Oleh : H. Hisyam Zamroni
Tahun Baru Hijriyah 1448 H merupakan momentum sakral bagi umat Islam untuk melakukan refleksi mendalam terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui sekaligus menyusun langkah terbaik menuju masa depan yang lebih berkah. Pergantian tahun dalam kalender Hijriyah bukan sekadar perubahan angka, tetapi menjadi pengingat tentang perjalanan hijrah Nabi Muhammad ﷺ yang sarat dengan nilai pengorbanan, perjuangan, optimisme, dan kerja keras dalam menegakkan peradaban Islam.
Momentum 1 Muharram mengajak setiap muslim untuk memperkuat spiritualitas, meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak muhasabah, dan membangun etos kerja yang unggul sebagai bentuk penghambaan kepada Gusti Allah Ta’ala. Dalam pandangan Islam, masa depan yang baik harus dipersiapkan dengan amal saleh, ilmu, dan kerja nyata yang dilakukan sejak hari ini. Gusti Allah Ta’ala berfirman:
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wal tanzhur nafsun mā qaddamat lighad, wattaqullāh, innallāha khabīrun bimā ta‘malūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Gusti Allah Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Gusti Allah Ta’ala. Sungguh, Gusti Allah Ta’ala Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi landasan utama dalam melakukan evaluasi diri pada setiap pergantian waktu, termasuk ketika memasuki Tahun Baru Hijriyah. Frasa “wal tanzhur nafsun mā qaddamat lighad” mengandung pesan agar setiap manusia meninjau kembali amal, karya, dan kontribusinya untuk masa depan dunia maupun akhirat. Muhasabah bukan hanya menghitung kesalahan, tetapi juga merencanakan perbaikan dan peningkatan kualitas hidup.
Dalam tradisi Islam, muhasabah merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Sayyidina Umar bin Khattab RA. memberikan nasihat yang terkenal:
Hāsibū anfusakum qabla an tuḥāsabū, wazinū a‘mālakum qabla an tūzana ‘alaikum.
Artinya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal itu ditimbang atas kalian.”
Ungkapan ini menjadi pedoman bagi setiap muslim agar senantiasa melakukan evaluasi diri secara jujur dan berkelanjutan. Tahun baru Hijriyah hendaknya menjadi titik awal untuk memperbaiki kualitas iman, akhlak, keluarga, pekerjaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain muhasabah, Islam juga mengajarkan semangat kerja yang tinggi. Seorang muslim tidak cukup hanya beribadah secara ritual, tetapi juga harus produktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Rasulullah ﷺ bersabda:
Innallāha yuḥibbu idzā ‘amila aḥadukum ‘amalan an yutqinah.
Artinya: “Sesungguhnya Gusti Allah Ta’ala mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan profesional.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini menegaskan bahwa profesionalisme dan kualitas kerja merupakan bagian dari nilai keislaman. Bekerja dengan baik bukan hanya urusan duniawi, melainkan juga bentuk ibadah yang akan bernilai pahala di sisi Gusti Allah Ta’ala.
Semangat produktivitas juga ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
Al-mu’minul qawiyyu khairun wa aḥabbu ilallāhi minal mu’minidh dha‘īf wa fī kullin khair.
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Gusti Allah Ta’ala daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)
Kekuatan yang dimaksud mencakup kekuatan iman, ilmu, mentalitas, ekonomi, kesehatan, dan kemampuan berkarya. Oleh karena itu, memasuki 1448 H harus diiringi tekad untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih disiplin, lebih produktif, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Tradisi Suro
Dalam konteks budaya Nusantara, bulan Muharram dikenal luas sebagai Bulan Suro dalam tradisi masyarakat Jawa. Kata “Suro” berasal dari kata Arab ‘Asyura’, yang berkaitan dengan tanggal 10 Muharram. Sejak dahulu, masyarakat Nusantara memandang bulan ini sebagai waktu yang istimewa untuk melakukan introspeksi, tirakat, doa bersama, sedekah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi Suro di berbagai daerah sesungguhnya mengandung nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam, yaitu pengendalian diri, penghormatan terhadap waktu, penguatan spiritualitas, serta pengharapan akan kehidupan yang lebih baik. Nilai-nilai tersebut menjadi modal budaya yang sangat berharga dalam membangun masyarakat yang religius sekaligus produktif.
Namun, spirit Bulan Suro tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual semata. Yang lebih penting adalah menjadikannya momentum perubahan nyata dalam kehidupan. Muharram mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan keberanian berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju kerja keras, dari kelalaian menuju kesadaran spiritual.
Karena itu, memasuki Tahun Baru Hijriyah 1448 H, umat Islam perlu meneguhkan tiga komitmen utama. Pertama, memperkuat hubungan dengan Gusti Allah Ta’ala melalui peningkatan ibadah, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan amal saleh. Kedua, memperbanyak muhasabah serta evaluasi diri agar kesalahan masa lalu menjadi pelajaran berharga menuju perbaikan. Ketiga, meningkatkan etos kerja, disiplin, profesionalisme, dan produktivitas sebagai bentuk pengabdian kepada Gusti Allah Ta’ala dan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Semoga Tahun Baru Hijriyah 1448 H menjadi awal kebangkitan spiritual, penguatan akhlak, serta peningkatan kualitas kerja dan pengabdian kita. Mari menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan, agar setiap langkah yang kita tempuh membawa manfaat bagi dunia dan menjadi bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah. Semoga Gusti Allah Ta’ala melimpahkan keberkahan, keselamatan, kemajuan, dan kemuliaan kepada kita semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis adalah Sekretaris Pengurus Idaroh Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) Kabupaten Jepara













