blank
Carlo Ancelotti. Foto: dok/official website

blankOleh: Amir Machmud NS

// seperti tak henti mencari/ atas nama trofi/ dengan sentuhan yang cocok dan mengerti/ dari kedalaman negeri/ hingga akhirnya/ ke negeri yang beda filosofi//
(Sajak “Sepak Bola Brazil”, 2025)

KEPUTUSAN Konfederasi Sepak Bola Brazil (CBF) menjadi gambaran, betapa tidak mudah menemukan sosok yang tepat untuk memoles tim nasionalnya. Walaupun sudah menjadi gagasan lama, memilih Carlo Ancelotti yang notabene berasal dari kutub berbeda filosofi sepak bola, tetap merupakan langkah yang boleh dibilang eksperimental.

Presiden CBF Ednaldo Rodrigues belum lama ini mengumumkan, Ancelotti akan langsung bekerja setelah selesainya Liga Spanyol 2024-2025. Don Carlo menjadi pelatih asing kedua yang memimpin Selecao setelah Filipo Nunez dari Argentina pada 1965. Dia dikontrak hingga Piala Dunia 2026, dengan target meraih juara kali yang keenam setelah 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.

Bagi Don Carlo, ini menjadi pengalaman pertama melatih timnas sejak menjadi asisten Arrigo Sacchi di Timnas Italia pada 1992-1995. Sedangkan bagi CBF, memilih pria 65 tahun itu lebih dari sekadar langkah strategis. Menurut Ednaldo, keputusan ini merupakan deklarasi bahwa Brazil bertekad merebut kembali tempat tertinggi.

Presiden CBF menilai Ancelotti sebagai pelatih terhebat dalam sejarah, yang dipilih untuk memimpin tim nasional terhebat. “Bersama-sama, kami akan menulis babak baru yang gemilang dalam sepak bola Brazil,” ungkapnya.

Don Carlo yang menggantikan Dorival Junior akan mulai bekerja pada 26 Mei mendatang, sehari setelah Madrid menghadapi Real Sociedad di pertandingan terakhir La Liga. Dia akan mempersiapkan Vinicius Junior dkk menghadapi Ekuador dan Paraguay pada 6 dan 11 Juni. Terakhir, Dorival memimpin Selecao melawan Argentina dan kalah 1-4.

Rencana Lama
CBF sudah lama berencana merekrut Ancelotti, namun sang pelatih saat itu belum tertarik, bahkan memperpanjang kontrak dengan Madrid hingga Juni 2026.

Dalam BOLA-BOLA suarabaru.id edisi 1 Juli 2023, saya menulis kolom Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca.

Ada tiga kata kunci dalam judul tersebut. “Tanah Suci Sepak Bola”, butuh sentuhan, dan “ulama” manca.

Seperti sepotong puisi ini, // tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda//
(Sajak “Brazil”, 2023)

Dan, berlebihankah menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”?

Dalam kolom itu saya menulis: Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Para seniman sepak bola dengan kemampuan artistik dan teknik aneh-aneh menyatu dengan daya hidup, ekspresi naluriah, dan kultur karnaval yang penuh gairah.

Di sana lahir “pujangga-pujangga sepak bola” yang tak ada duanya. Dari Pele, Garrincha, Jair, Rivelino, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Kaka, hingga Neymar Junior. Brazil menjadi kutub tersendiri di antara pusat-pusat peradaban sepak bola seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Argentina.

Dengan segala kebesaran itu, kesan apakah yang Anda rasakan ketika CBF kesengsem mendatangkan Carlo Ancelotti, “ulama sepak bola” dari Italia, kutub yang notabene secara ideologis dan gaya bermain menggambarkan paradoksa dengan Brazil?

Sebegitu gentingkah kondisinya, sehingga CBF membutuhkan sentuhan dari tokoh yang dalam “spiritualitas taktik” dan kultural sejatinya berbeda?

Pelatih genius Manchester City, Pep Guardiola pernah masuk radar incaran untuk menyegarkan manajemen Selecao. Juga legenda Real Madrid, Zinedine Zidane. Langkah memboyong Don Carlo diseriusi lewat berbagai pintu pendekatan.

