blank
Danau Laut Mati, airnya berkadar garam tinggi karena air dari Sungai Yordan terhenti di sini. Pengunjung bisa mengapung di airnya. Foto: Satrianiwisata

blank

SOBAT pembaca, serial tulisan bertopik “Ora ………..” sudah cukup banyak. Meskipun masih ada yang dapat dikupas; tiba saatnya bergeser ke topik “Tanpa …….”  Mengapa? Ada dua alasan, pertama, dalam percakapan sehari-hari ora ….. dapat bermakna hampir sama atau bahkan sama dengan tanpa …..; atau sebaliknya.

Jika seseorang berkata: “Ah, ora mikir” sangat mungkin orang itu memang sedang tanpa mikir ketika melakukan sesuatu. Pada saat ada berbagai demo di  bulan Agustus kemarin, pasti ada saja orang yang keikutsertaannya ora mikir, yang berarti juga tanpa mikir-mikir, pokoke melu. Alasan kedua, pergeseran dari ora …… ke tanpa …….. ini semata-mata menghindari rasa bosan: Kok sarwa oraaaaaaaa terus.

Tanpa

Ada kata tan, ada pula kata tanpa; keduanya berkaitan langsung dengan kata ora. Tembung tan, berarti ora; seperti contohnya tan kinira, berarti ora ngira, yakni tidak  menyangka, bahwa …………. Sementara itu, tembung tanpa, maknanya ialah  ora nganggo, tidak menggunakan, tidak memakai, atau tidak ada. Contohnya, “setiap harinya, pasti masih ada saja warga masyarakat yang makan tanpa lawuh.” Orang itu ketika makan tidak ada lauk pauknya, sekedar nasi dan sayur saja.

Baca juga Ora Trima

Mengapa tanpa lauk pauk? Jawabannya pasti ora ana lawuh, ora duwe lawuh; dan jika dirunut lebih jauh, ohhhhh ternyata memang tidak mampu membeli bahan untuk dijadikan lauk.  Dalam konteks seperti ini, lauk pauk menjadi hal yang istimewa sekali.

Tanpa gawe

Ungkapan tanpa gawe ini  adalah contoh sebuah idiom yang sarat makna. Mengapa sarat makna?  Mari dengarkan penuturan seorang berrnama John Marsabella ini. Latar belakang penuturan Marsabella ini ialah negeri yang saat ini sedang sangat diperbicangkan dunia karena kondisi perangnya.

Negeri ini memiliki dua danau dari satu sungai yang sama, Itulah Sungai Yordan, dan dua danau itu ialah Danau Galilea dan Laut Mati. Meski sumbernya sama, yakni satu sungai; namun dua danau ini sangat-sangat berbeda.

Danau Galilea, luas sekitar 166 kilometer persegi, berada sekitar 200 meter di bawah permukaan laut, dengan kedalaman 43 meter adalah danau yang membawa serta kehidupan penduduknya gemah ripah loh jinawi;  makmur subur serba hijau. Banyak hotel di pinggiran danau ini. Danau yang sangat bermanfaat bagi penduduk.

Di Laut Mati, nyaris sebaliknya yang terjadi. Bersumber dari air tawar Sungai Yordan yang sama, namun di danau seluas sekitar 637 kilometer persegi dan berada 422meter di bawah permukaan laut, air laut mati ini asin bukan main. Ikan pun tidak ada yang hidup di danau mati ini.

Wisatawan yang datang ke Laut Mati pada umumnya mau membuktikan bahwa jika berenang di situ akan mengapung. Dan benar, manusia  mengapung di atas permukaan air asin itu. Pulangnya, sebagian wisatawan membawa lumpur yang konon dapat menghaluskan kulit.

Egoisme Laut Mati

Simpulan tulisan Marsabella demikian: “Sungai Yordan mengalirkan air yang ada di Danau Galilea ke selatan, ke Laut Mati. Namun di Laut Mati, air itu tidak keluar lagi. Laut Mati secara egois menyimpan air Sungai Yordan bagi dirinya sendiri. Hal itulah yang membuatnya mati, karena ternyata danau itu hanya mau menerima saja, dan sama sekali tidak pernah mau memberi.”

Baca juga Embuh Ora Weruh

Seperti Laut Mati, itulah makna tanpa gawe yang kita bahas dalam tulisan kali ini. Tanpa gawe menggambarkan betapa ada saja pekerjaan atau pun penugasan yang tidak menghasilkan apa-apa karena ternyata ora ana paedahe, ora kasil. Kalau Laut Mati digambarkan sangat egois karena hanya mau menerima tanpa pernah mau memberi sekecil apa pun; apa yang sebenarnya terjadi ketika sebuah penugasan disertai dengan jabatan tertentunya, namun tanpa gawe?

Telaah terkait egoism rupanya dapat diperdalam lagi. Misal, jangan-jangan tanpa gawe dalam arti ora kasil lan ora ana paedahe atas sebuah proyek atau bahkan program, memang terjadi karena ego sektoral yang masih kental?

Termasuk dalam istilah ego sektoral ini, jangan-jangan terjadi betul karena pihak pelaksana proyek atau program itu  tidak ingin ada koreksi, kritik, apa lagi dipertanyakan. Ego sektoral juga dapat berarti tertutup, seolah-olah eklusif dengan sikap: “Emang loe siapa? Gue, gitu lho!!”

Misalnya ada pejabat bersikap ego sektoral seperti Laut Mati itu di negeri ini, komentar orang pasti: “Hari gini seperti Laut Mati???” Tanpa gawe dehhhhh

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng