BANDUNG (SUARABARU.ID) – Seni Cowong Bolosewu Kebumen tampil memukai sekaligus memeriahkan perhelatan budaya tahunan pada Minggu (11/5) di Kabupaten Bandung.
Acara budaya bertajuk Ruwat Bumi yang mengambil tema ”Mari Kita Bersinergi dengan Alam untuk Menjaga Keseimbangan” itu berlangsung secara maraton sejak pagi sekitar 08.00 WIB sampai 22.00 WIB.
Kegiatan budaya itu sukses dilaksanakan di Jalan Bukit Pakar Timur No.28 RT 04 RW 12 Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ruwat Bumi dihadiri Wakapolrestabes Bandung AKBP Dedi Wahyudi, serta Kapolsek Cimenyan Kompol Deni Rusnandar.
Hadir pula Pemilik Padepokan Parukuyan sekaligus Ketua FKN Jawa Barat (Jabar) Bah Yon Suparman, Ketua Umum FKN Pusat Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim, Perwakilan FKN Pusat Syafrial, Abah Yusuf (sesepuh Jabar), Ki Daus (Budayawan Jabar).
Beberapa Perwakilan Budayawan Nusantara juga hadir. Dari Kebumen hadir Grup Kesenian Cowong Bolosewu yang dipimpin oleh Jana Kabumian dan Wiji Winaras.
Yang menarik, selama acara berlangsung meriah namun tetap hikmat dan nuansa mistisnya sangat terasa. Dimulai pada pagi hari menyambut tamu dikemas dengan tradisi ritual “Mapag Tamu” yang sangat unik dan menarik.

Dilanjutkan dengan hiburan penampilan Kesenian dari belasan perwakilan Nusantara. Selain dari Jabar, hadir pula dari Banten, Betawi, Padang, Papua, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi. Termasuk tamu dari Manca Negara, utamanya Inggris dan Belanda.
Dari Jawa Tengah menampilkan Tari Arjuna dan Cakilan (Solo), Seni Cowong Bolosewu (Kebumen).
“Seni Cowong dari Kebumen sangat memukau penonton karena unik dan terkesan magis. Kami baru pertama melihat kesenian ini,”komentar pembawa acara usai kesenian dari Kebumen itu ditampilkan.
“Kami tidak tahu bagaimana boneka cowong tersebut bisa terbang, dan bergerak-gerak sendiri. Jika ini lomba mungkin ini juaranya,”puji pembawa acara, sambil meminta applaus penonton.
Malam harinya baru dilaksanakan acara inti, yaitu Ruwatan. Pada acara itu diisi dengan pembacaan mantra dan doa dari berbagai unsur agama dan kepercayaan.
Acara di Pendopo Padepokan Parukuyan itu terasa sangat sakral. Hanya diterangi dengan cahaya lilin, semua lampu listrik dimatikan. Peserta ruwatan itu pun puas sebelum akhirnya pulang ke daerah masing-masing.
Komper Wardopo













