blank
Perahu-perahu nelayan yang dipilih untuk membawa sesaji larungan, dihias dengan bendera Merah Putih, penjor dan umbul-umbul.(Dok.Prokopim Pacitan)

PACITAN (SUARABARU.ID) – Dalam menyambut Bulan Sura Tahun Dal 1959 (2025 M) atau Tahun Hijriah 1447, ratusan nelayan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menggelar sedekah laut. Ini mereka lakukan, untuk menjaga tradisi insan bahari dalam memaknai gaib alam semesta, khususnya yang berkuasa di lautan.

Sedekah laut, merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat pesisir, khusunya para nelayan yang matapencahariannya mencari ikan dan hasil laut. Sebagai kaum bahari, mereka menggelar sedekah laut untuk mewujudkan rasa syukur atas hasil laut yang setiap hari diambilnya.

Melalui sedekah laut ini, para nelayan menyampaikan rasa syukur dan memanjatkan doa permohonan keselamatan selama melakukan aktivitas melaut. Tradisi ini, umumnya dilakukan setiap tahun, dengan berbagai variasi upacara dan ritual sesuai dengan tata cara adat yang berlaku, termasuk menyertakan ritual melarung sesaji ke laut.

Bagian Prokopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, sedekah laut dilakukan Kamis (26/25), dipusatkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan. Lokasinya di Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan.

Dalam tradisi sedekah laut, para nelayan melakukan serangkaian prosesi larung tumpen dan sesaji. Ini sebagai bentuk tradisi menyongsong datangnya Tahun Baru 1447 Hijriah atau Tahun Baru 1959 Jawa versi Sultan Agung. Kegiatan ini, menjadi event wisata tahunan yang keberadaannya menarik masyarakat, termasuk para pelancong.

Ikut hadir dalam tradisi sedekah laut ini, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah beserta jajaran Forkopimda. Sedekah laut ini, diawali dengan doa bersama di halaman Gedung Grhatama Jaladri Unit Pelaksana Tugas PPP Tamperan.

Puji Syukur

Doa diawali dengan penyampaian puji syukur yang dirangkai dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar laut memberikan kesejahteraan kepada para nelayan. Yakni bermurah memberikan hasil jaladri, agar tangkapan yang diperoleh para nelayan, sebagai mata pencahariannya, dapat memberikan berkah kemakmuran pada kehidupannya.

Usai pemanjatan doa, kemudian dirangkai dengan prosesi larungan sesaji yang dibawa dalam palayaran perahu-perahu nelayan ke arah perairan laut selatan sebagai bagian dari Samudera Indonesia. Setelah sebelumnya, para nelayan bersama masyarakat yang berkumpul, melakukan jamuan makan bersama.

“Selain melestarikan budaya lokal, kita juga harus melestarikan laut sebagai salah satu sumber mata pencaharian,” ujar Wabup Gagarin Sumrambah saat membacakan sambutan Bupati Pacitan.

Sedekah laut ini, menurut masyarakat nelayan sebagai wujud syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan-Nya yang telah memberikan kemudahan dalam penangkapan ikan. Sekaligus sebagai pengharapan, agar semua insan bahari selalu dalam lindungan-Nya.

Prosesi sedekah laut ini, ditandai dengan iring-iringan tumpeng sedekah laut yang diangkut perahu-perahu nelayan. Acara ini, dimeriahkan dengan iringan Seni Hadrah, tarian Kethek Ogleng dan hiburan kesenian Reog Ponorogo.

Larung tumpeng yang dilakukan dalam tradisi sedekah laut ini, sekaligus menjadi pembuka acara Festival Nelayan Pacitan 2025. Yakni acara para nelayan sebagai insan laut, yang digelar rutin setiap tahun oleh nelayan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Utamanya bersamaan dengan menyambut datangnya Tahun Baru Islam Muharram 1447 Hijriyah, atau menyongsong Tanggal 1 Sura Tahun Dal 1959 Windu Sancaya (2025 M).(Bambang Pur)