blank
Para pengukir perempuan yang mengikuti Pelatihan Inovasi Produk dengan Ornamen Ukiran di Gallery Jepara Wood Carving 22-25 Juni 2026. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Dari 30 peserta Pelatihan Inovasi Produk dengan Ornamen Ukiran di Jepara Wood Carving tanggal 22-25 Juni 2026, ternyata 16 diantaranya adalah perempuan. Pada umumnya mereka ingin mewarisi semangat R.A. Kartini dalam melestarikan dan mengembangkan seni ukir Jepara.

Pelatihan yang dibuka oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo ini disdelenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara  berkerjasama dengan Gekraf Jepara dan Yayasan Pelestari Ukir Jepara. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing produk ukir Jepara di pasar global. “Jika ketrampilan pengukir meningkat diharapkan nilai jual produknya juga semakin bertambah,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara,  Anjar Jambore Widodo.

blank
Rumini Ketua Paguyuban Pengukitr Perempuan R.A. Kartini Jepara. Foto: Hadepe

Menurut Rumini yang juga Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara, spirit Kartini menjadi salah satu motivasi bagi kami untuk bertahan dalam melestarikan budaya ukir. “ Jika bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan budaya ukir,” tegasnya.

“Walaupun secara umum  upah perajin ukir lebih rendah dibandingkan dengan pekerja pabrik,  namun pengukir perempuan masih memiliki  waktu untuk menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Apalagi jika pekerjaannya dikerjakan di rumah,” tutur juara 1 lomba ukir kategori perempuan tahun 2024.

blank
Ama Rahmawati dan Arsiti peserta pelatihan dari Desa Mantingan. Foto: Hadepe

Sementara Ama Rahmawati mengaku bangga sebagai pengukir perempuan. “Setidaknya saya bisa ikut ambil bagian dalam pewarisan seni ukir. Juga mendapatkan penghasilan dan tetap dapat menjalankan tugas sebagai Ibu Rumah Tangga,” tutur Rahmawati

Sedangkan Sri Bati, pengukir perempuan dari desa Petekayan mengaku telah jatuh cinta kepada seni ukir sejak masih muda. “ “Bahkan anak saya tahun ini sekolah di SMKN 2 Jepara jurusan dekorasi kayu. Saya ingin dia menjadi pelestari ukir juga,” harapnya. Setelah pulang sekolah saya akan memberikan tambahan ketrampilan  ukir, ungkapnya

blank
Sri Bati, Nikmah dan Sri Endarwati pengukir perempuan antusias ikuti pelatihan. Foto: Hadepe

Pendapat yang sama disampaikan oleh Sulistiyani, pengukir perempuan dari Desa Mantingan Jepara.” Seni ukir adalah salah satu  bagian hidup saya. Jadi bukan semata-mata karena upah, tetapi karena kecintaan saya pada budaya lokal,” tutur Sulis.

blank
Pengukir perempuan peserta pelatihan inovasi produk dengan orfnamen ukiran. Foto: Hadepe

Malfiroh  peserta pelatihan yang lain mengaku senang. Setelah mengikuti pelatihan ini saya mendapatkan Kartu Mebel Jepara yang ternyata manfaatnya sangat banyak mulai bea siswa untuk anak hingga BPJS. Kami juga bisa berkenalan dengan pengukir perempuan Jepara yang lain,“ Terima kasih Pak Bupati Witiarso Utomo yang telah memperhatikan kesejahteraan kami,” ujar pengukir perempuan dari Desa Petekeyan

Hadepe – Riza Munawaroh