilakukan Pep dari Barcelona pada 2012.</p>
<p>Selain spekulasi nama-nama yang bakal menggantikan, berkembang pula perkiraan skenario: ke klub mana dia berlabuh? Benarkah dia terpincut untuk membesut Real Mallorca di La Liga?</p>
<p>Tak mudah menghapus bayang-bayang Klopp dari Liverpool. Sudah delapan musim klub kota pelabuhan itu membangun <em>chemistry</em> dengan Klopp. Ideologi sepak bolanya menyatu dengan Mo Salah dkk, dan pasti bakal menjadi warisan sejarah dalam khazanah taktik sepak bola. Dia telah menjadi bagian dari elan &#8220;<em>You&#8217;ll Never Walk Alone</em>&#8220;&#8230;</p>
<p>Simaklah reaksi Pep Guardiola lewat narasi respek di balik persaingan keras mereka, &#8220;Saya bakal bisa lebih nyenyak tidur. Tetapi saya pasti akan merindukannya&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>Tekanan</strong><br />
Semua memahami, sepak bola di liga-liga dunia telah menjadi industri olahraga dan hiburan dengan <em>pressure</em> tinggi bagi para pelakunya. Kerumitan taktik tak terhindarkan memancar dalam keribetan personal keseharian.</p>
<p>Bukan hanya tuntutan kepada pemain, pelatih juga bagai berjalan di atas titian rambut dibelah tujuh. Setiap saat bergoyang terembus angin, setiap saat harus siap terpeleset dalam mengarungi tujuan.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang dengan psikologi daya tahan prima. Pun bagi pelatih dengan jiwa &#8220;metal&#8221; seperti Klopp, juga yang searogan Jose Mourinho, yang sediktator Alex Ferguson dan Louis van Gaal, atau yang terlihat setenang Carlo Ancelotti, Arsene Wenger dan Franz Beckenbauer (alm) pada masanya.</p>
<p>Dengan pertimbangan tertentu, kita mungkin termasuk yang tidak rela Juergen Klopp meninggalkan Liverpool, siapa pun penggantinya kelak. Apakah Unay Emery, Steven Gerrard, Xabi Alonso, Jose Mourinho, atau Roberto de Zerbi.</p>
<p>Para penikmat gaya bermain Liverpool &#8212; seperti saya &#8211;, dan fans The Reds pasti akan menyaksikan keanehan manakala di bangku cadangan pemain, pada musim depan, tak ada pria berwajah &#8220;metal&#8221; dengan jaket kasual dan topi khas, diliputi ketegangan sambil sesekali menunjukkan gestur ekspresif pada setiap momen yang terjadi di lapangan.</p>
<p>Bukankah sebongkah rindu pun bahkan telah terbayangkan dari sekarang?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong><em>;</em> <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/03/juergen-klopp-dalam-bayangan-sebongkah-rindu">Juergen Klopp dalam Bayangan Sebongkah Rindu&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MU, Sepak Bola, dan Kehidupan Fana</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/03/11/mu-sepak-bola-dan-kehidupan-fana</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Mar 2023 10:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[David Moyes]]></category>
		<category><![CDATA[Eric ten Hag]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Louis van Gaal]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Carrick]]></category>
		<category><![CDATA[Ole Gunnar Solskjaer]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan Giggs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=321320</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS //temukanlah kehidupan/ dalam relung sepak bola/ akan kau tatap kenyataan/ di sebundar rapi bola/ akan kau rasakan pusaran/ dalam cakra yang fana// (Sajak “Cakra Kehidupan Sepak Bola”, 2023) TAK ada yang pasti dalam kehidupan, maka perjuangkanlah, dan janganlah menyerah untuk hidupmu&#8230; Manchester United adalah “ayat kauniah” tentang kehidupan. Pada hulu dasawarsa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/03/11/mu-sepak-bola-dan-kehidupan-fana">MU, Sepak Bola, dan Kehidupan Fana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-321394 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/03/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/03/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>//temukanlah kehidupan/ dalam relung sepak bola/ akan kau tatap kenyataan/ di sebundar rapi bola/ akan kau rasakan pusaran/ dalam cakra yang fana//</em><br />
