JEPARA (SUARABARU.ID) – Gerakan literasi di Jawa Tengah kembali menunjukkan denyutnya. Sebanyak 25 pegiat literasi dari berbagai kabupaten dan kota resmi lolos sebagai Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Tahun 2026 yang ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 98 Tahun 2026.
Penetapan ini menjadi bukti bahwa kerja-kerja literasi berbasis komunitas di Jawa Tengah terus berkembang dan mendapat perhatian di tingkat nasional. RELIMA sendiri merupakan program yang dirancang untuk memperkuat budaya baca, pendampingan perpustakaan desa dan TBM, serta membangun jejaring kolaborasi literasi di tengah masyarakat.
Menariknya, para relawan yang lolos tidak hanya berasal dari kota besar, tetapi juga dari daerah-daerah yang selama ini aktif menghidupkan ruang belajar warga secara mandiri. Dari Kabupaten Batang terdapat Aqila Lutfika Hilwa Gusnalia, sementara Blora diwakili Ramadhan Ega Saputra. Boyolali meloloskan dua nama, Desi Ela Putri Anggraini dan Lilik Kurniawan. Dari Brebes terdapat Badiatul Chusnia, sedangkan Demak diwakili Muhammad Nasir. Kabupaten Jepara turut menyumbangkan nama Muhammad Hasan dalam daftar relawan terpilih tingkat nasional.
Daftar itu berlanjut dengan Erawati Wijaya Sakti dari Karanganyar, Shofi Asfika dan Surati dari Kendal, Eka Fitriyana Sari dari Kudus, serta Anis Nurul Ngadzimah dari Magelang. Kabupaten Pati diwakili Noor Ayu Chandra Juwita, sementara Kabupaten Pekalongan meloloskan Bayu Taufani Haryanto dan Jauhara Zainun Farah. Dari Pemalang terdapat Lilis Umi Nur Rahmawati, sedangkan Purbalingga diwakili Parimin.
Sementara itu, Kabupaten Semarang diwakili Sapta Suci, Sragen oleh Muhammad Ilham Sofyan, Sukoharjo oleh Novelia Citraresmi, Wonogiri oleh Miswanto, dan Wonosobo oleh Almayna Benefitrisqi Chotimajati. Dari wilayah perkotaan terdapat Mailis Saidah dari Kota Pekalongan, Reny Irawati dari Kota Salatiga, serta Dedy Iswanto dari Kota Tegal.
Keberhasilan para relawan ini menunjukkan bahwa gerakan literasi di Jawa Tengah tidak hanya hidup di ruang formal, tetapi juga tumbuh melalui inisiatif warga, komunitas membaca, ruang budaya, hingga taman bacaan masyarakat yang dibangun dengan semangat gotong royong.
Ke depan, para RELIMA akan bertugas melakukan pendampingan, advokasi, penguatan jejaring, hingga mendukung pengembangan program literasi masyarakat di daerah masing-masing.
Di tengah tantangan rendahnya budaya baca dan derasnya arus informasi digital, hadirnya relawan-relawan ini menjadi harapan baru bagi lahirnya ekosistem literasi yang lebih dekat, membumi, dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Hadepe – Den Hasan













