blank
UKSW berduka, Pendeta Emeritus Doktor Sutarno Rektor UKSW periode 1973–1983 berpulang. Foto: UKSW

Perjumpaannya dengan iman Kristen berlangsung secara personal dan reflektif. Ia mengikuti katekisasi di bawah bimbingan Pendeta Sangidjo dari GKJ Mergangsan, Yogyakarta, dan pada 2 Mei 1954 menerima Sakramen Baptis Dewasa, empat belas bulan setelah ayahnya berpulang.

Panggilan pelayanannya kian nyata ketika ia menempuh pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, lulus pada tahun 1959. Di masa ini, ia aktif dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Persekutuan Mahasiswa Teologi Jakarta. Pada 28 Maret 1963, ia ditahbiskan sebagai Pendeta Pelayanan Mahasiswa di Semarang.

Perjalanan akademiknya membawanya ke Vrije Universiteit (VU), Amsterdam, tempat ia meraih gelar Doktorandus Teologi pada 1967 dan kemudian Doktor Teologi bidang Etika Politik pada 1970. Sekembalinya ke tanah air, ia mengabdikan diri sepenuhnya bagi UKSW. Pada 11 Oktober 1973, dalam Dies Natalis XVII UKSW, Pendeta Emeritus Dr. Sutarno diangkat sebagai Rektor UKSW kedua, memimpin universitas ini selama satu dekade pada 1973–1983.

Selain memimpin UKSW, almarhum juga mengemban berbagai peran penting, yaitu dosen tamu di Christian Theological Seminary Indianapolis dan Union Theological Seminary, Richmond, Virginia, Ketua Program Pascasarjana UKSW, Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan, serta tokoh penting dalam pelayanan gerejawi nasional dan global, termasuk sebagai Ketua PGI dan anggota Central Committee World Council of Churches (WCC).

Hingga usia senja, semangat melayani tidak pernah padam. Sebagai pendeta emeritus, beliau tetap aktif dalam tim revisi Alkitab Bahasa Jawa, menjadi penasihat Paguyuban Adiyuswa Sinode GKJ, serta Pemimpin Redaksi Majalah Adiyuswa.

Dalam permenungan hidupnya, ia sering mengutip Yesaya 49:1, meyakini bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam tangan Tuhan yang memanggil dan menuntun.

Ning S