Neymar Junior, misalnya, membentuk opini untuk meyakinkan kepada Ancelotti tentang kehendak perubahan sepak bola negerinya. Ricardo Kaka, yang pernah diasuh oleh Don Carlo di AC Milan disebut-sebut pernah menjadi utusan khusus CBF untuk merayu eks mentornya itu. Legenda Ronado Nazario juga diberitakan menghubungi Don Carlo untuk missi tersebut.

CBF berargumen dengan rasionalitas, bahwa Ancelotti membuktikan mampu mengeksplorasi talenta-talenta Negeri Samba yang bermain untuk Real Madrid, yakni Vinicius Junior, Rodrygo Goes, dan Endrick.

Dalam penilaian Ednalno, banyak pemain yang menyukai Don Carlo. Mereka yang dilatih menceritakan, Ancelotti adalah sosok ideal, sementara yang lain menyatakan ingin dilatih karena dia adalah orang yang tepat. Presiden CBF pun percaya, Ancelotti merupakan figur yang sempurna untuk Selecao.

Kultural
Sejarah sepak bola di negeri lima kali juara dunia itu mencatat, tak mudah mendapat kepercayaan sebagai pelatih. Selain reputasi, juga keberanian mental untuk menjadi “santapan” media. Mindset publik tergambar dari tuntutan “hanya mau copa, hanya mau Piala Dunia”.

Siapa pun dia, sosok pelatih selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Setia pada pakem kultural jogo bonito, atau mencoba mengusung cara bermain yang pragmatis. Sepak bola Negeri Samba itu kental dengan kultur jeitinho, yakni transformasi sikap keseharian yang “tidak tahu apa yang akan dilakukan kemudian”, bergerak lebih menuruti naluri. Dan, ketika naluri seni artistik lebih larut dalam sikap bersepak bola, yang mengemuka adalah pikiran “untuk apa menang, kalau dengan cara yang biasa-biasa saja?”.

Dalam catatan, pelatih yang sukses memadukan pragmatisme dengan keindahan irama tarian samba adalah Carlos Alberto Perreira yang menjuarai Piala Dunia 1994, dan Felipe Luis Scolari arsitek tim 2002. Keduanya belajar dari kegagalan Sebastiao Lazaroni di Piala Dunia 1990 ketika memilih jalur pragmatis secara total. Sedangkan Tele Santana, yang diakui sebagai ideolog sepak bola indah, gagal pada 1982 dan 1986 walaupun Brazil dengan Zico, Socrates, dan Falcao dikenang sebagai “tim paling artistik sepanjang masa”.

Tite sebenarnya bersikap seperti Big Phil, namun keseimbangan yang dia usung di Rusia 2018 dan Qatar 2022 tak membuahkan trofi. Dia lalu digantikan sementara oleh Ramon Menezes, sebelum CBF resmi menunjuk Dorival Junior yang kemudian juga dianggap gagal.

Kini, mendatangkan Carlo Ancelotti, “orang luar” sebagai pilihan yang dianggap paling tepat, walaupun tentu bernuansa spekulasi, baik bagi Brazil sendiri maupun bagi Don Carlo. Bagaimanapun, di tengah arus global sepak bola, CBF dihadapkan pada kontroversi, sama seperti ketika Inggris mendatangkan Sven Goran-Eriksson (Swedia), lalu Fabio Capello (Italia), dan kini Thomas Tuchel (Jerman) untuk mengarsiteki tim nasional Tiga Singa.

Ide ini adalah eksperimen besar bagi Brazil. Ketika para “ulama sepak bolanya” gagal memberi sentuhan yang menghasilkan trofi dunia, Don Carlo menjadi jalan tengah. Bagi Don Carlo sendiri, ”ajaran” yang sukses dia terapkan untuk Parma, AS Roma, AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid tentu harus diadaptasikan dengan transformasi kultur dan ideologi yang sama sekali berbeda. Yang menjadi modal adalah talenta sepak bola yang tak pernah kering di negeri ini.

Ancelotti tumbuh dan besar dalam pemahaman filosofi catenaccio Italia, lalu berkembang dengan pendekatan permainan yang dia bangun di klub-klub Italia, dan berbeda pula dasar-dasar yang dia terapkan untuk Chelsea dan Real Madrid.

Menarik untuk menunggu, seperti apa Tim Samba Brazil dalam sentuhan Don Carlo nanti? Bagaimana aplikasi transformatif legenda Italia yang telah bertualang di banyak klub ini, beradaptasi dengan sepak bola Brazil yang sarat dengan seni “pengucapan jiwa”?

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah