blank
SD Kristen Satya Wacana mempersembahkan kethoprak anak bertajuk “Dewi Bulan”. Foto: Dok/UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Pertama di Salatiga, sejumlah siswa SD Kristen Satya Wacana mempersembahkan pertunjukkan kethoprak anak bertajuk “Dewi Bulan” di Balairung UKSW, belum lama ini.

Pertunjukan kesenian daerah ini merupakan hasil kerja sama pengabdian kepada Masyarakat (PkM) antara Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW dengan SD Kristen Satya Wacana. Diperankan siswa siswi pilihan dari kelas satu hingga enam, kolaborasi ini merupakan upaya bersama dalam merawat kesenian daerah melalui pentas kreasi anak.

Kegiatan yang berlangsung meriah ini, tak hanya dihadiri oleh para wali murid, namun diramaikan pula oleh kedatangan siswa SD Kauman Kidul dan SMP Kristen Satya Wacana.

Dekan FBS Drs. Agastya Rama Listya M.S.M., Ph.D., menyampaikan, keterlibatan FBS dalam kegiatan ini merupakan wujud upaya turut mendorong semangat toleransi melalui pertunjukan kesenian daerah. Hal ini sejalan dengan tema PkM, memupuk multikulturalisme dalam balutan kesenian jawa.

Kendati Kethoprak merupakan kesenian tradisional jawa, ia menambahkan bahwa pertunjukan ini tak hanya menggunakan bahasa Jawa, namun juga bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

“Bukan cuma satu bahasa saja yakni bahasa Jawa, tetapi juga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kegiatan ini tak lain sebagai upaya menggali kekayaan kesenian yang ada di tempat kita,” terangnya.

Direktur Sekolah Laboratorium Kristen Satya Wacana Dra. Emy Wuryani, M.Hum., berharap penyelenggaraan kegiatan ini mampu kembangkan daya kreasi anak serta tumbuhkan rasa cinta terhadap kesenian.

“Semoga pertunjukan kethoprak ini dapat mengembangkan kemampuan kreasi anak serta lebih mencintai seni tradisional,” ujarnya.

Tingginya semangat anak-anak

Kepala Sekolah SD Kristen Satya Wacana sekaligus Sutradara “Dewi Bulan” Amrih Gunarto, S.Sn., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada anak-anak yang sukses mempersembahkan penampilan.

“Mereka luar biasa, hanya berlatih selama satu bulan setengah, terbukti mampu memerankan karakter dengan baik. Dalam prosesnya pun, dengan pengarahan sedikit saja mereka sudah dapat menangkap apa yang dimaksud. Sementara tantangannya adalah pendalaman karakter, bagaimana menunjukkan sifat kebijaksanaan dan kelicikan. Dan itu betul-betul butuh pendampingan,“ ungkapnya.

Ia berharap pertunjukan tersebut mampu mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. “Secara nilai universal pesan dari cerita ini ialah kebaikan selalu mengalahkan kejahatan. Kalau untuk anak-anak merupakan upaya menanamkan sikap dan nilai moral dalam aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Dirinya merasa bangga dengan tingginya semangat kesenian anak-anak. Pertunjukan Kethoprak yang umumnya dilakoni oleh orang dewasa, nyatanya mampu diperankan oleh para siswa dengan sangat baik. Hal ini menunjukkan potensi besar untuk berkreasi, merawat, sekaligus menjaga dunia seni peran tradisional.

Melalui kegiatan ini, UKSW sekaligus menunjukkan dukungan nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 pendidikan berkualitas, yakni mendorong mutu pendidikan.

Ning S