Oleh Lanny Ilyas Wijayanti
PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2025 lalu, menjadi momentum bersejarah ketika Presiden Prabowo Subianto meresmikan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di SDN 5 Cimahpar, Bogor.
Empat kebijakan strategis yang diluncurkan—perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, digitalisasi pembelajaran, pemberian insentif untuk guru non-ASN, serta bantuan biaya pendidikan bagi guru belum S1/D4—bukan hanya program biasa, melainkan titik tolak dari transformasi pendidikan terpadu yang menjawab akar persoalan mendalam dan kompleks di sistem pendidikan kita.
Transformasi pendidikan tidak cukup dengan langkah-langkah kosmetik atau reaktif. Yang kita perlukan adalah lompatan sistemik yang melibatkan perubahan paradigma, struktur, dan kultur pendidikan secara bersamaan. Dan inilah yang menjadi inti dari pendekatan PHTC: membenahi infrastruktur, memperkuat digitalisasi, meningkatkan kualitas pendidik, sekaligus mengarusutamakan kolaborasi lintas sektor.
Tantangan Fundamental
Meskipun Indonesia mengalami kenaikan peringkat dalam survei PISA 2022, kualitas literasi siswa tetap memprihatinkan. Skor kemampuan membaca, matematika, dan sains masih berada di bawah rata-rata OECD.
Ironisnya, di tengah rendahnya minat baca, media sosial justru menjadi ruang konsumsi utama anak-anak, seperti ditunjukkan oleh temuan Dinas Pendidikan Buleleng, Bali, yang melaporkan banyak siswa SMP belum lancar membaca namun aktif berselancar di dunia maya.
Tantangan ini tidak berdiri sendiri. Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK tahun 2024 menunjukkan indeks integritas pendidikan hanya berada pada angka 69,50—masuk dalam kategori korektif. Ini mencerminkan masih kuatnya praktik tidak etis, ketimpangan alokasi sumber daya, hingga lemahnya akuntabilitas.













