blank
Prosesi penjamasan keris pusaka peninggalan Sunan Kudus, Kiai Chintaka. Foto:YM3SK

KUDUS (SUARABARU.ID) – Sebuah prosesi sakral kembali digelar di kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Kamis (12/6/2025). Sebilah keris pusaka bernama Kiai Cinthaka, peninggalan Sunan Kudus, menjalani ritual jamásan atau pencucian yang telah berlangsung secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Sejak pagi, suasana di tajug (pendapa kecil) Masjid Menara terasa berbeda. Kepulan asap kemenyan memenuhi udara, menciptakan atmosfer sakral dan khusyuk. Rombongan para kiai, sesepuh, serta pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus yang lebih dulu berziarah ke makam, kemudian berkumpul di lokasi tajug.

Dengan iringan lantunan shalawat, seorang sesepuh mengambil sebuah kotak dari ruang penyimpanan di atap tajug. Di dalamnya tersimpan keris Kiai Cinthaka – keris berlekuk sembilan yang diyakini berasal dari akhir masa Kerajaan Majapahit dan termasuk dalam dapur “Panimbal”, simbol dari kebijaksanaan dan kekuasaan.

Ritual jamásan keris Kiai Cinthaka dilakukan oleh KH Fakihuddin, yang kini menjabat sebagai ahli penjamasan menggantikan mendiang KH Ahmad Bashir, ulama besar Kudus.

Proses diawali dengan menyiram keris menggunakan banyu landa (air rendaman merang ketan hitam) sebanyak tiga kali. Kemudian, keris dibersihkan dengan air jeruk nipis, dan dijemur di atas sekam ketan hitam hingga kering.

Setelah selesai, keris disimpan kembali di tempat semula, disaksikan para ulama dan tokoh masyarakat dengan iringan doa dan shalawat. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Buka Luwur Sunan Kudus, sekaligus menyambut datangnya Bulan Suro (Muharram).

“Jamásan pusaka Sunan Kudus sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan,” ujar KH Arinal Haq, Ketua Panitia Buka Luwur 2025.

Tradisi jamasan ini selalu digelar pada hari Senin atau Kamis pertama setelah hari Tasyrik (tiga hari setelah Idul Adha), menandai dimulainya bulan baru dalam penanggalan Hijriyah.

Keris Kiai Cinthaka dan Kisah Magisnya

Selain keris Kiai Cinthaka, dua pusaka lain berupa tombak trisula yang berada di mihrab Masjid Menara Kudus juga ikut dijamas dalam ritual tersebut.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, keris Kiai Cinthaka memiliki keistimewaan luar biasa. Konon, keris ini pernah dipinjam oleh Keraton Surakarta untuk memadamkan kebakaran besar. Sebagai bentuk penghormatan, pihak keraton bahkan rutin mengirimkan parfum khusus bernama kophok gajah kepada Sunan Kudus setiap tahun.

Hal unik dari prosesi ini adalah sajian hidangan yang disiapkan. Menu utama berupa jajan pasar dan nasi opor ayam. Jajan pasar melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan rakyat, sementara opor ayam dikenal sebagai makanan favorit Sunan Kudus.

Ali Bustomi