
MANUSIA “kerasukan” setan, itu bukan hanya saat kesurupan. Dalam keseharian, (ketika fisik dalam kondisi segar-bugar), setan itu tetap saja bergentayangan dalam jiwanya, dan mengajak pada hal-hal yang menyimpang dari tuntunan agama. Lalu kapankah setan itu masuk dalam tubuh manusia?
Menurut para alim, setan itu dapat memasuki hati manusia setelah manusianya ada hasrat untuk berbuat dosa. Dengan kata lain, setan itu masuk dalam hati manusia melalui sifat-sifat buruk yang ada pada manusia itu. Itu berarti, orang yang masih mempertahankan imannya, setan tidak mampu membisikkan godaannya.
“Sesungguhnya engkau tidak berkuasa atas hamba-hamba-Ku” (QS 15:42). Dalam bahasa yang lebih sedernaha, setan hanya mau mengganggu bagi orang yang dapat atau mampu diganggu. Setan identik dengan nafsu-nafsu rendah, maka barangsiapa menundukannnya, maka dia menjadi raja, dan siapa mengikutinya, maka dia menjadi budak tawanannya.
Dalam sebuah kisah, suatu saat setan berkeinginan tobat dan keinginan itu diutarakan kepada Nabi Musa AS untuk menyampaikannya pada Allah. Allah pun memberikan syarat agar tobatnya diterima, agar setan bersujud kepada kuburan Adam AS. Mendengar syarat itu, setan marah karena kesombongannya.
Baca juga Gendam dan Hipnotis – I
“Bagaimana aku bersujud kepadanya ketika dia sudah mati, sedangkan selagi hidup aku tidak sudi melakukannya,” kata setan.
Melihat Musa AS sudah berkenan membantu menyampaikan pesan kepada Allah, setan pun memberi nasihat yang akan menyelamatkan Musa dan manusia pada umumnya dari gangguan setan. “Ingatlah aku dalam tiga keadaan. Pasti aku tidak akan mencelakakanmu,” kata setan.
“Pertama, ingatlah ketika kamu marah, aku berada dalam ruh dan matamu, aku bergerak bersama aliran darahmu. Kedua, dalam medan perjuangan, aku ingatkan kamu dengan keadaan anak istri hingga semangat juangmu melemah. Ketiga, jauhi berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, karena saya akan berperan sebagai utusan dia kepadamu dan utusanmu kepadanya.”
Disimpulkan, pintu setan itu dapat timbul karena sifat marah, pengecut atau menipisnya semangat amar makruf nahi munkar, juga akibat dari pergaulan bebas yang pada zaman akhir ini oleh sebagian besar masyarakat kita dianggap hal yang lumrah.
Menurut Imam Fahrur Rozi, ada tiga pintu utama masuknya setan dalam tubuh manusia, yaitu: Ghadab, syahwat dan hawa. Dalam psikologi Islam, ketiganya menunjukkan faktor yang menggerakkan segala aktivitas manusia. Dalam psikologi modern, ketiganya –Ghadab, syahwat dan hawa- disebut primary drives atau motives.
Dalam psikologi Islam, ghadab yang berarti marah, adalah kecenderungan untuk mengungguli, menyerang dan mengalahkan pihak lain. Dari ghadab melahirkan sifat ujub (bangga diri) dan takabur (sombong). Adapun syahwat adalah kecenderungan untuk menuruti segala keinginan kenikmatan sensual: makan , minum, hiburan, seks dsb.
Syahwat ini melahirkan sifat serakah dan bakhil (pelit). Adapun hawa adalah kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri (egoisme), menonjolkan sifat keakuan. Dari hawa melahirkan sifat menentang kebenaran yang datang dari Allah. Dari ghadab, syahwat dan hawa ini melahirkan sifat-sifat: Ujub, takabur, rakus, bakhil, kufur dan bid’ah.
Baca juga Gendam dan Hipnotis (2 Habis)
Jika keenam sifat itu digabungkan dan atau ada dalam kepribadian manusia, maka lahirlah dengki, yaitu sifat yang merupakan gabungan dari berbagai kejahatan. Ghadab dapat menghilangkan akal sehat. Karena itu, kita dilarang mengambil suatu keputusan disaat sedang marah, karena hampir dipastikan apa yang diputuskan itu diluar nalar sehat.
Sedangkan syahwat disebut sifat yang paling menonjol dari hawa nafsu. Ia menyebar ke seluruh berbagai organ tubuh. Syahwatnya mata, melihat. Syahwatnya telinga mendengarkan, syahwatnya hidung mencium, syahwatnya badan menyentuh dsb. Dan secara umum, tunduknya seseorang pada nafsu rendahnya, hanya menghasilkan kepuasan sesaat dan menyebabkan penderitaan dan penyelasan di kemudian hari.
Penyebab gangguan jiwa itu biang utamanya karena diturutinya nafsu-nafsu rendah. Para ahli hikmah menyebutkan, diantara sifat yang dihasilkan karena diturutinya nafsu-nafsu rendah itu sifat : Cemas, sedih, lemah, malas, pengecut, bakhil, beban (hutang) dan ditindas orang lain, karena hilangnya harga diri. Dan sifat ini dapat datang pada waktu yang singkat maupun dalam waktu yang lama.
Sifat cemas, sedih, lemah, malas, pengecut dan sebagainya itu dari pandangan rohani, adalah sifat yang menyebabkan keruhnya hati dan secara fisik dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Orang melakukan kesalahan kepada sesama manusia, mencuri misalnya, dia dihinggapi rasa cemas karena kejaran hamba hukum atau orang yang menjadi korbannya.
Dari cemas menyebabkan sifat lemah dan tertindasnya hak-hak pribadi. Diibaratkan, setiap manusia sengaja berbuat kesalahan kepada sesamanya, berarti dia membuat lobang bagi dirinya. Artinya, semakin banyak dan dalamnya lobang, semakin besar kesempatan untuk mengubur dirinya.
Dari cemas akibat dosa, memengaruhi ketenangan batin. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak. Akibatnya? Kesehatan fisik dan psikis pun terganggu. Jantung mudah berdebar, tekanan darah tidak normal, nafsu makan pun terganggu, akibatnya kesehatan fisik dan psikis pun terganggu.
Orang yang banyak melakukan kesalahan kepada sesama, atau yang tidak dapat menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, sulit baginya mendapatkan penghargaan dan ketenangan batin. Untuk terhindar dari penyakit cemas.
Para ahli hikmah mengajarkan doa yang bersumber dari Nabi SAW. “Allahumma inni a’udzu blka minal hammi wal khazani wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’udzu bika minal jubni wal bukhli wa a’udzu bika min ghalabatid- daini wa qahrir rijaali.”
Artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kebakhilan. Aku berlindung kepada-Mu dari utang yang banyak dan penindasan dari orang-orang besar.
Masruri, penulis buku praktisi metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati













