blank
tangkapan layar akun tiktok Kudusnesia.

KUDUS (SUARABARU.ID) – Aksi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kudus saat audiensi dengan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris pada Kamis (4/9/2025) menimbulkan polemik di jagat maya. Dua momen yang menjadi sorotan publik adalah sikap Ketua HMI Kudus yang enggan berjabat tangan dengan bupati serta aksi kader yang memaksa bupati bersumpah menggunakan Al-Qur’an.

Momen itu pertama kali diunggah akun TikTok Kudusnesia.id. Dalam video terlihat Bupati Sam’ani yang menjulurkan tangan untuk bersalaman, namun tidak dibalas oleh Ketua HMI. Bahkan, ia tetap merokok di hadapan bupati sebelum akhirnya rombongan dipersilakan masuk ke Pendapa Kabupaten Kudus.

Tindakan tersebut menuai berbagai komentar warganet. Sebagian menilai sikap itu kurang sopan dan tidak mencerminkan perilaku seorang mahasiswa.

“Ada beberapa rak koyo mahasiswa blass (tidak seperti mahasiswa sama sekali),” komentar akun @upitz_zz.

“Ketua? Didepan orang yang lebih tua berkomunikasi sambil megang rokok?,” sebut akun @Exa.

“Adab lebih tinggi dari pada ilmu,” tulis @kinderboy.

“Baru jd ketua organisasi aja udh begitu modelannya,minimal rokok dilepas dulu lah, lg ngobrol sama yg lebih tua.Bayangkn klo dia jd pejabat apa gk petantang petenteng setinggi langit,” tambah akun @Chimi.nw.

Meski banjir kritik, sejumlah pihak justru memberikan pembelaan. Senior HMI Kudus, Moh Ali Khomsin, menilai sikap kader HMI tersebut sah-sah saja. Dalam akun Facebook pribadinya, ia menuliskan:

“Ak bangga dg adik2, berani, semangat dn hrs bgt, soal tidak jabat tangan , itu pilihan, wong ora badan, ini menyampaikan aspirasi, jd itu lebih baik dr anarkis, y gak doso

Soal sumpah dg al Qur’an, mnrtku y ga masalah, para pejabat jg awal jabat d sumpah, tp y msh byk yg kena kasus, sekalipun pejabat good looking, jd perlu d tajdid , kayak tajdidun nikah , biasa ae, wong ora doso, ora kriminal ,

Soal yg nyumpah, baca Qur’an atau tidak, ya biasa ae, dll. Sing komen negatif ttg HMI, kayak org yg sempurna aja’.”

Dukungan serupa juga disampaikan Kholid Mawardi, mantan aktivis PRD yang kini menjadi anggota DPRD Kudus dari Fraksi Golkar. Ia menuliskan:

“Nek yang di persoalkan adab etika moral.. ya salah. Demo saja bagi penguasa sudah menyalahi adab etika dll tadi.

Dulu ketika waktu demo saya juga begitu dan memang selayaknya begitu. Bahkan ketika di ajak salaman dan di beri makan malah biasa di jawab kawan, gak perlu salaman gak perlu basa basi.. kita sedang dalam kondisi yang tidak baik2 saja. Karena konteksnya kita sedang berdemo

Ya begitulah memang demo, harus keras dan menggigit..

Tetap semangat kawan2 HMI… sampaikan salam ya”.

Polemik ini pun masih ramai diperdebatkan. Sebagian warganet mengecam tindakan HMI sebagai bentuk arogansi, sementara kalangan aktivis justru menilai hal tersebut wajar dalam dinamika gerakan mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah.

Sementara, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dalam pernyataannya seusai audiensi menanggapi santai aksi mahasiswa tersebut.

“Ya mereka bertamu, ya kami persilahkan masuk. Soal mahasiswa, saya juga mahasiswa (S1, S2 dan S3) ,”kata Sam’ani.

Ali Bustomi

Catatan: Berita ini mengalami sedikit penyuntingan tanpa mengurangi makna secara keseluruhan