DEMAK (SUARABARU.ID) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Ngegot mengunjungi salah satu UMKM mebel di Desa Ngegot, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Senin (30/5/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pemetaan potensi desa yang bertujuan menggali peluang pengembangan sektor usaha lokal sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Selama kunjungan, mahasiswa berdialog langsung dengan pemilik usaha sekaligus meninjau proses produksi mebel yang telah berjalan sejak 2012. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi usaha, proses produksi, pemasaran, hingga berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya.
UMKM mebel yang diketahui telah berdiri selama satu dekade lebih tersebut memanfaatkan kayu jati sebagai bahan baku utama yang didatangkan langsung dari Jepara. Berbagai produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari meja, kursi, lemari, pintu rumah, hingga kusen.
Dari hasil kunjungan, mahasiswa mengetahui bahwa proses produksi dilakukan secara mandiri oleh pemilik bersama para pekerja di lokasi usaha. Tahapan pengerjaan dimulai dari pembelian kayu sebagai bahan mentah, dilanjutkan dengan proses penggergajian, pembuatan desain berdasarkan contoh atau pesanan, kemudian tahap penghalusan menggunakan amplas sebelum produk siap dipasarkan atau dikirim.
Untuk pesanan dari masyarakat sekitar, produk biasanya dikerjakan hingga tahap akhir atau siap pakai. Sementara untuk pesanan dari pihak supplier, sebagian besar dikirim dalam bentuk setengah jadi sebelum masuk tahap finishing.
“Kalau pesanan warga biasanya langsung jadi siap pakai. Tapi kalau pesanan dari pabrik atau supplier biasanya belum finishing, jadi menyesuaikan permintaan,” jelas Pak Mustaqim, pemilik usaha mebel.
Usaha tersebut juga telah memiliki relasi kerja sama tetap dengan supplier untuk memproduksi kebutuhan furnitur seperti meja dan kursi. Dalam satu minggu, pesanan yang diterima minimal mencapai sekitar 20 unit, atau kurang lebih 100 unit dalam satu bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk mebel dari desa masih cukup stabil.
Menurut pemilik usaha, salah satu proyek terbesar yang pernah dikerjakan adalah pembuatan pintu rumah dalam jumlah besar. Selain memenuhi kebutuhan konsumen di desa, hasil produksinya juga telah dikirim ke berbagai wilayah di Jawa Tengah, seperti Boyolali, Kudus, dan Semarang.
“Pernah proyek terbesar itu pintu rumah. Kalau pengiriman biasanya ke Boyolali, Kudus, sama Semarang. Jadi memang tidak hanya untuk sekitar sini saja,” ujarnya.
Selain mengandalkan pemasaran langsung dan jaringan supplier, pelaku usaha juga mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Saat ini pemasaran dilakukan melalui Facebook untuk memperluas jangkauan konsumen di luar daerah.
“Sekarang juga sudah coba dipasarkan lewat Facebook. Lumayan membantu, jadi orang luar daerah juga bisa lihat produk yang kami buat,” tambahnya.
Meski demikian, menjalankan usaha mebel tentu tidak lepas dari tantangan. Pemilik usaha mengaku beberapa kendala masih sering dihadapi dalam kegiatan produksi. Salah satunya adalah gangguan listrik yang dapat menghentikan proses pengerjaan, terutama karena sebagian alat produksi bergantung pada listrik. Selain itu, risiko kerugian juga dapat muncul dari bahan baku yang kualitasnya tidak sesuai harapan.
“Kadang kendalanya listrik mati, jadi pekerjaan berhenti. Pernah juga beli kayu, pas dibelah ternyata bagian dalamnya kosong atau rusak, jadi hasilnya tidak maksimal,” ungkapnya.
Saat ini usaha tersebut dijalankan bersama tiga orang pekerja, termasuk tenaga khusus di bagian ukir. Aktivitas produksi dilakukan setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Dari usaha tersebut, omzet bersih yang diperoleh rata-rata mencapai sekitar Rp2 juta per minggu per orang.
Bagi mahasiswa KKN Desa Ngegot, kunjungan ini menjadi pengalaman berharga karena memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana UMKM lokal dapat bertahan dan berkembang selama lebih dari satu dekade. Selain menjadi sumber penghasilan bagi pemilik dan pekerjanya, usaha mebel tersebut juga menjadi bagian dari roda perekonomian desa yang terus bergerak.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap UMKM mebel di Desa Ngegot dapat terus berkembang dan semakin dikenal luas. Potensi yang dimiliki tidak hanya terletak pada kualitas produknya, tetapi juga pada konsistensi usaha yang mampu bertahan sejak 2012 hingga sekarang. Dengan dukungan pemasaran yang lebih luas serta inovasi yang berkelanjutan, usaha mebel lokal diharapkan dapat terus menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Desa Ngegot.
Septiana W – Khansa Tabina













