blank
Ilustrasi, Arsul Sani, Hakim MK yang dikabarkan punya ijazah palsu menunjukkan ijazah yang dimilikinya. Foto: Reka SB.ID

blankOleh Dony, S-Wardhana

SAAT ini di berbagai media baik massa maupun sosial di Indonesia sedang marak diperbincangkan antara keaslian dan kepalsuan. Di negara yang amat suka memberi cap atau label pada banyak hal, sebagian (untuk tidak mengatakan sebagian besar orang Indonesia memperdebatkan antara apa yang benar-benar asli dan mana yang sungguh bukan asli atau palsu.

Nampak jelas bahwa keaslian bukan lagi semata mata masalah maksud atau niat baik, material atau bahan, maupun mutu atau kualitas. Keaslian sejatinya berubah maknanya menjadi komoditas yang mirisnya dapat dipalsukan. Terjadilah BINGUNG BERJAMAAH. Yang benar benar asli terlihat atau terasa palsu sedangkan yang palsu justru teramat sering tampak membuat orang lebih yakin dari pada apa yang sesungguhnya asli.

Coba kita lihat keseharian kita. Semakin banyak orang bersandiwara dengan mengenakan topeng, entah itu topeng kejujuran sementara kenyataannya justru kebohongan yang sedang ditutupi atau pun topeng pencitraan untuk meningkatkan harga jualnya. Di lain pihak masih ada juga orang yang menunjukkan ketulusan dan integritasnya tanpa perlu dipoles pencitraan.

Publik sering kali terkecoh antara mana yang asli dan mana yang palsu. Sehingga muncul istilah ASPAL (asli tapi palsu) sementara sebenarnya ada pula yang PALAS (palsu tapi asli). Untuk MENJADI BENAR tidaklah penting sedangkan NAMPAK BENAR justru menjadi sesuatu yang wajar.

Misalnya, orang tidak perlu belajar dengan benar sesuai prosedur, yang penting mendapatkan ijazah dan gelar. Tidak harus paham, yang penting kelihatan pintar. Carl Gustav Jung menyatakan: “Who looks outside, dreams; who looks inside, awakes.” artinya, bila orang terus mencari validasi dari luar (gelar, status, dan pujian) maka dia hanya bermimpi; tetapi ketika dia mau melihat ke dalam dirinya sendiri (kesadaran, kejujuran dan integritas) justru dia benar-benar “terjaga” sehingga dia hidup secara otentik (asli tanpa kepalsuan).

Yang namanya cap, brand, atau label, status maupun ijazah menjadi barang yang sangat diagungkan. Kita teramat mendewakan simbol atau gelar (pendidkan) tapi melupakan keaslian kemampuan atau kapasitas seseorang yang tidak dapat dicetak secara digital.

Ijazah boleh asli tapi kompetensi seseorang itu masalah lain. Tidak sedikit orang dengan ijazah apa adanya namun memiliki kemampuan atau kompetensi (etos kerja, intuisi, kreativitas, integritas) yang tidak dapat dipalsukan.

Di lain pihak orang yang memiliki gelar berderet-deret justru ternyata memiliki kelemahan, miskin etos kerja, intuisi, kreativitas dan integritas. Dengan demikian kita paham bahwa ASLI maupun PALSU bukan semata mata masalah berkas atau dokumen namun tentang kejujuran hakiki yang tidak dapat dipalsukan.

DON’T JUDGE THE BOOK BY ITS COVER. Masyarakat hendaknya jangan mudah tertipu dengan tampilan. Sampul atau Bungkus  (cover) suatu produk bisa sangat menawan dan memikat hati.

Namun isinya belum tentu seperti yang kita harapkan alias tidak sesuai dengan yang nampak dalam bungkusnya. Keaslian terkadang tampak bukan karena kualitasnya namun bagaimana kebutuhan kita untuk mempercayainya.

Last but not least, kita dihadapkan pada kenyataan hidup antara yang asli atau palsu. Lebih  konkret lagi antara yang asli tapi palsu dan yang palsu tapi asli. Yang asli bisa saja diabaikan sedangkan yang palsu justru diagungkan.

Sejatinya keaslian tidak akan pernah sirna karena sedang berada di balik tempat yang sering tidak kita sadari yakni kerja diam tanpa mengumbar citra, ketulusan, kesetiaan, komitmen dan integritas.

Kita sering bingung dan terjebak antara  yang tampak di luar dan apa yang sebenarnya ada di dalam. Hidup adalah bukan sekedar tentang melihat apa yang tampak, namun keberanian untuk menggali apa  yang ada di baliknya.

“The privilege of a lifetime is to become who you truly are.” (Carl Gustav Jung)

Hidup yang bermakna adalah hidup yang kembali pada keaslian diri — menjadi asli tanpa topeng atau kepalsuan.

Dony, S-wardhana, (A. Soerjowardhana), Dosen Fakultas Ilmu Budaya UDINUS, penulis buku 100% Anti Nganggur