Suasana sebuah destinasi penginapan baru yang mengusung konsep "Wellness and Sustainability (Kesehatan dan Keberlanjutan) di dalam kawasan komplek SSCR Indonesia, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, belum lama ini. (Dok)
Suasana sebuah destinasi penginapan baru yang mengusung konsep "Wellness and Sustainability (Kesehatan dan Keberlanjutan) di dalam kawasan komplek SSCR Indonesia, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, belum lama ini. (Dok)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Pakar Patologi Anatomi Prof Agung Putra, mengatakan, generasi muda berada di tengah kecamuk tengah gaya hidup serba instan yang beriringan dengan potensi meningkatnya tekanan mental.

Untuk mengatasinya, pendiri dan Direktur Stem Cell and Cancer Research (SCCR) Indonesia ini mengajak generasi muda, khususnya Gen Z, untuk kembali pada alam dan kearifan lokal sebagai kunci menjaga kesehatan, memperkuat imunitas, serta memperpanjang usia hidup yang sehat dan produktif.

Dikatakannya, stres dan tekanan mental yang dialami generasi muda saat ini berpotensi menurunkan daya tahan tubuh. Hal tersebut terjadi melalui mekanisme psikoneuroimunologi, di mana kondisi pikiran sangat memengaruhi sistem imun manusia.

“Selain menjaga ketenangan pikiran, ia menekankan pentingnya pola makan alami dan sehat,” katanya saat menilik Karenina Agung Resort belum lama ini.

Penginapan tersebut mengusung konsep “Wellness and Sustainability (Kesehatan dan Keberlanjutan) di dalam kawasan komplek SSCR Indonesia, Gunungpati. Inj dirancang khusus sebagai tempat rehat sejenak untuk memulihkan energi. Pengalaman hidup sehat secara holistik yang menyatu harmonis dengan alam dikampanyekan.

“Filosofi utama dari resort ini adalah keseimbangan. Para tamu diajak untuk merasakan koneksi mendalam dengan lingkungan melalui praktik keberlanjutan alam yang diterapkan di seluruh area resort,” katanya.

Bahan Pangan Lokal

Selain itu, Prof Agung menganjurkan masyarakat, terutama Gen Z, untuk kembali memanfaatkan bahan pangan lokal yang kaya akan herbal. Di antaranya seperti sambiloto, brotowali, kunyit, dan temulawak, yang telah lama digunakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.

“Tidak perlu makanan instan atau impor. Banyak tanaman herbal di sekitar kita yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas dan penguat imunitas,” ucap dia.

Pasalnya, seperti yang diterapkan di Karenina Agung Resort ini misalnya, menyuguhkan makanan yang langsung dipetik dari kebun ke meja makan. Asupan kuliner di resort inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama yang sulit ditemukan di tempat lain. Karena resort ini menyajikan hidangan sehat yang bahan-bakunya dipanen langsung dari Agung Farm & Garden.

“Sayur dan buah-buahan yang disajikan dijamin kesegarannya dan bebas dari pestisida, memastikan setiap suapan mendukung kesehatan,” katanya.

Dalam pemaparannya, Prof Agung juga menyinggung tren anti-aging yang kini banyak diminati generasi muda. Secara ilmiah, proses penuaan berkaitan dengan pemendekan telomer, yakni ujung DNA yang akan semakin memendek seiring bertambahnya usia hingga akhirnya memicu kematian sel terprogram.

Puasa

Usia manusia memanh sepenuhnya berada di tangan Tuhan, ia menyebut sains memungkinkan manusia memperpanjang masa hidup sehat dan produktif. Penelitian SCCR Indonesia menunjukkan bahwa konsumsi herbal tertentu, penerapan pola hidup sehat, serta praktik puasa atau fasting dapat memperlambat proses penuaan.

Puasa, menurutnya, terbukti memicu proses autofagi, yakni mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel rusak dan menggantinya dengan sel baru. Temuan ini bahkan telah mendapat pengakuan dunia melalui penghargaan Nobel.

“Intinya, tidak perlu cara yang aneh-aneh. Pola hidup sehat, makan alami, dan puasa sudah diajarkan sejak lama oleh para nabi dan nenek moyang kita,” katanya.

Diharapkan, Gen Z tidak terjebak sepenuhnya pada gaya hidup modern yang instan, tetapi mampu memadukan kemajuan zaman dengan kearifan lokal. Dengan kembali ke alam dan menerapkan gaya hidup sehat, generasi muda diharapkan mampu hidup lebih panjang, tetap bugar, dan produktif hingga usia lanjut. (*)

Diaz A Abidin