Oleh Agung Mumpuni
SETELAH resmi bercerai dari pesepakbola Pratama Arhan, nama Azizah Salsha kembali menjadi pusat perhatian publik. Namun kali ini bukan karena kisah asmaranya, melainkan karena gelombang cancel culture yang menerjang dirinya sejak akhir September 2025.
Putri politikus Andre Rosiade itu menjadi sasaran kemarahan warganet setelah muncul rumor kedekatannya dengan seorang pengusaha muda sebelum masa iddah selesai. Meski perceraian dengan Arhan berlangsung baik-baik, perhatian publik terhadap kehidupan pribadi Azizah justru berubah menjadi tekanan sosial yang berlebihan.
Dalam waktu singkat, ruang digital dipenuhi komentar pedas yang mempertanyakan akhlak, niat, bahkan masa depan Azizah. Banyak netizen menuding dirinya bersikap tidak pantas, seolah-olah rumah tangga yang gagal dan gosip yang belum tentu benar sudah cukup untuk membenarkan penghakiman massal. Dari kolom komentar hingga konten kreator, semua seakan berlomba memberi cap: diboikot, dijauhi, dan “dibatalkan.”
Puncak reaksi publik itu tampak ketika brand olahraga Erspo dikritik keras karena menggandeng Azizah sebagai salah satu model dalam ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2026. Arus protes membuat Erspo akhirnya mengeluarkan permintaan maaf terbuka melalui Instagram. Mereka menyebut insiden ini sebagai pembelajaran untuk lebih selektif memilih talent dan mengakui perlunya evaluasi internal setelah host live mereka memberikan respons tidak pantas.
Kejadian ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh cancel culture dalam memengaruhi keputusan bisnis dan menggambarkan bagaimana opini publik dapat menggeser arah sebuah brand dalam sekejap.
Sementara itu, Andre Rosiade tak tinggal diam melihat putrinya dihujani hujatan. Dalam wawancara bersama dr. Richard Lee, Andre menyampaikan kekesalannya terhadap perilaku warganet yang menurutnya melampaui batas. Ia menegaskan bahwa hubungannya dengan Arhan tetap baik meski mereka tidak lagi terikat sebagai keluarga. “Kita hubungan baik-baik saja. Setelah pisah, Arhan beberapa kali menghubungi saya, masih telepon saya, nggak ada masalah,” ungkapnya.
Namun yang membuatnya heran adalah sikap publik yang terus menyerang Azizah tanpa henti, padahal, menurutnya, putrinya tidak melakukan kesalahan fatal yang merugikan masyarakat. “Kan dia nggak bikin salah sama publik. Anak ini kenapa harus diserang habis-habisan?” lanjutnya. Andre juga menjelaskan bahwa Azizah bukan tipe yang gemar membela diri secara berlebihan. Ia memilih menenangkan diri, menjauhi sensasi, menekuni olahraga padel, dan menolak tampil di podcast atau konferensi pers yang berpotensi memperkeruh keadaan. “Kita hidup normal saja,” tegas Andre, berharap Azizah dan Arhan dapat melanjutkan hidup masing-masing dengan damai.
Fenomena Global
Fenomena cancel culture yang menimpa Azizah bukan peristiwa tunggal di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai figur publik terseret arus pembatalan massal ini: Virgoun yang terpuruk akibat isu perselingkuhan; Saipul Jamil yang diboikot setelah kasus pelecehan seksual; Reza Arap dan Arawinda Kirana yang dihantam isu serupa; hingga influenser dan selebritas seperti Ayu Ting Ting, Rafael Tan, Raffi Ahmad, dan Aurel Hermansyah yang terseret isu politik.
Bahkan industri film seperti Penyalin Cahaya pun pernah terdampak ketika salah satu kru terseret dugaan kasus kekerasan seksual hingga akhirnya namanya dihapus dari kredit film.
Fenomena ini juga terjadi secara global. Johnny Depp sempat kehilangan perannya di seri Fantastic Beasts akibat tekanan publik, meski kemudian putusan pengadilan memberikan gambaran berbeda mengenai kasusnya.
Media sosial berperan besar mempercepat dan memperluas dampak cancel culture. Dahulu, penghakiman sosial terjadi dalam lingkup terbatas. Kini, jutaan pengguna dapat bersuara dalam waktu bersamaan, menciptakan tekanan masif yang kerap tidak memberi ruang bagi klarifikasi atau pemulihan. Cancel culture menjadi pedang bermata dua: dapat menjadi mekanisme kontrol sosial, tetapi juga mudah berubah menjadi perundungan massal yang tidak proporsional.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori komunikasi dan psikologi sosial. Cancel culture berakar dari konsep moral outrage, yaitu kemarahan publik terhadap perilaku yang dianggap melanggar norma. Di era digital, moral outrage dipercepat oleh algoritma yang mengutamakan konten emosional. Teori Social Contagion (Damon Centola, 2018) menggambarkan bagaimana perilaku dan emosi dapat menular secara kolektif melalui ruang digital. Satu rumor cukup untuk memicu reaksi berantai.
Dari sisi psikologis, terdapat beberapa mekanisme yang membuat publik mudah menghakimi: Deindividuasi: identitas pribadi larut dalam kerumunan digital sehingga orang lebih berani menyerang; Confirmation bias: pengguna hanya mempercayai informasi yang mendukung prasangka awalnya; Online Disinhibition Effect (Suler, 2004): anonimitas membuat orang berkata kasar tanpa memikirkan dampaknya di dunia nyata.
Efek-efek ini menciptakan ruang digital yang semakin sulit ditembus oleh klarifikasi, logika, atau rasa iba. Dampaknya terhadap korban pun tidak sepele. Penelitian University of Pennsylvania (2021) menunjukkan bahwa korban cancel culture mengalami peningkatan risiko kecemasan sosial, stres kronis, isolasi, penurunan self-esteem, hingga gejala depresif akibat tekanan publik yang berulang.
Dalam kasus Azizah Salsha, komentar publik sering kali menyinggung rupa, moralitas, hingga keluarga—meninggalkan luka psikologis yang tidak kasatmata, tetapi nyata. Pada akhirnya, kasus Azizah Salsha mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: apakah wajar seorang perempuan muda yang baru melewati perceraian harus menanggung penghakiman sebesar ini? Apakah cancel culture benar-benar memperbaiki moral publik atau justru mencerminkan betapa mudahnya masyarakat jatuh pada perilaku mob justice?
Cancel culture seharusnya menjadi bahan refleksi, bukan sekadar tontonan. Fenomena ini mungkin tidak akan hilang, tetapi kita sebagai masyarakat digital dapat memilih untuk lebih kritis, lebih berhati-hati, dan lebih manusiawi dalam merespons sebuah isu. Sebab peradaban tidak diukur dari seberapa keras kita menghukum, tetapi dari seberapa bijak kita memahami.
Agung Mumpuni, Kreator Konten, Founder Unlimited Talks Indonesia













