blank
Ilustrasi Ratu Kalinyamat (Foto: Radar Kudus).

Oleh: Murtadho Hadi

JEPARA (SUARABARU.ID)- Sosok Kanjeng Ratu (“Sulthonah”) Kalinyamat adalah “prestise terakhir” dari kekuasaan Islam Pesisiran. karena setelah beliau tidak ada ‘kisah-kisah yang heroik”  yang melampauinya, terlebih beliau adalah sosok wanita yang dalam banyak hal sering termarginalkan dalam panggung sejarah.

Tidak Relevan Bicara Mitos atau Fakta

Dikatakan “prestise” karena sosoknya telah menjadi “kebanggaan” yang menyita banyak orang, sosoknya menjadi “ikon” dan “locus budaya”, kecerdasannya (mengelola konflik dalam pemerintahan: di mana sosoknya  sebagai seorang wanita tapi tetap “disegani”, “ditakuti”, dan “dipatuhi” lebih dari 15 ribu  prajurit yang sebagian besar adalah laki-laki), hal ini benar-benar menginspirasi para pemikir.

Belum lagi kisah-kisah kebesaran kekuasaan maritimnya dan keberanian dalam setiap ekspedisinya mengusir dominasi penjajah (Portugis)  yang bercokol di Maluku (Kasultanan Hitu), di Aceh dan selat Malaka dan perairan nusantara (yang diabadikan, tidak saja oleh kisah-kisah  Babad, tapi juga terdokumentasi oleh Catatan Militer Penjajah dan sejahrawan asing), maka sampai di sini : tidaklah relevan lagi berbicara, Sosok Ratu Kalinyamat apakah mitos ataukah fakta?

Tidak relevan lagi! (Perlu diketahui: di antara terganjal dan tertundanya usulan kepahlawanan Ratu Kalinyamat sampai beberapa kali, usut punya usut ternyata masih ada seorang “akademisi’ yang menjadi penguji masih menganggap Kalinyamat adalah dongeng dan kisah fiktif belaka)

Lalu, jika merujuk sebagai Tokoh Historis, siapakah yang dimaksud Kalinyamat itu?

Nama Asli Dan Biografi Singkat

Beliau (Ratu Kalinyamat) bernama asli Raden Ayu Retna Kencana, putri Sultan Trenggono (Raja ketiga Kasultanan Demak Bintoro), ibunya bernama Raden Ayu Roro Pembayun Binti Raden Mas Syahid. Jadi, Ratu Kalinyamat adalah cucu dari Pendiri Penguasa Demak dan juga cucu dari Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sejarawan Belanda (Degraaf) dalam penelitiannya terhadap Penguasa-Penguasa Jawa Abad-16 sering mengutip julukan Portugis terhadap Ratu Kalinyamat di antaranya yaitu:

1. Rainha De Jepara (“Sang Ratu dari Jepara”)

2. Senhora Poderosa e Rica (“Sang Wanita Kaya Yang Berkuasa”)

3. De Kranige Dame (“Wanita Yang Gagah dan Berani”)

Semua julukan-julukan itu menunjukkan pengakuan (bahkan oleh bangsa penjajah akan orientasi militer dan kebesaran Kalinyamat sebagai Penguasa).

Kalinyamat dan Lingkar Penguasa Jawa

Raja Demak yang paling lama dan kondusif mengatur pemerintahan adalah Sultan Trenggono, tidak heran jika Kalinyamat dan saudara-daudaranya berada dalam “Lingkar Pusat Kekuasaan Jawa dan Nusantara” : kakak Kalinyamat bernama Raden Bagus Mu’min (Sunan Prawoto: adalah Raja ke-4 Demak meskipun dengan pemerintahan yang singkat), sedang kakak perempuannya ada yang menikah dengan Adipati Sampang/Madura: yaitu Pangeran Langger,  adiknya yang satu lagi Raden Ayu Cempoko menikah dengan pemuda/Joko Tingkir (Sultan Hadiwojoyo Penguasa Pajang), adiknya yang satu lagi menikah dengan Sultan Hasanuddin (Penguasa Banten), dan adiknya yang paling bungsu: yaitu Pangeran Timur (semasa kecil diasuh oleh Kalinyamat, yang akhirnya menikah dengan Ratu Timur putri Pangeran  Sekar,, kelak menjadi Adipati Madiun, yang mempunyai posisi strategis karena Pangeran Timur menjadi sosok yang diperebutkan oleh Penguasa Pajang dan Penguasa Mataram Islam: yaitu Panembahan Senopati/Sutowijoyo.

