WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Warga masyarakat Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, menggelar ritual ngreksa bumi. Ini dilakukan, sebagai bagian dari tradisi Suran (Bulan Sura) Tahun Be 1960 Kurup Asopon, Windu Sancaya, bersamaan Bulan Muharram 1948 H.
.
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, acara tersebut dihadiri langsung Bupati Setyo Sukarno bersama Wakil Bupati Imron Rizkyarno. Juga hadir sejumlah pejabat terkait dan para tokoh masyarakat, dengan mengenakan busana Kejawen.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, secara resmi berkenan membuka rangkaian acara ritual ngreksa bumi, ini ditandai dengan pengguntingan pita. Tradisi ngreksa bumi, adalah upacara adat masyarakat dalam melaksanakan sedekah hasil bumi dalam tradisi bersih desa. Ini rutin diselenggarakan oleh warga Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan hasil bumi.
Rangkaian ritual ini, diawali dengan prosesi kirab budaya. Juga dimeriahkan pertunjukan kesenian tradisional, menyertakan kenduri selamatan massal yang melibatkan warga masyarakat setempat. Dalam prosesi kirab ngreksa bumi, ikut diusung gunungan yang terbuat dari beragam hasil cocok tanam para petani. Yakni untaian padi, sayur mayur, umbi-umbian, buah-buahan yang merupakan hasil panenan kaum agraris setempat.
“Kami berharap, acara ini dapat berkembang menjadi atraksi wisata budaya, yang mampu mengangkat potensi adat, budaya, pertanian, dan pariwisata Desa Conto,” kata Bupati Wonogiri Setyo Sukarno saat memberikan sambutan di awal acara.
Kata Bupati, dengan dukungan promosi melalui media sosial (Medsos) maupun dengan cara gethok tular dari mulut ke mulut, potensi desa ini diharapkan semakin dikenal luas. Yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat.
Mbah Sadiman
Bupati Setyo Sukarno, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Conto, yang bersama para tokoh masyarakat, para sesepuh dan generasi muda, telah menyelenggarakan ritual ngreksa bumi. Ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME),. dan sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya adiluhung nenek moyang.

Semoga ritual ini, mampu mengharumkan nama Desa Conto di Kecamatan Bulukerto dan Kabupaten Wonogiri. Yang mampu membawa masyarakat menuju kehidupan yang aman, tenteram dan sejahtera.
Menurut Bupati, ritual ngreksa bumi memiliki makna penting. Ini dilaksanakan, sebagai sarana menjaga warisan budaya dari leluhur. Yang sekaligus mengingatkan masyarakat, akan pentingnya menjaga pelestarian lingkungan, melalui berbagai upaya konservasi tanah dan hutan. Ini memiliki nilai yang patut dibanggakan, di tengah derasnya arus perkembangan zaman.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Setyo Sukarno juga mengapresiasi keteladanan Mbah (Kakek) Sadiman. Yakni salah seorang tokoh masyarakat Desa Conto, yang menjadi tokoh nasional dalam kiat melestarikan alam.
Pemerintah pusat pada Tahun 2016 memberikan penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan kepada Mbah Sadiman. Ini berkait erat atas dedikasinya yang tanpa pamrih telah merehabilitasi ratusan hektare (Ha) lahan kritis demi menyelamatkan sumber mata air di kawasan hutan lereng selatan Gunung Lawu.
Kalpataru, menjadi menjadi lambang supremasi pelestarian alam tingkat nasional di Tanah Air. Hal itu berkait erat dengan kegigihan dan keberhasilan perjuangannya, dalam menghijaukan hutan lereng Lawu Selatan. Yakni untuk tujuan menjaga kelestarian alam dan sumber mata air demi menjaga agar warga masyarakat tercukupi kebutuhan airnya.(Bambang Pur)













