blank
Ilustrasi perkembangan produksi beras Indonesia 2023-2025. Foto: Dok/Tri K

Musim hujan yang panjang juga berakibat pada tergerusnya unsur hara terbawa oleh air. Daya dukung lahan pertanian menjadi berkurang akibat kualitas tanah yang berkurang. Alhasil kelangsungan produktivitas terganggu.

Kejadian ekstrim oleh perubahan iklim yang tidak menentu seperti banjir dan kekeringan. Banyak terjadi di berbagai tempat ketika kedua kondisi ini berlangsung menyebabkan gagal panen. Program dan Upaya yang sudah berjalan akan menjadi sia-sia ketika ini terjadi.

Perubahan iklim juga akan memengaruhi siklus hidup dan populasi organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti hama dan penyakit tanaman padi. Pada kondisi cuaca yang berubah-ubah, serangan hama wereng coklat, penggerek batang, serta penyakit seperti tungro dan blas cenderung meningkat. (IPB, Digitani, 2024).

Pada penelitian yang dilakukan Eka Maulidina Pramasani, 2018, menemukan bahwa kondisi iklim dalam hal ini curah hujan, suhu, lama penyinaran, dan kelembaban udara mempengaruhi 28% pada keberhasilan usaha pertanian padi. Sementara 72 persen dipengaruhi oleh Teknik budidaya yaitu varietas, irigasi, sistem tanam, jarak tanam, dan pemupukan. Tentu saja jika hal ini dalam kondisi yang normal. Namun ketika iklim tidak mampu terprediksi dengan baik oleh petani jelas akan menjadi fatal akibatnya.

Kemarau 2025

Namun secara detail sesuai sifatnya iklim yang mudah berubah sepertinya tidak mudah pula untuk diprediksi. Pada 14/4 (Detik.edu) dan 4/5 (CNN Indonesia) yang lalu BMKG memprediksi secara bertahap kemarau dimulai pada pertengahan bulan April sampai September dengan sifat kemarau mayoritas (60 persen) normal. Puncak kemarau terjadi pada Juni-Agustus 2025.

Wilayah Jawa bagian tengah hingga timur yang diketahui sebagai sentra padi nasional, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku akan terdampak dan diperkirakan mengalami puncak kekeringan pada Agustus 2025.

Di waktu berikut, beberapa hari yang lalu BMKG mencatat prediksi kondisi iklim yang sedikit berbeda. Bahwa fenomena kemarau basah kembali muncul dan berpotensi berlangsung hingga Agustus 2025. Yaitu musim kemarau tetapi curah hujan di atas 100 milimeter. Meliputi 56,54 persen wilayah Indonesia di bulan Juni, meluas 75 persen di Juli, 84,94 persen di Agustus. Wilayah tersebut adalah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Jawa yang merupakan lumbung padi kembali disebut dalam kondisi yang sedikit berbeda (CNN Indonesia, 23/5).

Namun secara umum dan konsisten diprediksi oleh BMKG, kemarau di tahun 2025 akan lebih pendek dibanding dengan yang terjadi di tahun 2024. Jika ini benar dan ditambah kebenaran terjadinya fenomena kemarau basah maka akan menambah keyakinan target Kementerian Pertanian.

Catatan BPS

Dalam rilis awal bulan Mei 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa total produksi beras sementara pada bulan Januari–Juni 2025 diperkirakan sekitar 18,76 juta ton beras, atau mengalami peningkatan sebanyak 1,89 juta ton beras (11,17 persen) dibandingkan produksi beras pada bulan Januari–Juni 2024 yang sebanyak 16,88 juta ton beras. Dimana cuaca tahun 2024 disebutkan BMKG sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah.