SETIAP orang pasti pernah melihat, bertemu, mengalami, atau sekurang-kurangnya mendengar tentang/adanya wong tukang ngapusi, wong julig, wong apus-apus.
Pernah kan mendengar atau bahkan mengalami sendiri: “Ohhhhhh jebule Pak Dhadhapwaru kae seneng ngapusi, tukang apus-apus!!” Artinya, Anda pernah kapusan —kena tipu–, atau setidaknya merasa kapusan, merasa jebul mung diapusi ta awake dhewe iki?
Orang seperti Pak Dhadhapwaru yang suka apus-apus itu, disebut dengan ungkapan: julig. Dan, menyimak ungkapan yang basisnya bahasa Kawi, perilaku model Dhadhapwaru seperti itu disebutnya wong mara-sadu. Yaitu, dengan berbagai trik, biasanya lewat kata-kata manis, sopan, lembah manah, dst. Jebul ujung-ujungnya ngapusi.
Mara
Bacalah mara seperti Anda berucap: “Lunga Sala gawa bala, lima;” pergi ke Sala disertai lima orang. Kata mara ini memiliki sekurangnya tiga arti, yaitu (1) bermakna nyedhaki, marani, datang mendekat. Bila ada seseorang pas berada di pinggir jalan mau bertanya sesuatu kepada orang lain, ia harus mendekati orang yang mau ditanya itu. Inilah sopan santun, yakni mara, mendekat.
Baca juga Wong-Wong Ngreka-Daya
Arti (2) mara itu merang, bagi; membagi barang, memilah barang menjadi entah tiga atau empat. Itulah mara. Di zaman kecilku dulu, ketika kondisi hampir semua keluarga mlarat, simbok selalu adil membagi telur goreng (dicampur ampas kelapa, kadang-kadang) sesuai jumlah anggota keluarga.
itulah contoh konkret mara. Barangsiapa sejak kecil punya pengalaman berbagi seperti itu, besar kemungkinan di masa dewasa/tuanya, ia akan tampil ora serakah.
Ada pun arti (3), mara itu semacam ajakan atau anjuran untuk mencoba, untuk hadir, atau untuk kepentingan lain. Kalimatnya, contohnya: “Mara ta dicoba dhisik, dicoba dulu, siapa tahu cocok.”
Sadu
Berakar dari bahasa Kawi, sadu (bacalah seperti Anda mengucapkan sadulur sadaya, bukan dhadhu) memiliki tiga makna menarik. Sadu, sesadu itu berarti guneman marang …….
Bandingkan dengan makna berdoa: Bukankah berdoa juga bermakna matur/guneman kagem Gusti? Semoga saya tidak keliru jika mengatakan betapa saudara-saudara Hindu menggunakan kata sadu ini sedemikian bermakna, mendalam, khusuk. Terucap kata-kata: Sadu….. sadu….. sadu.
Sadu juga berarti diarah-arah kalawan manis, disikapi secara ramah, baik hati, sejuk, akrab. Pokoknya bermanis-manislah. Nah……… ketika sikap seperti itu yang muncul, seharusnya orang menangkap atau setidaknya bertanya-tanya: Ada apa ini kok bermanis-manis?
Tegasnya, perlu ada rasa curiga, sebab seseorang bersikap bermanis-manis, sadu, jangan-jangan ada skenario besar di balik sadu-nya itu. Kelak, bisa jadi orang baru ngehhhhh, dan berkata: “Ohhhh jebul Pak Dhadhapwaru sedemikian bermanis-manis dulu itu, ada maksud ambil hati masyarakat.”
Dalam konteks inilah arti terpendam dari mara-sadu sebagaimana dilakukan oleh Pak Dhadhapwaru, yaitu ngapusi dan ternyata strategi yang ditempuhnya jitu serta julig tenan.
Wong akeh
Bermanis-manis hanya untuk mara-sadu, ngapusi, apakah hanya terjadi pada diri Pak Dhadhapwaru? Ternyata tidak. Banyak orang telah dan akan melakukannya dengan strategi berbeda saja. Ada yang menempuhnya perlahan tapi pasti; ada yang model “makin cepat, makin baik.” Ada juga yang tembak langsung.
Baca juga Wong-Wong Dremba
Analogi strategisnya mirip mendekati cewek; ada yang tembak langsung, ada yang muter-muter lewat perantara; ada juga yang pakai model Pak Dhadhapwaru. Yakni alon-alon, step by step, yakinkan dulu orang tuanya, sanak saudaranya, dan sebagainya. Apakah akhirnya cewek itu kapusan juga? Nah….. ini permasalahannya.
Seorang pasien diskusi secara bisik-bisik dengan dokter yang memeriksanya. “Dokter, saya mohon dokter mengatakan saja terus terang penyakit saya, namun jangan dengan istilah ilmiah kedokteran agar saya langsung mengerti.”
Dokter itu terdiam agak lama, menghela nafas, dan baru berbisik: “Anda mengalami gejala gila.” Pasien itu tenang saja sesaat, lalu berkata: ”Terima kasih dokter. Kalau begitu tolong tulis dalam bahasa ilmiah kedokteran nama penyakit saya ini, untuk saya katakan kepada keluargaku.” Jangan-jangan pasien itu Pak Dhadhapwaru, hehehe.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis masalah budaya Jawa dan Pendidikan, tinggal di Ungaran













