WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kesenian reog merupakan warisan budaya nenek moyang. Tapi keberadaannya saat ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dengan adanya perubahan budaya masyarakat yang dipengaruhi perkembangan teknologi dan modernisasi.
Berkaitan itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, berharap, masyarakat untuk terus melestarikan seni tradisi reog sebagai warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, Senin (30/3/26), mengabarkan, harapan Bupati tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Grebeg Reog Syawal 1447 H (2026 M). Event budaya ini, digelar Sabtu malam (28/3/26), di Alun-alun Giri Krida Bakti depan Kantor Bupati Wonogiri. Ikut hadir jajaran Forkopimda dan sejumlah Kepala Dinas dan Instansi terkait, serta tokoh masyarakat.
Sekitar 30 grup Reog Ponorogo yang tergabung dalam Komunitas Reog Selowonorojo Pimpinan Tokoh Warok Ir Djoko Purnomo MT yang juga Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, unjuk kebolehan bermain reog untuk memeriahkan event budaya Gerbeg Syawal. Mereka datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Wonogiri dan dari kabupaten sekitar. Secara bergiliran, mereka tampil di panggung alun-alun, untuk memainkan beragam joget reog dari peran masing-masing tokohnya.
Mereka membawa puluhan dadak merak reog sebagai ikonik kesenian reog. Melibatkan ratusan warok (seniman reog), ratusan pemain jatilan (jaranan), dan ratusan ganong (pemeran tokoh Bujang Ganong) dan ratusan seniman pengrawit penabuh gamelan yang menjadi instrumen pengiringnya.
Bupati Setyo Sukarno didampingi Wakil Bupati Imron Rizkyarno, menyambut baik pelaksanaan Grebeg Syawal yang digelar oleh Komunitas Reyog Selowonorojo beserta kelompok pendukungnya. Kegiatan ini dinilai menjadi wujud nyata pelestarian budaya sekaligus sebagai sarana memperkenalkan seni tradisi kepada masyarakat luas.
Dunia
Kata Bupati, untuk melestarikan kesenian reog, diperlukan komitmen bersama, untuk tetap menjaga dan melestarikannya secara berkelanjutan.
Bupati menilai, pementasan reog memiliki dampak multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat. Kegiatan budaya seperti ini, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, serta mendukung perkembangan Usaha Mikro Kecil menengah (UMKM) lokal. Kegiatan ini membawa energi positif dalam mewujudkan Wonogiri yang berdaya saing, maju, sejahtera dan berkelanjutan.
“Kita harapkan kegiatan ini mampu menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk turut melestarikan potensi seni tradisi di Kabupaten Wonogiri,” kata Bupati Setyo Sukarno.
Reog Ponorogo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada Tanggal 3 Desember 2024. United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) adalah organisasi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan informasi.
Lembaga internasional ini, menetapkan Reog Ponorogo sebagai warisan dunia. Kesenian reog, menggabungkan seni tari dan musik, yang memiliki muatan mitologi. Keberadaannya, menjadi lambang nilai keberanian, solidaritas dan gotong royong, melalui para warok yang ikonik sebagai seniman reog.(Bambang Pur)













