blank
Septiana Wibowo saat acara peluncuran buku Mozaik Gagasan Kartini (2025) di Pendopo Kabupaten Jepara. Foto: Dok panitia.

Oleh Septiana Wibowo

JEPARA (SUARABARU.ID) – Hari ini 21 April 2026, bertepatan dengan hari lahirnya R.A. Kartini, salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Jepara. Dimana sebagai Perempuan yang besar di Jepara saya mengenal Kartini sebagai suara batin yang terus hidup, suara yang lahir dari kegelisahan, dipelihara oleh pemikiran, dan disampaikan dengan kehalusan etika.

Kartini tak hanya pelopor emansipasi perempuan, melainkan penggagas cara berpikir tentang martabat manusia, terkhusus Perempuan. Ia dengan piawai membingkai budaya dalam kesantunan.

Lahir dan tumbuh di lingkungan bangsawan Jawa di Jepara, Kartini menghadapi dunia yang telah ditentukan sejak awal. Tradisi pingitan yang membatasi ruang, tetapi ternyata tidak membatasi pemikiranya. Justru dalam keterbatasan itu, Kartini menemukan cara lain untuk “berjalan”.

blank
Buku Mozaik Gagasan Kartini untuk Bangsanya. Masih bisa dipesan di Yayasan Kartini Indonesia. Cp: 0878-7425-3939. Foto: Septi.

Dengan melalui bacaan dari kakaknya Sosrokartono, diskusi bersama mentor-mentor belajarnya salah satunya adalah guru mengajinnya KH. Sholeh Darat, dan percakapan dengan teman sekolah Belandanya, serta surat-suratnya kepada sahabat-sahabat di Eropa.

Surat-surat itulah yang menjadi jendela bagi dunia untuk melihat isi hatinya bukan sekadar keluhan, tetapi refleksi mendalam tentang kehidupan, pendidikan, dan posisi Perempuan dalam tataran sosial yang ternyata tak lekang dimakan zaman.

Dalam salah satu suratnya kepada Ny. Rosa Abendanon, Kartini menulis:

“Saya mau! Saya mau! Saya mau melihat perempuan Jawa berdiri sendiri, kuat, berani, dan berilmu.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa perjuangan Kartini bukan sekadar keinginan untuk keluar dari batasan, tetapi untuk membangun kekuatan dari dalam diri perempuan itu sendiri. Kekuatan yang dimaksud bukan hanya keberanian, tetapi juga kecerdasan dan etika.

Kartini sangat paham bahwa perubahan tidak akan bertahan lama jika hanya bertumpu pada perlawanan saja. Ia memilih jalan yang lebih sunyi namun kuat yaitu pendidikan dan pembentukan karakter.

Dalam pandangannya, perempuan yang kuat bukan yang mampu selalu melawan, perempuan terdidik bukan hanya yang mampu membaca dan menulis saja, tetapi mereka yang mampu berpikir jernih, bersikap bijak, dan menjaga adab dalam setiap tindakan.

Dalam salah satu suratnya kepada Ny Rosa Abendanon (1992), ia menulis:

“Kami memohon pengajaran dan pendidikan bagi perempuan, bukan supaya kami menjadi saingan laki-laki, melainkan agar kami dapat lebih cakap menjalankan kewajiban kami sebagai manusia.”

Di sini, kita bisa melihat kedalaman pemikiran Kartini. Agar tidak  memandang pendidikan sebagai alat kompetisi, melainkan sebagai jalan menuju kesempurnaan kehidupan. Perempuan, dalam pandangannya, harus memiliki kemampuan intelektual sekaligus kehalusan budi dan bisa dengan mandiri bertanggung jawab atas diri sendiri.

Etiket menjadi bagian penting dalam gagasan ini. Yang mana bagi Kartini bukan sekadar aturan sosial yang kaku. Ia adalah refleksi dari kesadaran, bagaimana cara seseorang menghargai dirinya sekaligus orang lain.

Perempuan beretiket tinggi bukan berarti diam dan patuh tanpa suara, tetapi mampu menyampaikan pikiran dengan santun, menjaga sikap tanpa kehilangan prinsip, dan tetap teguh tanpa harus menjadi keras.

Kartini juga menyadari bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membentuk masa depan. Ia melihat perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Karena itu, kualitas perempuan akan menentukan kualitas generasi berikutnya.

“Perempuan adalah pembawa peradaban,” ujarnya. Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang luas. Kartini dapat menunjukkan bahwa perempuan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebuah fondasi yang melahirkan generasi. Dari tangan perempuan tumbuh nilai dan dari sikap perempuan tercermin budaya.

Untuk mencapai itu, perempuan harus diberi kesempatan untuk berkembang. Mereka harus memiliki akses pada pendidikan, ruang untuk berpikir, dan kebebasan untuk menentukan arah hidupnya tanpa kehilangan akar budaya dan etika yang menjadi identitasnya.

Perempuan Berdaya dalam Bingkai Feminisme Jawa

Di era hari ini, ketika perempuan semakin bebas menentukan pilihan hidup, karier, bahkan identitasnya sendiri, pemikiran Kartini menemukan relevansinya dalam bentuk yang baru. Kebebasan bukan lagi sesuatu yang diperjuangkan dari nol, tetapi sesuatu yang harus dikelola dengan kesadaran.

Dalam konteks ini, muncul satu gagasan yang bisa disebut sebagai “feminisme Jawa” yaitu sebuah cara pandang yang tidak menempatkan perempuan dalam posisi berhadap-hadapan dengan laki-laki, tetapi sebagai pribadi yang utuh, berdaya, dan tetap menjunjung nilai harmoni.

Feminisme Jawa bukan berarti kembali pada keterbatasan lama, melainkan mengambil inti kebijaksanaan budaya: eling (sadar diri), tepa selira (empati), dan unggah-ungguh (etika dalam bersikap). Dalam nilai-nilai ini, perempuan tidak kehilangan kebebasannya, tetapi justru menemukan kedalaman dalam setiap pilihan.

Perempuan berdaya hari ini bisa menjadi Pemimpin, Kreator, Pemikir, atau apa pun yang menjadi pilihan hidupnya. Dalam semangat Kartini, semua itu dijalani dengan kesadaran akan nilai. Bahwa kekuatan tidak selalu harus ditunjukkan dengan keras, dan kebebasan tidak harus menghilangkan kehalusan.

Justru di tengah dunia yang semakin terbuka, etika menjadi pembeda. Cara berbicara, cara menghargai orang lain, cara membawa diri, semua itu menjadi cermin kualitas seseorang. Di sinilah ajaran Kartini terasa sangat kontekstual.

“Bahwa menjadi modern tidak harus meninggalkan akar, dan menjadi bebas tidak harus kehilangan arah.”

Kartini telah tiada, tetapi gagasannya tetap hidup. Jika ditanya apa yang membuat Kartini berbeda dari pahlawan Perempuan lainnya, saya dengan bangga menjawab bahwa ia tidak meninggalkan senjata, tidak pula kekuasaan. Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih kuat yaitu cara berpikir dan cara bersikap.

Dan hari ini, ketika perempuan memiliki lebih banyak ruang untuk menentukan dirinya sendiri, ajaran itu menjadi semakin penting, bahwa menjadi perempuan berdaya bukan hanya tentang kebebasan memilih, tetapi tentang bagaimana menjalani pilihan itu dengan martabat, kecerdasan, dan etika yang tetap terjaga.

“Selamat Hari Kartini 2026.”

 

Septiana Wibowo, Penulis buku Kumpulan Esai “Bukan Kartini” dan Jurnalis di Suarabaru.id.