blank
Doktor Dewi Kartika Sari, saat memaparkan terkait jurnal internasional. Foto: dok/usm

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Penelitian yang dilakukan di tingkat lokal, tetap bisa menembus jurnal internasional. Hal itu seperti dijelaskan dosen Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Semarang (USM), Dr Yulianto Budi Setiawan.

Dia menyampaikan paparannyaitu, dalam kegiatan Academic Writing Penulisan Artikel Ilmiah: Penguatan Kapasitas Akademik Menuju Publikasi pada Jurnal Bereputasi, di Ruang Teleconference, USM, pada Rabu (8/7/2026).

”Sekalipun kita melakukan riset di tingkat lokal, namun bisa juga menembus jurnal internasional. Untuk menembus jurnal internasional, perlu mengambil sudut pandang internasional, misalnya dengan melihat perbandingan dengan negara-negara lain,” kata dia dalam kegiatan yang digelar Prodi Ilkom, Fakultas Teknologi dan Ilmu Komunikasi, USM.

BACA JUGA: 823 Mahasiswa USM Lakukan KKN-PPM Tematik di Kabupaten Kendal

Dalam penjelasannya, Yulianto menyebutkan, sejumlah jurnal memperbolehkan penggunaan Artificial Intelligence (AI), dalam penulisan artikel. Tetapi ada batasan-batasan yang harus dipatuhi, selain itu ada statement pengunaan AI.

”AI bisa digunakan untuk persiapan, hanya membantu saja, dan bukan sebagai penulis. Selain itu, harus ada pernyataan tertulisan tentang penggunaan AI,” jelasnya.

Hal senada juga dijelaskan pembicara lain, Dr Dewi Kartika Sari dari UKSW. Dia yang menyampaikan materi ‘Strategi Publikasi di Jurnal Nasional dan Internasional Terindeks’ itu, juga menyinggung penelitian lokal yang bisa diolah sehingga menjadi persoalan public global.

BACA JUGA: Fakultas Ekonomi USM Gandeng PT Jordan Citra Niaga

”Saat ini ada banyak penelitian tentang riset-riset global south. Kita bisa menambahkan aspek-aspek ini, sehingga penelitian yang dilakukan akan memiliki relevansi di dunia global,” ujar Dewi, yang juga merupakan reviewer dari sejumlah jurnal internasional.

Lebih lanjut dia juga menjelaskan tentang penggunaan bigdata, dalam penelitian sosial. Dia juga menjelaskan teknik crawling data dari media sosial, untuk riset dan tools yang digunakan.

Menurut Dewi, penggunaan AI diperbolehkan pada sejumlah jurnal, dengan sejumlah ketentuan dan batasan. Tetapi yang jelas, AI bukan sebagai penulis pada artikel itu.

Riyan