blank
Umat Islam yang datang ke Masjid Al-Falah di Kampung Madyorejo, Jetis, Sukoharjo, dengan tekun mengikuti pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yusuf.(Dok.Begug SW)

SUKOHARJO (SUARABARU.ID) – Untuk menyambut datangnya Tahun Baru 1448 Hijriyah (H), malam nanti akan digelar tabligh akbar. Agenda kegiatan keagamaan bagi uat Islam ini, akan digelar di Masjid Al-Falah, Kampung Madyorejo, Kelurahan Jetis, Kecamatan dan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Humas Masjid Al-Falah, Begug SW, semalam, menyatakan, pelaksanaan tabligh akbar ditangani oleh Forum Komunikasi Takmir Masjid (FKTM) Zona-5. Tabligh akbar ini, sekaligus menandai penyambutan datangnya Tanggal 1 Muharam 1448 H.

Sementara itu, Minggu malam (14/6/26), di Masjid Al-Falah digelar pengajian dengan mendatangkan Ustadz Abu Yusuf dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ukhuwah, Joho, Sukoharjo. Pengajian dilaksanakan dengan mengupas mengenai pentingnya membuat sejarah hidup yang baik. Yakni dengan upaya meningkatkan pemahaman ke-Islam-an, dan memperkuat nilai-nilai akhlak. Pengajian ini, diawali sambutan pembukaan dari Muh Anis.

Ustadz Abu Yusuf, dalam menyampaikan materi pengajian, mengupas tentang pentingnya ketaatan kepada Rasul sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Rasulullah SAW, merupakan manifestasi langsung yang tak terpisahkan dari ketaatan kepada Allah SWT.

Seluruh perintah dan syariat yang disampaikan Nabi, adalah wahyu dari-Nya. Meneladani beliau, adalah kunci syarat diterimanya amal dan jalan meraih rahmat Allah. Hal ini sebagaimana dituliskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa. Barangsiapa menaati Rasul, ia hakikatnya telah menaati Allah SWT.

Mengenai perintah untuk menaati Allah, Rasulullah dan para pemimpin (ulil amri), dituliskan dalam Surah Al-Ahzab Ayat 21. ”Jadikanlah Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (suri teladan yang baik) dalam segala aspek kehidupan,” jelas Ustadz Abu Yusuf.

Wahyu

Kecintaan kepada Allah, sebagaimana Surah Ali Imran Ayat 31, yaitu dengan melaksanakan, mengikuti sunnah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Terkait ini, disebutkan bahwa Rasulullah sebagai penyampai wahyu. ”Nabi Muhammad SAW tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu melainkan wahyu. Segala yang beliau perintahkan dan larangan adalah bentuk syariat Allah,” tandasnya.

Disebutkan, ketaatan kepada Allah bersifat mutlak melalui Al-Qur’an. Sedangkan ketaatan kepada Rasul, bersifat mutlak karena beliau adalah representasi otoritas agama yang diberikan Allah. Dengan pengakuan iman, seseorang tidak akan sempurna atau diterima, tanpa adanya ketundukan dan kepatuhan terhadap tuntunan Rasulullah.

Untuk mengimplementasikan ketaatan dalam kehidupan, dilakukan dengan menjalankan ibadah sesuai tuntunan. Yakni melaksanakan sholat, puasa, zakat dan ibadah lainnya, sebagimana yang dicontohkan Rasulullah (ittiba’), tanpa menambah atau mengurangi

Kepada jamaah pengajian, diminta agar menerapkan sunnah-sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Itu seperti adab makan, berpakaian dan berinteraksi sosial. Itu dilakukan, dengan meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Rasulullah. Yaitu perbuatan maksiat, perkataan buruk, maupun keyakinan yang menyimpang.

Hikmah dan keutamaan menaati Rasulullah, bertujuan untuk mendapatkan petunjuk (hidayah). Yaitu dengan mengikuti jalan yang diridhoi Allah, agar terhindar dari kesesatan, dengan upaya meraih cinta dan ampunan. Allah menjanjikan ampunan dan rahmat serta kedudukan mulia di sisi Nya. Ini menjadi harapan untuk meraih kemenangan, mendapatkan keberuntungan besar di dunia maupun di akhirat.(Bambang Pur)