Kisah-Kisah dari Pangeran Timur yang mempunyai Putri Retno Dumilah, Panembahan Juminah, dan cucu Panembahan Blitar, dan generasi-generasi setelahnya banyak yang berjuang menyebarkan Islam di Pedalaman dan berjuang melawan penjajah adalah kisah-kisah yang tak kalah menariknya.

“Jung Para” (yaitu Jepara) & Pusat Tehnologi Industri Maritim

Banyak sejarawan yang menulis bahwa kata Jepara, secara etimologis itu terbentuk dari kata “Ujung dan “mara” atau “para”, yang mengacu pada  makna pada  sebuah penggambaran peta wilayah dari sebuah  “daratan yang menjorok ke laut lepas”. Hal itu benar semata jika dilihat dari  kenyataan Letak Geografis dari Jepara.

Tapi seorang Pemikir dan Santrawan Besar dari Blora:  Pramoedya Ananta Toer, dalam Buku “Arus Balik”nya menarasikan Jepara adalah “Jung” (kapal-kapal yang tinggi menjulang”) dan “Para” (yang begitu ramai berdatangan”) : artinya jepara adalah “kota pelabuahan”  dan kota dengan kekuasaan maritim yang menjadi lalulintas perdagangan dunia.

Gelangan  kapal adalah pusat  tehnologi dan “industri raksasa” di abad 15 dan 16 dan itu berada di “Ujung Para” atau “Jung Para” atau Jepara.

Maka, tidaklah mengherankan jika sejarawan portugis (Diego De Couto) yang mencatat Ekspedisi Laut Kedua (1574 M) Ratu Kalinyamat yang menyerang dan mengepung  Portugis di Malaka dengan armada laut yang begitu besar: yaitu 300 kapal perang (termasuk di dalamnya 80 Jung Kapal berukuran besar), dan mengerahkan 15.000 prajurit terlatih.

Walaupun Espedisi Kalinyamat itu pada akhirnya gagal: tapi Degraaf mencatat dua poin penting :

Pertama, “Kekaguman Barat”: yaitu betapa terkejutnya bangsa Portugis melihat seorang Penguasa Perempuan Jawa yang mampu memobilisasi prajurit yang begitu besar melintasi ribuan mil laut membelah samudera.

Kedua, “Dominasi Laut”: dengan kegagalan itu tidak membuat Jepara runtuh. Tapi sebaliknya, membuktikan bahwa di Abad-16 rekor kebesaran laut Nusantara tidak lagi dipegang oleh Majapahit, tapi di pegang oleh Jepara (Ratu Kalinyamat dengan 300 armada laut dan 15 Ribu perajurit).

Dominasi dan Eksploitasi Penjajah (Portugis-Belanda)

Sedang target dari semua penjajah adalah “dominasi kekuasaan” dan “eksploitasi”, maka jadilah ketika bangsa Portugis dan Belanda datang, pertama kali yang mereka hancurkan adalah: “Galangan Kapal”, karena Galangan Kapal adalah “simbol martabat” kekuasaan maritim.

Kriyan dan Otoritas Pemerintahan Jawa

Hadirnya nama-nama Desa seperti : Kriyan, Kajeksan, Jogo Karyan, Jogo Reksan, dan lain-lain  di hampir di setiap pusat-pusat pemerintahan kekuasaan Jawa bukanlah tidak ada arti (atau kebetulan semata) tapi  hal itu memang dirancang dengan penuh perhitungan, juga  melambangkan “otoritas” dan “indentitas” suatu wilayah tersebut. Sudah tidak bisa dipungkiri, bawa Kriyan, Kalinyamatan, Sedang, Mantingan, .. adalah di antara desa-desa yang terkait langsung dengan Pemerintahan Nyai  Ratu Kalinyamat.

Dalam hal ini, “Galagan Kapal” (sebagai Industri Maritim dari  Kekuasaan Laut) dari peninggalan Kasultanan Jepara sudah tidak bisa dinikmati, tapi  Kanjeng Ratu Kalinyamat, setidaknya juga mewariskan “kerajinan tangan” atau “Kriyan” (yang mengambil obyek pada besi, monel, logam mulia yautu emas dan perak), industri kerajinan kayu: meubel ukir, tenun, yang kesemua itu sudah berabad-abad menjadi  “denyut nadi” roda mata pencaharian dan simbol kebanggaan masyarakat Jepara.

(Murtadho Hadi, Penulis adalah Pengurus LTN PCNU Jepara, dan penulis dari Novel-Sejarah Ratu Kalinyamat, LKiS 2010)