Oleh: Alisia
DI TENGAH rimbunnya Taman Nasional Way Kambas, seekor gajah betina yang diberi nama Erin menjadi bukti hidup tentang ketangguhan satwa liar menghadapi luka dan kehilangan. Belalainya yang terputus setengah tidak membuatnya menyerah. Justru, ia menjadi simbol harapan tentang perawatan satwa dan rekonsiliasi manusia dengan alam.
Pagi itu, embun masih menggantung di ujung ilalang ketika Erin berjalan perlahan di padang rumput. Langkahnya tenang, meski bekas luka di ujung belalai terlihat jelas. Para pawang di Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas memanggilnya dengan lembut. Erin mendekat, mencoba meraih makanan menggunakan sisa belalainya. Gerakannya memang tak seluwes dulu, namun penuh keteguhan.
Erin ditemukan dalam kondisi terluka parah beberapa tahun lalu, diduga akibat jerat pemburu liar. Belalainya nyaris putus ketika tim Balai Taman Nasional Way Kambas pertama kali menemukannya. “Saat itu, kami tidak tahu apakah ia bisa bertahan,” kata seorang pawang senior, Sukowiyono yang mengenang masa-masa kritis gajah kecil itu.
https://share.google/images/jt1crp8m7ctbE7n7y
Perawatan Erin memakan waktu panjang. Luka terbuka di belalainya harus dibersihkan setiap hari. Ia menjalani masa-masa sulit, termasuk belajar beradaptasi dengan cara makan yang berbeda. Namun perlahan, ia kembali menunjukkan keceriaan: merespons panggilan pawang, bermain air, hingga belajar mengambil makanan dengan teknik baru.
https://share.google/images/qAbGbOWzD7Is6KCD1
Kini, Erin menjadi salah satu gajah yang paling dekat dengan para pawang. Ia kerap mendekat untuk mencari perhatian, seolah tahu bahwa manusia-manusia inilah yang dulu menyelamatkannya.
Pengunjung yang datang ke Way Kambas sering kali terdiam ketika melihat Erin dari dekat antara kagum dan tersentuh, terutama ketika menyadari bahwa belalai adalah alat vital bagi gajah untuk makan, minum, hingga bersosialisasi.
Lebih dari sekadar kisah tentang satu ekor gajah yang selamat, Erin mengingatkan kita pada urgensi menjaga habitat dan menghentikan perburuan satwa liar. Jerat dan jebakan yang dipasang pemburu bukan hanya merenggut nyawa satwa, tetapi juga meninggalkan trauma panjang yang tidak selalu terlihat.
Di padang rumput sore hari, Erin kembali berjalan perlahan, sementara matahari menggantung rendah di balik pepohonan. Hidupnya mungkin pernah hancur oleh kekejaman manusia, tetapi di Way Kambas, ia menemukan tangan-tangan yang menyembuhkan.
Dalam tiap langkahnya yang lembut, ada pesan tentang ketangguhan dan harapan. “Saya harap Erin nyaman dan dapat bertahan di sini” kata Sukowiyono penuh harapan.**













