blank
Lampion ikut dijajakan sebagai komoditas di Kios Pasar Gede, Solo, dalam rangkaian perayaan menyambut Hari Raya Imlek, sepasang ada yang diberi label harga Rp 225 ribu.(SB/Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Gong xi fa cai, lazim diucapkan bersamaan saat perayaan Hari Raya Imlek. Meski lazim diucapkan pada saat Tahun Baru Imlek, frasa ini bukan berarti selamat Tahun Baru Imlek. Sebab itu adalah untaian ucapan doa, agar seseorang diberikan keberuntungan finansial, kemakmuran dalam hidupnya, semoga mendapatkan kesuksesan dan memperoleh rezeki yang berlimpah.

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Misalnya gunung tinggi, ini disebut frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif. Bersifat nonpredikatif, karena tidak membentuk subjek-predikat, menduduki satu fungsi sintaksis (subjek, objek, predikat atau keterangan) dalam kalimat, dan memiliki makna gramatikalFrasa, merupakan satuan gramatikal di bawah klausa dan di atas kata, bukan kata yang berdiri sendiri.

selamat atau ucapan bernilai sukacita, dan Fa Cai berarti menjadi kaya, menjadi makmur atau mendapat rezeki. Secara harfiah, kalimat ini merujuk pada harapan agar seseorang memperoleh kesejahteraan materi dan kebahagiaan di tahun baru.

 menyambut tahun baru Imlek.

Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri, menetapkan Imlek menjadi hari libur Nasional.

blank
Di Kota Solo, dipasang ribuan lampion, termasuk lampion master Kuda ikut ditampilkan dalam perayaan Hari Raya Imlek 2026 yang disebut Tahun Kuda Api (Bing Wu).(SB/Bambang Pur)

Sejak era Gus Dur dan kemudian berlanjut Megawati, perayaan Imlek berlangsung meriah. Di Solo, Jawa Tengah, perayaan Imlek 2026 dimeriahkan dengan pemasangan 5 ribu lampion. Termasuk dipajang pula lampion dewa-dewi, lampion 12 shio berlambang binatang, lampion master Kuda. Juga dipajang lampion perjalanan ke barat (Xi Yuo Ji) atau Journey to The West.

Xi Yuo Ji adalah sebuah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Ming. Novel legendaris dari Negeri Panda karya Wu Chengen ini, menceritakan mitologi klasik pertentangan antara baik dan buruk. Mengambil tema seorang tokoh pendeta Tong Samcong dari zaman Dinasti Tang, saat melakukan perjalanan ke barat untuk mengambil kitab suci. Yang di Indonesia, novel ini dikenal dengan nama See Yu Ki, menampilkan tokoh populer Raja Monyet Sun Go Kong.

Kecuali ribuan lampion, dipasang pula tulisan Gong Xi Fa Cai, Happy Chinese Day Horse Year berbahan cahaya warna-warni, yang melintang di atas jalan depan Balai Kota Surakarta. Perayaan Imlek di Kota Surakarta, juga dimeriahkan karnaval budaya Grebeg Sudiro, pentas Liong dan Barongsai, lomba lari Fun Run dan lain-lain.

Kepada awak media, Ketua Panitia Bersama Imlek Kota Solo, Sumartono Hadinoto, menyatakan, perayaan Imlek juga diwarnai dengan kegiatan bakti sosial (Baksos) donor darah massal. Pemasangan ribuan lampion di Pasar Gede dan di sepanjang jalan depan Balai Kota Solo, disinergikan dengan nilai-nilai ke-Bhineka-an. Dipasang berselang-seling, dengan lampion menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H yang bernuansa Islami.(Bambang Pur)