
KEKUATAN pandangan mata pada masa sekarang dikenal dengan hypnotis. Yang perlu digarisbawahi, istilah “hypnotism” dalam catatan kaki Al-Qur’an terjemah itu bukan dari arti teks Al-Qur’an, melainkan dari “catatan kaki” oleh tim penerjemah Departemen Agama Republik Indonesia.
Maksudnya untuk lebih mempermudah pemahaman arti atau tafsir dari ayat tersebut, karena di Indonesia, terutamanya pada kalangan bawah, istilah hipnotis itu sudah telanjur akrab di telinga masyarakat dari berbagai kalangan.
Baca juga Gendam dan Hipnotis – I
Fenomena semacam “hipnotis” atau disebut dengan ilmu kekuatan mata itu terdapat dalam tafsir Alquran Surat Alqalam 51: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu (Muhammad) dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Alquran …”
Berbagai Tafsir
Peristiwa itu dapat disimak dalam berbagai tafsir. Di antaranya, Tafsir Jalalain oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dalam kalimat: Dengan pandangan yang kuat, hingga hampir memingsankan dan menjatuhkan dari tempatmu, tetapi Allah menolong. Dalam tafsir Jalalain tidak disebut secara tegas istilah “hipnotis”.
Melainkan dengan kalimat : “Yang dimaksud memandang itu bukanlah pandangan kagum, melainkan pandangan tajam memancarkan kebencian yang disertai dengan kekuatan semacam sihir yang pada zaman Nabi Muhammad SAW ilmu “ketajaman mata” itu banyak dikuasai Bani As’ad.
Untuk memiliki ilmu tersebut, mereka puasa tiga hari sehingga dapat memiliki kekuatan magis hingga dapat menidurkan dan membuat hewan atau manusia menjadi kaku bahkan sampai meninggal. Tafsir Al-Munir oleh Syaikh Nawawi Al- Bantani, juga Tafsir Shawi oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Misri, juga Tafsir Mukmin oleh Syaikh Abdul Wadud – Libanon .
Menurut Syaikh Ahmad, surat ke-51 dari surat al-qalam itu oleh bani Asad memiliki dua bagian fungsi. Pada bagian awal yang berbunyi wa iy-yakadul-ladziina kafaru layuz likuunaka bi absaarihim lammaa sami ‘uz-zikra wa yaquuluuna innahuu lamajnuun, kalimat ini sering disalahgunakan untuk sarana metafisis yang merusak, yaitu praktik sihir.
Dan pada surat bagian yang akhir digunakan untuk penangkal sihir, yaitu pada kalimat: Wa maa huwa ilia zikrul lil- ‘alamiin yang artinya, dan Alquran itu tidak lain hanya peringatan bagi seluruh umat dapat digunakan sebagai penangkal sihir dengan cara dibaca sebagai doa atau ditulis dalam bentuk wifiq atau rajah.
Sebenarnya, agama itu tidak mengajarkan ilmu yang merusak seperti sihir, santet, dan sebagainya. Namun ada yang menciptakan “teknologi batin” mengambil inspirasi dari ayat-ayat dan itu selalu ada pada setiap zaman. Dalam hal ini, agama menolak sihir karena masuk kategori dosa besar.
Penggunaan istilah hipnotis dalam “catatan kaki” jika dilihat dari sisi keilmuan hipnosis modern menjadi tidak tepat karena yang dilakukan orang-orang kafir dari bani As’ad kepada Nabi Muhammad saw, praktiknya berbeda dengan hipnotis modern. Dalam tafsir dijelaskan, ilmu “kekuatan mata” itu dapat memengaruhi Nabi saat beliau sedang membaca Al-Qur’an.
Nabi sempat terpengaruh namun Tuhan menyelamatkan. Kejadian itu lebih tepat disebut dengan istilah magis, ilmu hitam, atau gendam menurut zaman sekarang. Walau kita ketahui, tidak semua jenis ilmu gendam itu beraliran hitam. Karena selain yang hitam, ada juga gendam beraliran putih, diantaranya ilmu yang dikuasai bani Asad itu memiliki banyak kersamaan dengan ilmu gendam jika dilihat dari proses belajar dan fungsinya.
Yaitu sama-sama dimulai dengan laku tradisional (puasa, membaca, dan menulis rajah atau wifiq) dan dapat diaktualisasikan ketika sasaran (subjek) dalam keadaan diam (pasif). Untuk mengetahui tentang perbedaan antara ilmu yang dikuasai bani Asad dengan hipnotis ilmiah yang banyak dipelajari khalayak umum.
Aktivasi Hipnotis
Penguasaan hipnosis diaktifkan dari melalui (puasa, baca mantra), pendekatan metafsik, teknik dan skill yang bereaksi terhadap subjek dan bereaksi terhadap target yang respons atau mau tidak fokus, yang menolak dan ingin menerima hipnosis untuk sekali, termasuk dari jarak jauh tanpa kepentingan terapi atau peningkatan melalui komunikasi verbal atau nonverbal.
Cara kerjanya lebih memanfaatkan berproses melalui “energi lembut” : sugesti verbal (saran, perintah) maupun kekuatan pikiran (mind power) dan hal sugesti nonverbal (gerakan, ekspresi), dll. yang masih diyakini sebagai supranatural. Jika mengikuti kaidah yang benar, mestinya ada perbedaan antara hipnotis dan gendam.
Namun karena buku ini lebih membahas masalah gendam, maka istilah mana yang benar itu biarlah dibahas pihak lain yang lebih memahami hipnotis modern. Saya memilih menggunakan istilah yang sudah telanjur akrab ditelinga kalangan awam, karena melalui buku ini saya “menyapa” kalangan menengah ke bawah, dengan bahasa yang mudah dipahami mereka.
Kalangan ini yang lebih penting diberi tambahan wawasan, karena merekalah yang lebih rawan berkitan penipuan bermodus gendam. Dalam sejarahnya, kata hipnotis dan hipnotisme ini dikenalkan dokter bedah Skotlandia bernama James Braid sekitar tahun 1841, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Hipnotis Modern.
Hipnotis adalah teknik memengaruhi orang lain secara sengaja agar masuk kedalam kondisi menyerupai tidur. Seseorang yang terhipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dan dapat menerima sugesti (perintah atau saran) dengan tanpa perlawanan. Teknik ini sering untuk menjelajahi alam bawah sadar hipnotis disebut sebagai western style dengan kekuatan verbal (saran atau perintah).
Sedangkan gendam disebut sebagai eastern style, termasuk hipnosis tradisional yang lebih tertumpu pada kekuatan “aku batin” seseorang. Kalau berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada perbedaan antara keilmuan dan pelakunya. Istilah hipnosis adalah kondisi mirip-mirip tidur karena sugesti atau saran. Pada taraf permulaan orang itu dibawah pengaruh yang memberikan sugesti.
Pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali. Sedangkan “hipnotis” membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis. Apa yang tertuang dalam kamus sebenarnya masih layak untuk dikoreksi, karena kondisi hipnosis yang sesungguhnya hanya sebatas beralihnya pikiran sadar (conscius mind) ke pikiran bawah sadar (subconscius mind), dan bukan amnesia secara total.
Proses kerja hipnotis dengan gendam itu berbeda. Hipnotis hanya mampu memengaruhi orang yang respons dan mau dihipnotis, misalnya untuk pertunjukan atau untuk penyembuhan (hinoterapi). Sedangkan gendam diprogram dapat memengaruhi orang yang menolak saran. HABIS
Masruri, penulis buku praktisi metafisikan tinggal di Sirahan Cluwak Pati













