blank
Ilustrasi perkembangan produksi beras Indonesia 2023-2025. Foto: Dok/Tri K

Oleh: Tri Karjono

UNTUK mendukung terwujudnya swasembada pangan, program pertama dari tujuh program prioritas kementerian pertanian yang disampaikan menteri pertanian pada awal jabatannya adalah peningkatan produksi padi. Ditargetkan produksi beras tahun 2025 ini mencapai 32,83 juta ton dari 30,62 juta ton di tahun 2024 (naik 7,22 persen) dan dari 31,10 juta ton di tahun 2023.

Target ini diharapkan akan dicapai dengan upaya pelaksanaan program prioritas yang lain. Yaitu optimalisasi lahan 350 ribu hektare yang utamanya berlokasi di Papua, Kalimantan dan Sumatera. Kemudian cetak sawah 750 ribu hektar sebagai kelanjutan dari cetak sawah satu juta hektar pada tahun 2024 di wilayah yang sama.

Berikutnya adalah penyiapan benih unggul yang diharapkan menyasar 5 ribu hektar sawah, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) prapanen sebanyak 1,14 juta unit, pupuk bersubsidi 9,03 juta ton serta pengembangan pertanian modern melalui peningkatan kompetensi petani lebih dari 65 ribu orang.

Tentu saja optimasilasi dan pencetakan sawah secara nyata dan cepat mampu meningkatkan produksi karena jelas akan memperbesar luas tanam dan luas panen sekaligus total produksinya. Dan peningkatan akan berlipat ketika dapat dioptimalkan menjadi berkali panen dalam setahun.

Demikian pula dengan kebijakan pupuk, maka ketika pupuk dapat dengan mudah dan murah dijangkau oleh petani serta penyediaan alat pertanian akan memberi dorongan petani untuk lebih bersemangat bertanam. Karena jelas akan menjadi jaminan menekan cost dan meningkatkan margin usahanya.

Sedangkan penyiapan benih unggul dan pengembangan pertanian modern mungkin akan perlu waktu untuk berpengaruh secara signifikan dalam waktu dekat. Karena diperlukan ujicoba dan kepastian keberhasilannya untuk meyakinkan bahwa benih unggul dan pertanian modern berdampak nyata pada peningkatan produksi.

Dampak Iklim

Namun perlu diingat, seringkali upaya yang telah direncanakan melalui program diatas pada prakteknya tidak sesuai bahkan jauh dari hitungan matematis. Cuaca atau iklim menjadi salah satu kendala diantara beberapa kendala yang lain, seperti hama dan penyakit.

Perubahan iklim membawa tantangan besar bagi sektor pertanian secara umum, tak terkecuali pada pertanian tanaman padi. Apalagi sebagai negara agraris jelas tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim sangat besar. Pada usaha tanam padi, curah hujan dan suhu menjadi sangat penting.

Pola curah hujan yang tidak menentu mengakibatkan musim hujan yang lebih panjang atau justru musim kemarau yang lebih panjang. Hujan dan kemarau normal, hujan yang ekstrim, kemarau yang ekstrim atau kemarau yang basah. Dampaknya petani sulit menentukan waktu tanam yang tepat sehingga mengakibatkan gagal panen. Kemarau ektrim seringkali mengakibatkan puso, gagal panen. Curah hujan yang tinggi seringkali mengakibatkan tergenangnya tanaman, alhasil tanaman menjadi rusak.