<strong>(Sajak “Cakra Kehidupan Sepak Bola”, 2023)</strong></p>
<p><strong>TAK</strong> ada yang pasti dalam kehidupan, maka perjuangkanlah, dan janganlah menyerah untuk hidupmu&#8230;</p>
<p>Manchester United adalah “ayat kauniah” tentang kehidupan. Pada hulu dasawarsa 1990-an, bersama Alex Ferguson mereka berjuang dan akhirnya berhasil bangkit dari tidur panjang pasca-merajai Piala Champions 1968 lewat legenda-legenda George Best, John Aston, Bobby Charlton, Brian Kid, dan Denis Law.</p>
<p>Pada era 1990-an hingga dekade milenial 2000-an, Setan Merah bagai tak terbendung mendominasi semesta sepak bola lewat Class of 1992 Paul Scholes dkk yang diracik oleh Sir Alex secara futuristik.</p>
<p>Dan, layaknya kehidupan, ada titik ketika siklus menurun tak terhindarkan. Sir Alex pensiun pada 2013, dan hingga kini tak satu pun penerusnya &#8212; David Moyes, Ryan Giggs, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick, dan Ralf Rangnick yang berhasil merekatkan jarak masa jaya dan masa muram.</p>
<p>Hingga muncullah Eric ten Hag, figur harapan dalam bayangan. Yakni antara diyakini membawa perubahan, atau diperkirakan mengalami kebuntuan kreativitas seperti para pendahulunya.</p>
<p>Tapi tunggu dulu, pelatih asal Belanda itu rupanya memberi gambaran kuat tentang kebangkitan yang dirindukan. Dan, dia telah memberi bukti satu trofi Piala Liga, bukan?</p>
<p>Tapi tunggu dulu pula, dia menorehkan catatan paling muram dalam sejarah pertemuan dengan rival abadi, Liverpool. Kekalahan 0-7 di Stadion Anfield, bukankah itu menodai rekor apik Ten Hag dalam fenomena <em>up-trend</em> Marcus Rashford dkk?</p>
<p>Sampai Ten Hag pun tak kuasa membendung ekspresi kekecewaan. Dia menyebut, “Itu bukan level MU”, dan menghardik para pemain sebagai “tidak profesional”.</p>
<p><strong>Psikologi Kekalahan</strong><br />
Pastilah tak mudah keluar dari cekaman psikologi kekalahan memalukan itu. Skor dan cara kalah itu terlalu meremukkan rasa, kendati beberapa hari kemudian anak-anak Old Trafford segera menunjukkan sikap positif lewat kemenangan meyakinkan 4-1 atas Real Betis di Liga Europa.</p>
<p>Saya pun, yang pekan lalu dalam kolom ini menulis tentang Setan Merah mulai kembali “memerah”, mendapat sindiran dari banyak kolega.</p>
<p>“Seperti itukah MU-mu?”</p>
<p>“The Reds Liverpool terbukti lebih ‘merah’ kan?”</p>
<p>“MU belum benar-benar bangkit, mas. Masih harus membuktikan konsistensi”.</p>
<p>Ya, rupa-rupa komentar mereaksi tulisan optimistis saya.</p>
<p>Nah, bukankah naik &#8211; turun performa dan lika-liku perjuangan sebuah klub sepak bola untuk meraih kembali “<em>maqam</em>”-nya identik dengan perjuangan hidup manusia dalam kehidupannya?</p>
<p>Lantaran tak ada yang pasti dalam perjalanan kehidupan, maka kata kuncinya adalah konsistensi.</p>
<p>Secara alamiah, siklus hidup sebagai naik-turun “roda kehidupan”, atau fenomena “cakra manggilingan” adalah realitas yang setiap saat bisa dihadapi oleh manusia.</p>
<p>MU sebagai institusi yang dikelola oleh pikiran, ide dan pilihan tindakan manusia tentulah pula berada dalam lingkup “pola” yang sama.</p>
