blank
Ilustrasi, "tanpa sapa aruh, tak saling menyapa. Reka: wied SB.ID

blankSALAH satu kemampuan dan ciri khas manusia ialah berbicara. Tepatnya kemampuan berbicara. Apa yang dipikirkan, lalu bisa diungkapkan lewat kata-kata.

Dan apa yang terungkap lewat kata-kata itu, dapat ditangkap, dapat dimengerti oleh manusia lainnya. Itulah bercakap-cakap, itulah berbicara. Khas sekali ada pada makhluk manusia, nyaris tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan lain selain manusia. Puji syukur kepada Sang Pencipta.

Kemampuan berbicara lewat kata-kata itulah yang disebut dengan ungkapan sapa-aruh dalam bahasa Jawa. Bermula dari bayi dengan segala keterbatasannya dalam sapa-aruh, lalu seiring dengan perkembangan usianya, bayi kecil itu semakin mampu berbicara; selanjutnya apa yang dikatakan itu semakin bermakna dan jelas. Semakin mampu dan baik dalam sapa aruh dalam kehidupan sehari-hari.

Aruh-aruh

Sapa aruh itu artinya bertegur sapa. Itu berarti dua atau tiga orang lebih saling bertemu, saling menyapa satau dengan lainnya. Cara bertegur sapa yang utama dan pertama pasti lewat kata-kata, lalu bisa juga ditambah dengan olah tubuh entah berjabat tangan, entah pula cipika-cipiki, cium tangan, membungkukkan tubuh, menggangguk, kerling mata, dan lain sebagainya.

Baca juga Tanpa Tedheng Aling-Aling

Sapa aruh seperti ini juga disebut aruh-aruh dengan sedikit catatannya; yakni kalau sapa aruh itu dapat dipastikan dua atau tiga orang lebih tadi saling bertegur sapa, saling menyapa.

Sedang kalau aruh-aruh, sangat mungkin kegiatan itu dilakukan hanya sepihak. Misal, Pak Suta lewat depan rumah Pak Naya, sertamerta berkata “ndherek langkung, Pak Naya….” Apa yang dilakukan Suta itu aruh-aruh, sekedar menyapa. Demikian juga jawaban Naya: “Mangga…….”

Aruh-aruh meningkat menjadi sapa aruh manakala Suta dan Naya saling terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut. Gesture-nya, Suta berhenti, lalu meneruskan omon-omon-nya: “Sehat ta Pak Naya. Sing penting sehat, kuat, semangat, dadi berkat untuk sesame umat dan masyarakat.” Bla …..bla……… selanjutnya antara keduanya, Itulah sapa aruh, bukan sekedar aruh-aruh saja.

Tanpa Sapa Aruh: Jothakan

Nah ……….. inilah substansi utama tulisan kali ini, yakni jothakan yaitu kondisi antar minimal dua orang yang tidak saling bertegur sapa. Tanpa sapa aruh. Adakah kondisi semacam itu di muka bumi ini? Wouuuwwwwww …….jangan ditanya; buanyyaaakkkkkk lho.

Tentu pertanyaannya, mengapa ada saja orang menyia-siakan karunia terindah dan khas ini? Jawabannya tungga;: Sakit hati. Seseorang merasa tersinggung, lalu sakit hati; atau seseorang merasa diciderai, sakit hati; dibohongi, ditipu, digosipkan, di-bully, dan di- … di- ….. di- …. lainnya. Intinya orang terluka hatinya. Luapannya, tidak mau menegur (lagi) dia yang telah melukai hati itu.

Baca juga Tanpa Awer-Awer

Fenomena jothakan , tanpa gelem sapa aruh, tidak mau lagi saling bertegur sapa dapat menjangkiti siapa pun, orang itu  pejabat, atau bukan pejabat; laki-laki atau pun perempuan; orang dewasa maupun anak-anak. Semua lapisan orang dalam masyarakat dapat terjangkit penyakit jothakan ini.

Berapa lama situasi tanpa gelem sapa aruh dapat berlangsung? Tidak gampang menjawabnya. Anak-anak kecil mungkin relatif lebih singkat dibanding orang dewasa. Durasi jothakan tidak ada garansi singkat panjangnya.

Juga tidak ada garansinya wawuh  yaitu mau bertegur sapa lagi karena  sudah ada pihak-pihak yang memediasi misalnya.

Kisah kasih “kuna” model Clara dan Willy ini pantas direnungkan oleh mereka yang jothakan. Willy tiba-tiba menulis surat kepada kekasihnya: Dear Clara,  maafkan saya tiba-tiba menjadi pelupa, Kemarin aku tulis surat lamaran kepadamu, tetapi aku lupa apa jawabanmu kemarin: menerima atau menolak lamaranku.

Clara segera menjawab: Dear Willy, senang sekali ketika kemarin aku menerima lamaranmu. Sejauh saya ingat, aku kemarin telah memberi jawaban “tidak kepada seseorang,”  tetapi lupa seseorang itu siapa.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng