blank

Oleh : Muhammad Ali Burhan

Saya sengaja menyandingkan teks hari suci Idul Adha dengan “korupsi” sebagai judul tulisan. Hal ini bukannya tanpa alasan. Saya ingin mengajak pembaca untuk kembali mengingat tentang esensi korupsi di hari yang suci menurut ummat Islam.

Selayaknya hari raya Idul Adha, kita merayakan bukan sekedar pesta bagi-bagi daging kurban, atau pentas pamer sosial ketika keluarga atau saudara kita menunaikan ibadah haji. Idul Adha adalah momen sekaligus media reflektif untuk menelaah kembali nilai-nilai spiritual dan moral yang terkandung di dalamnya.  Sebab Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan Ibadah Haji yang banyak disalahpahami sebagai puncak perjalanan spiritual ummat Islam.

Kedua momentum ini sebenarnya mengajarkan kepada  kita makna pengorbanan, keikhlasan, ketundukan kepada Tuhan, peniadaan ego, serta kepedulian kepada sesama. Ironisnya, nilai-nilai ini telah luntur dan terputus dari kehidupan sosial politik kita saat ini, terutama jika kita membaca fenomena korupsi yang telah menjadi tradisi dan standart moral tidak tertulis di kalangan sebagian  pejabat kita.

Kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai penanda Idul Adha merupakan bentuk ketaatan total kepada Allah. Dalam peristiwa ini termaktub makna ketulusan, pengorbanan, dan keberanian melepaskan kepentingan pribadi demi hakikat kebenaran sejati.

Sementara pelaksanaan Ibadah Haji menjadi simbol bahwa atribut duniawi bukan standart ketaqwaan kita, berkumpulnya jutaan manusia dengan baju ihram yang sama memiliki makna kesetaraan antar sesama dimata Sang Pencipta. Kedua peristiwa besar ini seharusnya mampu meremajakan kembali keimanan kita untuk kebersihan jiwa dari keserakahan, egoisme, dan kemunafikan.

Namun kenyataan hari ini menunjukkan adanya jurang pemisah antara nilai-nilai spiritual dari idul adha dan disisi lain, religiusitas dan praktik kehidupan sosial, terutama di ranah politik kekuasaan di semua tingkatan. Religiusitas pejabat sudah baik, terbukti adanya sarana ibadah di setiap kantor pemerintahan bahkan sampai balai desa dan semangat mereka ber-Haji dan juga ber-Qurban di moment ini sangat luar biasa.

Spiritualitas  yang dangkal menjadi penyebab mereka gagap menyambungkan antara religiusitas, moral etik, dan spiritualitas itu sendiri. Ibadah yang dijalankan ada yang hanya formalitas sosial dan penanda bahwa mereka masih beriman.

“Korupsi adalah perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh siapapun dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan” ini adalah korupsi menurut UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam bentuk nyata yang mudah dipahami adalah penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Secara moral etik artinya pengingkaran terhadap prinsip keadilan dan kejujuran. Korupsi tumbuh dari nafsu memperkaya diri dan mempertahankan kekuasaan yang akhirnya memanipulasi sistem untuk kepentingannya.

Ketika korupsi telah menjadi budaya, maka itu pertanda bahwa nilai-nilai Ibadah Haji dan Qurban kehilangan makna dan putus dari esensinya. Spirit pengorbanan dan mengendalikan ego telah kalah oleh mental-mental mengambil keuntungan pribadi. Padahal, dalam semangat Idul Adha, justru yang dikorbankan adalah ego pribadi, bukan integritas; yang dibagikan adalah daging qurban, bukan pencitraan; yang ditinggikan adalah nilai-nilai spiritualitas, bukan religiusitas.

Kita sebagai masyarakat sering dibuat bingung dengan fenomena ini. Para pelaku korupsi ini sebagian adalah pejabat yang religius, artinya menjalankan ibadah dengan normal, bahkan tekun. Akibatnya, timbul ilusi di masyarakat bahwa agama tidak ada hubungannya dengan moralitas.

Padahal kita diajarkan bahwa agama adalah ajaran luhur yang menuntut tanggungjawab manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya. Etika sosial dan etika ke-Tuhan-an adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Oleh karena itu, Idul Adha dan Ibadah Haji seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan ruh spiritual demi terjaganya moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat dan totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim selayaknya menjadi nilai yang menginternal ke sanubari para pemimpin kita, yakni demi keadilan sosial, seseorang harus berani menolak segala bentuk penghianatan terhadap rakyat. Idul Adha harus mampu menumbuhkan spirit perlawanan bersama terhadap korupsi. Wallahu a’lam

Penulis adalah Sekretaris MWC NU Bangsri dan aktif di PC Lesbumi NU Jepara