PDAM Tirta Moedal
PDAM Tirta Moedal Kota Semarang melakukan Penandatanganan MoU dengan Perguruan Tinggi dan SMA/SMK sederajat, Rabu 24 Juni 2026. foto: ist./pdam

SEMARANG (SUARABARU.ID) – PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menjalin kerja sama dengan 16 lembaga pendidikan yang terdiri dari perguruan tinggi, SMA, dan SMK sederajat.

Kedua belah pihak meresmikan kolaborasi ini melalui penandatanganan MoU di Kantor PDAM, Rabu 24 Juni 2026.

Perguruan tinggi yang terlibat meliputi Undip, Unnes, USM, Udinus, dan UIN Walisongo. Ada pula Untag Semarang, Universitas IVET, Universitas STEKOM, Polines, serta Yayasan Pharmasi.

Sementara itu, tingkat sekolah meliputi SMKN Jateng, SMKN 3, SMKN 4, SMKN 7, SMKN 8 Semarang, serta SMK NU Bandar Kendal.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal, Ady Setiawan, menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri.

Menurutnya, tantangan pengelolaan air minum kini semakin kompleks, sehingga birokrasi perusahaan daerah tidak bisa menyelesaikannya sendiri.

“Kontribusi akademisi, peneliti, dan pelajar sangat penting untuk menghadirkan inovasi baru. Dengan begitu, kita bisa menghadirkan solusi yang berbasis pada ilmu pengetahuan,” ujar pria yang akrab disapa Wawan tersebut.

Wawan menegaskan bahwa MoU ini bukan sekadar seremonial di atas kertas, melainkan komitmen nyata untuk mewujudkan ekosistem link and match antara pendidikan dan industri.

Ruang Lingkup Kerja Sama Komprehensif

Ruang lingkup kerja sama ini mencakup program magang mahasiswa dan siswa sekolah, penelitian, pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, ada pula program kuliah umum, praktisi mengajar, hingga pengembangan kompetensi SDM.

Oleh karena itu, PDAM Tirta Moedal membuka peluang bagi para akademisi untuk memanfaatkan perusahaan sebagai laboratorium nyata.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk riset akademis,” kata Wawan.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan bisa langsung mengaplikasikan hasil riset tersebut untuk memecahkan persoalan riil, seperti konservasi air, efisiensi energi, digitalisasi sistem distribusi, hingga edukasi lingkungan kepada masyarakat luas.

Kolaborasi ini bertujuan mendukung perusahaan menghadapi tantangan pengelolaan air di Semarang, salah satunya terkait penurunan muka air tanah akibat eksploitasi terus-menerus. Saat ini, rata-rata penurunan muka tanah di Semarang mencapai 1–15 sentimeter per tahun.

Kondisi tersebut mendorong PDAM memperluas pemanfaatan air permukaan sebagai sumber baku guna mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.

“Eksploitasi masif bisa membawa persoalan lebih besar di masa depan. Karena itu, kami sangat membutuhkan inovasi dunia pendidikan demi keberlanjutan layanan,” tambahnya.

Melalui metode magang dan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), kerja sama ini juga membidik pencetakan lulusan yang siap kerja.

“Kami ingin siswa memahami dinamika industri secara langsung. Hal ini melatih kemampuan berpikir kritis mereka agar siap kerja,” tuturnya.

Menyiapkan Lulusan Siap Kerja

Rektor Untag Semarang, Prof. Suparjo, menyambut baik kerja sama strategis ini. Menurutnya, dunia pendidikan memang membutuhkan mitra industri untuk keperluan praktik lapangan dan penelitian.

Ia berharap kedua belah pihak tidak berhenti pada aspek administratif saja, melainkan langsung mewujudkannya dalam aksi konkret yang bermanfaat bagi semua pihak.

“Pendidikan butuh data lapangan agar penelitian menghasilkan temuan yang valid,” ujar Prof. Suparjo.

Ia juga berharap program CSR PDAM bisa mendukung kolaborasi ini secara berkelanjutan, terutama untuk mendanai kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.

Melalui langkah ini, Prof. Suparjo optimistis kedua pihak bisa segera membangun ekosistem kolaboratif yang mampu menghasilkan inovasi di sektor pengelolaan air minum, sekaligus mencetak SDM unggul untuk pembangunan Kota Semarang.

Hery Priyono