SEMARANG (SUARABARU.ID)- Mahasiswa harus mengedepankan kritik yang obyektif, dibandingkan kebencian. Sebab, kritik merupakan bagian penting dalam mengawal kebijakan publik, sementara ujaran kebencian justru dapat menghilangkan obyektivitas.
Hal itu seperti yang diungkapkan Presiden Mahasiswa BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Tiyo Ardianto, dalam Seminar Hak Asasi Manusia (HAM) bertajuk ‘HAM di Era Digital: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Kebebasan yang Bertanggung Jawab’, di Gedung Prof Ir Joetata Hadihardja, Universitas Semarang (USM), Kamis (11/6/2026).
”Mahasiswa harus fokus pada kritik, bukan pada kebencian. Mari bicara tentang obyektivitas dan kritik terhadap kebijakan publik. Jika suatu saat menyentuh aspek yang bersifat personal, lakukan secara bertanggungjawab, penuh perhitungan, dan strategis,” kata Tiyo.
BACA JUGA: UKM Pengawal Ideologi Bangsa USM Gelar Talkshow Penguatan Nilai-nilai Pancasila
Selain berpikir kritis, keberanian menjadi faktor penting, agar kebebasan berekspresi memiliki makna. Dia juga menekankan, pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap kebebasan yang dimiliki, sebagai dasar dalam menjalankan hak berekspresi secara bertanggungjawab.
”Setiap mahasiswa harus menyadari kebebasannya. Setelah menyadari kebebasan itu, maka kebebasan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab,” imbuhnya.
Menurut Tiyo, perkembangan teknologi dan media sosial telah menciptakan arus informasi yang sangat besar, sehingga mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu maupun ujaran kebencian.
BACA JUGA: Fakultas Teknik USM Bangun Sinergi Kokoh antara Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah
”Hari ini kita berhadapan dengan situasi di mana informasi terlalu banyak, dan tidak semuanya terverifikasi. Yang dibutuhkan sekarang, berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita tidak akan mudah terjebak pada kebohongan, informasi palsu, maupun ujaran kebencian,” jelasnya.
Dia berharap, para peserta seminar mampu menjadi generasi yang lebih berani dalam menyampaikan pendapat, dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
”Saya berharap, peserta seminar hari ini memiliki keberanian yang lebih daripada sebelumnya. Kita semua mungkin bebas, tetapi tanpa keberanian, kebebasan itu menjadi hampa dan tanpa makna,” ujarnya.
Kegiatan yang digelar BEM USM itu, diikuti 150 peserta, yang berasal dari kalangan siswa SMA di Kota Semarang dan sejumlah mahasiswa USM.
Seminar menghadirkan narasumber dari Amnesty International Indonesia, Claudia Destianira dan Michelle Dionisius, serta Presiden Mahasiswa BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Seminar HAM, Hapsari Okta menambahkan, tujuan kegiatan ini untuk memberikan pembekalan kepada generasi muda, mengenai hak asasi manusia, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital.
BACA JUGA: Fakultas Hukum USM Gelar Program Praktisi Mengajar
”Peserta seminar berasal dari siswa SMA di Kota Semarang, dan mahasiswa USM dengan jumlah sekitar 150 peserta. Harapannya, seminar ini dapat memberikan pembekalan kepada peserta mengenai HAM, media, serta berbagai lingkup yang berkaitan dengan hak asasi manusia,” ujarnya.
Hapsari berharap, melalui seminar ini, peserta dapat memahami pentingnya hak asasi manusia, meningkatkan literasi digital, serta mampu menggunakan kebebasan berekspresi secara bijak, kritis, dan bertanggungjawab, di tengah dinamika kehidupan digital yang terus berkembang.
Riyan













