SALATIGA (SUARABARU.ID) – Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Sutikno (48) sudah bersiap menjalani rutinitasnya. Sejak pukul 06.00 WIB, ia mengendarai sepeda motor yang telah dipasangi keranjang sayur, berkeliling menyusuri kawasan Cungkup hingga Kemiri Barat, Kota Salatiga.
Sutikno adalah harapan yang selalu ditunggu ibu-ibu dan anak-anak atau mahasiswa yang indekos tempat dia berjualan keliling. Ibu-ibu dan para mahasiswa ini jelas sangat terbantu dengan kehadirannya, karena tidak perlu jauh-jauh belanja ke pasar.
Sebagai pedagang sayur keliling, Sutikno biasa berjualan hingga menjelang siang, sekitar pukul 11.00. Dia setia menawarkan berbagai jenis sayuran segar kepada warga, dari gang ke gang, dari kampung ke kampung.
Sutikno tinggal di Pabelan, Salatiga, yang mulai menekuni usaha berjualan sayur sejak tahun 2019 dan hingga kini. Berjualan sayuran secara keliling menjadika sebagai sumber penghasilan utama keluarga.
Bersama istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil, Pak Sutikno menggantungkan kebutuhan hidup sehari-hari dari hasil berjualan sayur keliling tersebut.
“Kalau saya, penghasilan utama ya dari jualan sayur ini. Setiap hari saya mulai pagi supaya bisa cepat laku dan pembeli juga dapat sayur yang masih segar,” ujar Sutikno saat ditemui di sela-sela aktivitasnya.
Beragam jenis sayuran ia jajakan, mulai dari sayur hijau, aneka umbi-umbian, hingga bumbu dapur. Pasokan sayur ia peroleh langsung dari petani, kemudian dijual kembali kepada masyarakat dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan pedagang lainnya.
“Biasanya saya belanja sayur dari petani sekitar satu juta rupiah. Dari situ keuntungan bersihnya kira-kira seratus ribu rupiah. Saya tidak berani ambil untung banyak,” katanya.
Menurut Sutikno, memilih mengambil keuntungan kecil merupakan prinsip yang ia pegang sejak awal berjualan pada 2019. Baginya, yang terpenting adalah dagangan habis terjual dan pembeli merasa terbantu, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil.
“Yang penting cukup untuk makan dan kebutuhan anak-anak. Saya tidak mau ambil untung terlalu besar dari orang,” ucapnya.
Ia mengaku lebih senang berjualan menggunakan sepeda motor karena merasa lebih bebas dan tidak terikat. Dengan cara tersebut, ia dapat mengatur sendiri rute serta waktu berjualan tanpa harus bergantung pada pihak lain.
“Saya lebih nyaman jualan pakai motor. Tidak terikat ketimbang kerja kantor, bisa mandiri, dan bisa keliling ke tempat-tempat yang pembelinya sudah kenal,” tutur Sutikno.
Sebagian besar pembelinya berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan mahasiswa. Harga yang terjangkau serta kemudahan membeli sayur langsung di lingkungan tempat tinggal menjadi alasan utama mereka memilih berbelanja kepadanya.
“Biasanya yang sering beli itu ibu-ibu dan mahasiswa indekos. Mereka senang karena harganya murah dan tidak perlu jauh-jauh ke pasar,” katanya.
Sutikno juga memiliki cara tersendiri dalam mengelola sisa dagangan. Sayuran yang tidak habis terjual tidak ia buang atau tukarkan dengan barang lain, melainkan dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi keluarga.
“Kalau ada sisa, ya dimasak di rumah. Jadi tidak perlu beli sayur lagi. Tidak terbuang dan tetap bermanfaat,” ujarnya.
Kejujuran dan Tanggung Jawab
Bagi Sutikno, berdagang bukan semata soal keuntungan, tetapi juga tentang kejujuran dan tanggung jawab. Ia percaya bahwa dengan bersikap jujur dan menetapkan harga yang wajar, usahanya dapat terus berjalan dan pembeli akan tetap setia.
“Rezeki itu harus dicari dengan cara yang baik. Kalau kita jujur dan tidak memberatkan orang, hasilnya cukup untuk keluarga,” katanya.
Rut, seorang pelanggan sayuran Sutikno mengaku sangat terbantu dengan adanya pedagang sayur keliling seperti Pak Tikno ini. “Saya senang membeli dagangan Pak Tikno karena harganya murah dan sangat terjangkau. Lagi pula tidak harus jalan jauh-jauh ke pasar,” kata Ruth, mahasiswa yang indekos di daerah Cungkup, Salatiga.
Di tengah naik turunnya harga kebutuhan pokok dan tantangan ekonomi, keberadaan pedagang kecil seperti Pak Sutikno menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Sejak memulai usahanya pada 2019, melalui kerja keras, prinsip kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama, Sutikno tidak hanya menyediakan sayuran segar dengan harga terjangkau, tetapi juga menghadirkan nilai kejujuran dan ketulusan di lingkungan tempat ia berjualan.
Yohana Djola Djoru













