KUDUS (SUARABARU.ID) – Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap fenomena alam kembali menjadi perbincangan seiring datangnya Dino Renteng yang jatuh pada Jumat hingga Minggu, 16–18 Januari 2026. Dalam mitologi Jawa, Dino Renteng kerap dikaitkan dengan hujan yang turun terus-menerus selama tiga hari berturut-turut dan berpotensi memicu bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, alam tidak bergerak secara acak. Melalui Ilmu Titen, pola-pola kejadian alam diyakini bisa dibaca, salah satunya melalui hitungan neptu hari dan pasaran dalam kalender Jawa.
Berdasarkan perhitungan Jawa, tiga hari tersebut memang masuk kategori Dino Renteng. Pada Jumat, 16 Januari 2026, jatuh pada Jumat Pon dengan neptu 13 (Jumat 6 + Pon 7). Kemudian Sabtu, 17 Januari 2026, jatuh pada Sabtu Wage dengan neptu 13 (Sabtu 9 + Wage 4). Sedangkan Minggu, 18 Januari 2026, merupakan Minggu Pon dengan neptu yang sama, yakni 13 (Minggu 5 + Pon 7).
Tiga hari berurutan dengan nilai neptu yang sama inilah yang dalam kepercayaan Jawa disebut Dino Renteng, yang sering diasosiasikan dengan hujan berkepanjangan.
Kondisi ini menjadi perhatian warga Kabupaten Kudus, mengingat banjir masih menggenangi 35 desa di tujuh kecamatan, dengan dampak terparah terjadi di sebagian wilayah Kecamatan Mejobo, serta Kecamatan Kaliwungu, Jati, dan Undaan. Banjir tersebut telah berlangsung hampir sepekan, sehingga datangnya Dino Renteng sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya intensitas hujan.
Dino Renteng vs Modifikasi Cuaca
Namun demikian, dalam dua hari terakhir, kondisi cuaca di Kudus relatif lebih bersahabat.













