blank
UKSW berduka, Pendeta Emeritus Doktor Sutarno Rektor UKSW periode 1973–1983 berpulang. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kehilangan dan berduka atas berpulangnya salah satu putra terbaiknya, Pendeta Emeritus Dr. Sutarno.

Diketahui, Rektor UKSW periode 1973–1983 ini telah mengakhiri perjalanan ziarah imannya pada Kamis (8/1/2026) dalam usia 91 tahun.

Kepergian beliau meninggalkan duka yang dalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh civitas academica dan jejaring pelayanan gereja serta pendidikan di Indonesia.

Ibadah pelepasan jenazah dilaksanakan pada Jumat (9/1/2026) sebelum dimakamkan di Makam Bethesda, Mrican, Yogyakarta. Almarhum disemayamkan di Rumah Duka Bethesda, Rumah Sakit Bethesda Kota Baru, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta.

Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami menyampaikan dukacita yang mendalam atas kepergian almarhum. Dalam ungkapan penghormatan yang disampaikannya, ia menyebut bahwa Pendeta Emeritus Dr. Sutarno sebagai orang tua terkasih yang jejak pelayanannya akan selalu hidup dalam sejarah UKSW.

“Pesan beliau kepada UKSW sangat kuat dan mendalam yang selalu saya ingat adalah setia pada firman, takut akan Tuhan,” tutur Rektor Intiyas. Ia menegaskan bahwa UKSW sebagai kampus milik Tuhan, yang didukung oleh 18 sinode, dipanggil untuk terus berjalan dalam garis pelayanan yang setia dan rendah hati di hadapan-Nya.

Rektor Intiyas juga mengenang berbagai karya nyata almarhum yang masih dirasakan hingga hari ini. Salah satunya adalah Gedung Administrasi Pusat (GAP) UKSW, yang arsitekturnya dirancang langsung oleh Pendeta Emeritus Dr. Sutarno. Dengan satu tema yang menyatukan nama dan karya beliau selama masa kepemimpinannya sebagai rektor, UKSW akan mempersembahkan ruangan sebagai ruang kenangan, sebagai tanda hormat atas dedikasi dan keteladanan almarhum.

Dari pihak keluarga, Putri Almarhum, Restiani Andriati mengenang sosok ayahnya sebagai pribadi yang taat mendengar dan menaati panggilan Tuhan. Ia menuturkan bahwa ayahnya tidak pernah berjalan menurut kehendaknya sendiri, melainkan dengan kesungguhan mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki atas hidupnya. Kesederhanaan menjadi napas hidupnya, dan kasih menjadi cara mendidiknya.

“Waktu saya belajar (nyetir-red), saya sering salah bahkan nyerempet, rusak mobilnya, tapi Bapak tidak pernah marah,” kenangnya. Ia juga menyoroti komitmen almarhum terhadap pemerataan pendidikan, khususnya melalui kebijakan dan program yang membuka akses mahasiswa dari Indonesia Timur untuk menempuh pendidikan di UKSW, sebagai upaya nyata mengurangi ketimpangan dan kesenjangan pendidikan.

Jejak Panjang Pendeta Emeritus Dr. Sutarno

Pendeta Emeritus Dr. Sutarno lahir pada Jumat, 23 Februari 1934, di Bobotsari, sebuah desa kecil di Kabupaten Banyumas. Bobotsari hanyalah tempat ia “numpang lahir”, karena ayahnya yang merupakan Kepala Sekolah Rakyat segera berpindah tugas ke Yogyakarta. Masa kanak-kanak hingga remajanya dijalani di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Meski tidak berasal dari keluarga Kristen, ayahnya menyekolahkan anak-anaknya di Holands Javaans School (HJS) met de Bijbel “Kulon”. Sutarno menempuh pendidikan SMP di Taman Siswa, tempat ia menyerap nilai-nilai budi pekerti sekaligus mengembangkan bakat seni, musik, dan tari tradisional. Pendidikan SMA dijalaninya di SMA B Negeri 1 Yogyakarta, sebelum akhirnya berpindah ke SMA Bopkri 1 demi menyesuaikan kondisi kesehatannya.