Oleh : Fakrudin
Jepara adalah kitab tebal berjilid jilid. Sebab kota ini menjadi salah satu pusat peradaban bangsa yang telah tercatat dalam mitos kerajaan Jawa. Jepara juga rumah besar R.A.Kartini yang dikenal sebagai Ibu Literasi Indonesia yang gagasan-gagasan pemikiran yang visionar dirangkai dengan majas indah.
Karena itu bukan saja butuh waktu untuk membacanya secara detail dan menyeluruh, tapi juga butuh kesabaran, kerendahan hati, pun “curiousity” yang tinggi. Ini pernyataan seorang penulis, pengajar dan kurator senirupa ternama saat mempersiapkan sebuah pameran Seni Ukir kayu Jepara di kancah dunia.
Hal ini tentu saja mengkonfirmasi remah – remah sejarah Jepara yang selama ini hanya dipajang dalam sangkar emas pidato – pidato para pemimpin dan kertas kertas fotocopy dengan warna warna pudar di meja display museum kota yang dibangun dengan secuil hati nurani.
Para pemimpin tanpa empati telah mengkubur Jepara sampai rakyatnya kehilangan memori kolektif tentang budaya leluhurnya. Tentu hal ini juga terjadi di sebagian besar peradaban lampau nusantara.
Di dunia kepenyairan Jepara ada yang menarik untuk dicatat. Dalam perspektif buku tebal peradaban tadi pulalah “Membaca Jepara” menjadi harapan untuk menelusuri hal ihwal kejeparaan dengan seluruh dinamika budaya yang ada.
Perlu dicatat dengan tinta emas, atau pun dengan darah dan airmata. Penyair penyair Jepara secara konsisten selama satu dasawarsa lebih, merangkum pembacaan Jepara dalam sebuah buku kumpulan puisi. Ribuan puisi lahir dari kontemplasi, reaksi, kritik, kecintaan, harapan, mimpi pada kehidupan, kepasrahan pada Sang Pencipta, juga perlawanan kepada kejahatan dan angkara murka.
Di dalam masyarakat yang kurang perhatian dengan budaya membaca, sebuah buku, lebih lebih buku sastra, lebih khusus lagi puisi adalah kemewahan kaum elit, kaum eksklusif. Puisi butuh lebih banyak energi untuk memasuki, lebih lebih berdialog secara intens, memasuki relung relung majas, gaya bahasa, idiom, aforisme, estetika, etika juga logika, peristiwa dan pengalaman sang penyair juga masyarakat darimana mereka lahir.
Tantangan untuk mengunyah sastra, puisi secara tapis dan intens di era banjir informasi juga hoax sungguh tidak mudah. Namun di Membaca Jepara teman- teman penyair melakukannya. Menerbitkan buku setiap tahunnya, menyelenggarakan lomba baca puisi, melakukan aksi pembacaan puisi di berbagai kesempatan, berkolaborasi dengan seniman seniman di bidang yang lain. Tak mudah menjaga konsistensi. Had Priyanto, penulis dan pegiat literasi Jepara bahkan menyebut, menggerakkan budaya literasi bagaikan berjalan di jalan terjal, berbatu dan penuh onak duri.
Disini penerbit, penggagas dalam hal ini adalah Gaperto dan Didit Endro S dan penyair penyair lain harus bekerja ekstra keras untuk mendobrak kultur baca yang macet tadi. Memelihara spririt membaca, bersastra, berpuisi dari generasi penyair yang berbeda usia, beda masa dan perbedaan perbedaan lainnya. Terlebih lagi Membaca Jepara harus aktif memasuki tujuan utama dari puisi, literasi, yakni: masyarakat, rakyat. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Membangun karakter suatu generasi.
Puisi dalam kontek sebagai produk pengetahuan tentu bertransformasi secara up to date dengan dinamika arus ilmu pengetahuan secara umum dan hal ini tentu terjadi pula di dalam puisi puisi dari kurang lebih 50 penyair Jepara yang terlibat di buku kumpulan puisi Membaca Jepara yang sudah 10 kali terbit dan akan yang ke 11 tahun ini.
Sinergitas menjadi kata kunci dalam menjaga silaturahmi dan kolaborasi. Kesadaran sosial untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan secara bersama sama selalu menjadi dasar soliditas bagi suatu komunitas. Membaca Jepara pun pada akhirnya menjadi nafas dari komunitas penyair Jepara.
Anjing menggonggong kafilah berlalu. Begitu yang dilakukan kawan kawan penyair Jepara dalam menyikapi kritik yang tidak jelas yang sering sampai ke telinga mereka. Mereka menjawabnya dengan bukti. Buku kumpulan puisi Membaca Jepara terus terbit. Kegiatan pembacaan puisi terus berjalan. Penyair penyair nasional, Asia Tenggara terus lahir dari komunitas ini. Tak perduli naik turunnya perhatian pemerintah daerah kepada dunia kepenyairan dan sastra pada umumnya. Mereka tetap istiqomah bersodaqoh kreatif lewat puisi.
Tidak menutup kemungkinan akan lahir para ktitikus, peneliti yang akan mengupas, mengkompilasi, mengulitinya dengan pisau analisa berdasarkan disiplin ilmu tertentu. Sehingga puisi puisi tadi akan menjadi jalan yang lebih benderang untuk dilewati generasi demi generasi yang akan datang.
Jepara tentu tak asing dengan dunia sastra. Jepara tentu tak pernah sepi dengan guru guru kehidupan. Dari Pendeta Hwening sampai Kartini, kiai kiai tradisional sampai wali wali pencari kebenaran Ilahi. Dan bukankah puisi puisi itu lahir dari atmosfir pencarian kebenaran, keheningan dan kebeningan batin?
Saya sendiri percaya bahwa sastra yang baik, syair atau puisi yang baik, yang datang dari hati yang tulus para penyair akan menemukan jalan untuk menyentuh kemudian merengkuh hati setiap manusia.
Di dalam babak baru kehidupan berbangsa yang carut marut seperti hari ini, Membaca Jepara adalah oase yang akan membasuh jiwa jiwa yang sedang marah atas berbagai tindakan buruk para pemimpin bangsa. Satu harapan untuk menjaga kesadaran kemanusiaan sejati dalam mencapai kebijaksanaan hidup.
Terimakasih “Membaca Jepara”, teruslah berbagi, mengabdi, melahirkan kebijaksanaan yang akan selalu membersamai perjalanan hidup kita, perjalanan berbangsa kita, perjalanan berJepara kita.
Jangan pernah lelah menebarkan gerakan literasi di Bumi Kartini, walaupun bagaikan menyemai benih padi di atas batu padas yang kering. Jika ada satu atau dua butir benih padi yang tumbuh tentu akan sangat berarti untuk menebarkan kembali pada musim tanam yang akan datang.
Penulis adalah budayawan Jepara