<p>Lalu, bagaimana kemudian harus mengelola untuk menahan agar “cakra” tak terus menerus berada di bagian bawah pusaran?</p>
<p>Bagaimana pula manajemen konsistensi akan menghadapi badai kreativitas dari manusia-manusia pesaing; yang dalam konteks MU “ancaman” itu bisa hadir dari Liverpool dengan Juergen Klopp, Manchester City bersama Pep Guardiola, atau Arsenal dengan Mikael Arteta-nya?</p>
<p><strong>Tesis &#8211; Antitesis</strong><br />
Bagi MU, semesta adalah ekosistem di seputar mereka. Katakanlah selalu ada antitesis dari sebuah tesis. Lalu ada sintesis dari antitesis. Konstruksi Eric ten Hag pun, cepat atau lambat akan dihadapi dengan dekonstruksi yang digalang pelatih dari klub mana pun.</p>
<p>Sedemikian “rimba”-kah kehidupan sepak bola untuk menegaskan ikhtiar survivalitas manusia dan klub-klub?</p>
<p>Pergerakan waktu bagai tak berjeda untuk terus menerus berkreasi dan mengantisipasi. Tak ada taktik yang abadi. Skema-skema <em>gegenpressing, tiki-taka</em>, sepak bola posesif, atau <em>attacking football</em> adalah gambaran “fana” aksi-reaksi dalam perjalanan kehidupan.</p>
<p>Namun, kekalahan sebesar itu untuk MU yang sedang <em>on fire</em> dan <em>up trend</em> tentu merentangkan usikan tanda tanya, “Sekejam itukah cakra manggilingan yang memutar drastis perjalanan anak-anak Manchester Merah ke pusaran bawah?”</p>
<p>Dan, bagaimana pula dengan kemenangan 4-1 atas Real Betis? Hanya sebagai bentuk “kewajaran”, “kepatutan”, “keharusan”, atau apa?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/03/11/mu-sepak-bola-dan-kehidupan-fana">MU, Sepak Bola, dan Kehidupan Fana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2022 10:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Camus]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Shankly]]></category>
		<category><![CDATA[duardo Galeano]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Luiz Cesar Menotti]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zlatan Ibrahimovic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=293746</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS SEPERTI apakah kita membelai sepak bola yang telah ikhlas membelai hidup kita? Dengan berjuta rasa, keindahannya berselimut misteri. Dengan berjuta rasa, kegagahannya bermata air cinta dan kelembutan. Dengan berjuta rasa, dia adalah elok puisi-puisi yang memancar dari luap kegembiraan, renik kesedihan, rumit kekecewaan, ungkapan kebahagiaan, atau ruap kemuraman&#8230; Dengan berjuta rasa, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa">Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-294018 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong>SEPERTI</strong> apakah kita membelai sepak bola yang telah ikhlas membelai hidup kita?</p>
<p>Dengan berjuta rasa, keindahannya berselimut misteri.</p>
<p>Dengan berjuta rasa, kegagahannya bermata air cinta dan kelembutan.</p>
<p>Dengan berjuta rasa, dia adalah elok puisi-puisi yang memancar dari luap kegembiraan, renik kesedihan, rumit kekecewaan, ungkapan kebahagiaan, atau ruap kemuraman&#8230;</p>
<p>Dengan berjuta rasa, dia “makhluk” dengan sesederhana itu bentuk &#8212; bundar bulat &#8212; tetapi menyimpan energi hidup yang luar biasa.</p>
<p>Albert Camus, misalnya. Filsuf dan peraih Nobel Sastra 1975 itu membelai sepak bola dengan penuh respek. Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, katanya, dia dapatkan dari sepak bola.</p>
<p>Atau Bill Shankly, tokoh legendaris Liverpool (1956-1974). Semboyan heroiknya banyak dikutip sebagai kampanye fanatisme yang provokatif, “Sepak bola lebih serius dari persoalan hidup dan mati”.</p>
<p>Begitu kuat nilai-nilai magnetis sepak bola. Coba simaklah satire ugal-ugalan Eduardo Galeano, wartawan dan novelis Uruguay (1940-2015) ini. Seorang pria, katanya, dapat mengubah istri, partai politik atau agama, tetapi dia tidak dapat mengubah tim sepak bola favoritnya.</p>
<p><strong>Kecerdasan Ekspresi</strong><br />
Sepak bola melahirkan berupa-rupa kecerdasan ekspresi anak manusia, baik para pelaku secara teknis, maupun mereka yang menikmati singgungan filosofis, historis, dan sosiologinya.</p>
<p>Maestro sepak bola Belanda Johan Cruyff menyebut sepak bola adalah permainan yang sederhana, namun hal tersulit dalam sepak bola adalah bermain sederhana.</p>
<p>Sama dengan Eric Cantona, yang menilai kejeniusan Lionel Messi terletak pada naluri bermain seorang kanak-kanak. “Biarkan dia bermain seperti bocah, dan kalian akan mendapatkan kehebatannya”.</p>
<p>Masih tentang Cruyff, yang memercayai bahwa gravitasi pikiran manusia sepak bola tak akan jauh-jauh dari pusaran magnetik “makhluk” itu. Suatu ketika, dia tahu pelatih sepak bola Irlandia, Jack Charlton ingin pensiun dan menghabiskan waktu untuk hobi memancingnya. Dengan tenang Cruyff berkomentar, “Bagaimana bisa dia meninggalkan sepak bola? Saat dia memancing pun, yang ada dalam pikirannya ya sepak bola&#8230;”</p>
<p>Pernak-pernik curah rasa, apakah itu kesombongan, arogansi, atau kerendahhatian menyertai beragam sikap pelatih dan pemain.</p>
<p>Jose Mourinho, arsitek asal Portugal yang berurutan menangani Porto, Chelsea, Internazionale Milan, Real Madrid, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan AS Roma tanpa ragu menyebut diri sebagai The Special One.</p>
<p>Media dan pasar budaya pop dengan riuh menyambut “ketengilan” yang <em>quotable</em> itu. Nilai “market” ucapan itu tak kalah dari ketika pada 2018 Zlatan Ibrahimovic dengan pongah mengatakan, sebuah Piala Dunia takkan menjadi Piala Dunia bernilai tanpa kehadirannya.</p>
<p><strong>Filsafat Keunikan</strong><br />
Dari berjuta rasa itu, sepak bola adalah filsafat dalam ungkapan solidaritas, dan kemampuan mengendalikan ego-ego individual.</p>
<p>Kalau Anda menyimak kolektivitas permainan <em>tiki-taka</em> Barcelona misalnya, atau AC Milan di era The Dream Team, kita menemukan betapa banyak orang hebat yang mencurahkan kompetensi individualnya untuk loyal kepada sebuah sistem. Namun individu-individu hebat itu tidak kehilangan keunikannya.</p>
<p>Contoh Barca dan Milan dalam level tim nasional adalah Brazil 1970 dan 2002, Belanda 1974, Argentina 1986, atau Spanyol 2010.</p>
<p>Tim-tim itu adalah produk ijtihad yang tersimpulkan dalam cipta-karsa-karya berjuta rasa. Tak mungkin hanya produk pendekatan teknis, tetapi menyatu dengan landasan filosofis yang kuat.</p>
<p>Anda ingat “empu” sepak bola Argentina Luiz Cesar Menotti?</p>
<p>Suatu ketika, pelatih yang mempersembahkan Piala Dunia 1978 dan Piala Dunia Yunior 1979 itu menyatakan, tim sepak bola tanpa pemain bintang ibarat negeri tanpa penyair.</p>
<p>Dapat ditafsirkan, dalam pandangan Menotti, secara filosofis hingga teknis permainan sebuah tim membutuhkan imajinasi dan kekuatan ide.</p>
<p>Dengan segala keliaran ide, visi, dan imajinasi, elemen-elemen itulah yang akan membawa pengembaraan gagasan seorang pelatih hingga ke titik berjuta rasa.</p>
<p>Misteri yang terlipat dalam permainan sepak bola menjadi pancaran keindahan. Sedangkan keindahan yang terekspresi adalah kekuatan. Kekuatan yang terpancar adalah diksi-diksi yang dalam bahasa Albert Camus, Shankly, dan Galeano menarasikan penting dan sentralitas makna sepak bola&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa">Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>